Minggu, 13 Maret 2011

H. SUKRISYADI, S.Pd - Penilik PLS UPT Disdikpora kec Subah

“BALI NDESO, MBANGUN NDESO”
MENGHADIRKAN KEMBALI PERMAINAN EGRANG

Orang Jawa mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, seperti gobak so door, togli dan lain sebagainya yang sekarang tidak lagi ditemukan,. Padahal, berbagai macam permainan tradisional tersebut memberi ruang ketrampilan bagi pemakainya. Dalam kata lain, permainan tradisional Jawa tidak menempatkan relasinya hanya menjadi pasif. Lebih dari itu harus menjadi aktif dan kreatif. Sebab, permainan tradisional Jawa memberikan rangsangan kreatif bagi relasinya, salah satunya adalah egrang.

Menurut H. Sukrisyadi, S.Pd selaku Penilik PLS UPT Disdikpora kecamatan Subah, ketika dijumpai dikediamannya beberapa waktu lalu mengatakan, kendati bisa menjadikan motorik kreatifitas bagi pemakainya, namun untuk mengadakan permainan ini tidaklah membutuhkan biaya yang mahal, hanya berkisar 5000 hingga 15.000 rupiah.

“Bahan yang dipakai untuk membuat egrang adalah bambu, yang dibuat meyerupai tangga, tetapi tangganya hanya satu. Permainan ini memberikan daya rangsang untuk selalu kreatif. Karena itu, orang yang memakai egrang perlu melewati proses belajar dulu, karena membutuhkan keseimbangan. Kapan keseimbangan tidak terpenuhi, si pemakai akan jatuh dari egrang dan siapapun bisa menggunakan egrang, tidak harus anak-anak, orang dewasapun bisa menggunakannya”, jelasnya.

Dijelaskan pria kelahiran Batang, 2 Juni 1963 ini, ketika orang memakai egrang kakinya dinaikan di atas satu tangga, atau pustep kalau meminjam istilah sepeda motor, untuk kemudian berjalan. Jadi, pemakai egrang naik diatas bambu yang dibuat sebagai jenis mainan dan kemudian berjalan kaki, mengandaikan pemakai atau relasinya lebih tinggi posisinya diluar ukuran tinggi manusia.

“Egrang bentuknya bisa pendek, tetapi bisa pula tinggi. Yang pasti, kapan orang bermain egrang, posisi tubuhnya menjadi jauh lebih tinggi dari tubuh yang sebenarnya. Persis seperti orang berdiri di tangga, atau naik di atas meja”, jelasnya.

Dikhawatirkan H. Sukrisyadi yang juga Pengurus PGRI Kabupaten Batang Kabid Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan ini, bahwa permainan egrang sekarang tidak lagi mudah ditemukan. Mungkin malah sudah hilang. Atau barangkali, permainan egrang tidak lagi relevan di jaman sekarang. Beberapa permainan tersebut sekarang telah hilang dari hadapan anak-anak serta adik-adik kita. Permainan tersebut telah digantikan dengan berbagai permainan modern yang mengandalkan media elektronik seperti televisi, Play station, video game dan lain-lain yang kurang menimbulkan kreatifitas bagi anak-anak, biaya yang mahal serta minimnya jiwa sosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya dan ditambah dengan terbiasanya anak-anak kita dengan eskalator yang tersedia di mall, yang hanya berdiri di atas tangga yang kemudian bisa berjalan sendiri. Egrang sepertinya memberikan “rasa susah” dari fasilitas teknologi.

“Tampaknya, proses membentuk kreativitas telah menemukan formula yang sama sekali lain. Tidak berawal dari kesadaran dan inisiatif dari dirinya sendiri dan hanya sedikit sekali memerlukan dorongan dari luar seperti egrang. Kreativitas jaman sekarang memerlukan instrumen yang tidak lagi sederhana dan, sulit meninggalkan teknologi. Karena itu, egrang adalah masa lalu yang sekedar untuk dikenang dan sulit untuk ditemukan. Anak-anak tidak lagi “mengenal” apa itu egrang dan bagaimana bentuknya. Bagaimana pula cara memakainya”, paparnya.

Menurut Direktur Utama CV. Surya Pustaka Subah ini, bahwa untuk mengenalkan kembali dan menggugah ingatan terhadap permainan tradisional Jawa, egrang dan jenis permainan tradisional lainnya perlu untuk kembali dihadirkan. Bukan yang utama untuk mengembalikan “kisah masa lalu”. Namun lebih untuk memberikan referensi kultural pada anak-anak sekarang yang terbiasa dengan permainan yang serba teknologis.
“Permainan egrang saat sekarang sudah mulai kita tinggalkan. Beberapa permainan lain seperti, betik, gobak so door, togli dan lainnya, saat sekarang mungkin sudah punah di tempat kita, kecuali egrang masih ada satu atau dua yang masih tampak. Dari egrang, barangkali orang bisa menelusuri jenis permainan tradisional Jawa lainnya yang sekarang sekedar sebagai kenangan. Hal ini saya kaitkan dengan motto dan program dari Gubernur Jawa Tengah, yakni Bali Ndeso Mbangun Ndeso, untuk tetap memajukan serta melestarikan budaya daerah”, usulnya.

Dikenang Suami dari Hj. Sri Nugraeni, S.Pd ini, bahwa beberapa permainan tradisional yang dulu dimainkannya, banyak yang bisa memacu kita untuk berkompetisi, saling mengalahkan secara affair serta beberapa permainan yang dapat membawa emosi kita terlibat secara mendalam. Beberapa permainan juga dapat merangsang anak untuk berpikir secara kreatif serta dengan permainan tersebut melatih emosional kita untuk dapat menerima kekalahan serta menerima kemenangan. Semuanya adalah latihan untuk menghadapi perkembangan mental serta emosional kita.

“Permainan tradisional sedikit banyak ada manfaatnya bagi dunia pendidikan. Bagaimana agar permainan tradisional tersebut tidak hilang begitu saja dari deretan budaya kita dan kita bisa mempertahankannya. Mungkin perlu ada suatu gerakan atau lomba permainan tradisional, atau juga bagi yang masih ingat cara bermainnya perlu ada suatu tulisan bagaimana cara bermain egrang dan lain-lain lengkap dengan simulasinya, sehingga dapat digunakan sebagai warisan budaya untuk generasi mendatang”, pungkasnya. (Trie)

Keteladanan Yang Bertanggung Jawab


Anak-anak bisa diibaratkan sehelai kertas putih yang masih kosong. Lingkunganlah yang memberi warna pada kertas putih tersebut. Mereka memiliki ketergantungan yang tinggi, membutuhkan pertolongan, perlindungan serta rasa aman. Saat ini anak-anak mengalami krisis keteladanan. Hal ini terjadi karena sedikitnya mass media yang mengangkat tema tentang tokoh-tokoh teladan bagi anak-anak. Tayangan-tayangan televisi misalnya, didominasi acara hiburan dalam berbagai variasinya, acara sinetron atau acara gosip selebriti tidak dapat diharapkan memberikan contoh kehidupan yang baik secara utuh.
Menurut Riyo, S.Pd, dalam kondisi krisis keteladanan ini, keluarga dan sekolah menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan. Maka ayah dan ibu serta guru menjadi figur-figur pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan ini. “Menurut saya, keteladanan dalam mendidik anak itu sangat penting, karena dapat memberikan dampak positif yang baik bagi perkembangan mental dan psikis anak. Oleh karenanya kita sebagai orang tua mesti memiliki kesadaran untuk menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak anak”, katanya.
Dijelaskan Guru SD Negeri Bulu 02 Banyuputih ini, bahwa keteladanan merupakan syarat utama dalam suatu proses pendidikan. Tidak ada makna pendidikan jika tidak ada keteladanan. Pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait mengait dan saling  pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain. Pertama, sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation). Kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model).
Di samping itu, ditambahkan pria kelahiran Batang, 12 Desember 1967 ini, juga ada tiga syarat penting dalam proses mendidik dan mengajar yang pertama adalah cinta, kedua adalah kepercayaan, dan ketiga adalah kewibawaan. Ketiga syarat ini saling mempengaruhi dan saling kait mengait. Cinta akan menimbulkan kepercayaan. Seterusnya, kepercayaan akan menghadirkan kewibawaan. Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kewibawaan akan lahir jika ada kepercayaan. Kepercayaan akan muncul jika ada keteladanan.
“Ketika orang tua atau guru mengenalkan sopan-santun, maka sebaiknya mereka tak hanya memberikan nasehat atau perintah, tapi juga contoh nyata. Tanpa contoh nyata atau keteladanan, perintah ataupun nasehat tidak akan bertahan dalam waktu lama. Apalagi yang ingin ditanamkan pada anak berupa nilai-nilai moral atau etika dan nilai keagamaan. Sejatinya saat berkenaan dengan nilai agama, nilai moral atau etika memang tidak cukup jika orang tua dan pendidik hanya cuma memberikan petuah dan perintah saja. Anak-anak memerlukan dukungan yang lebih penting, yakni keteladanan agar setiap nilai yang hendak disampaikan menjadi lebih bermakna”, paparnya.
Tak hanya itu, suami dari Sutita dan ayah dari Pradita Anggriyanto ini juga menegaskan, dari semua hal yang perlu diajarkan kepada anak, unsur keteladanan dari orang tua berada di posisi teratas.
“Anak-anak di usia dini akan mudah meniru apa pun yang dilihatnya. Jadi, ketika orang tua menerapkan perilaku terpuji dan bertutur kata yang halus, itu sudah merupakan permulaan pendidikan etika kepada anak-anak,” kata dia.
Dikaitkan dengan tugas Pendidik, sejatinya ada dua tugas utama para pendidik yang harus melekat dalam proses pendidikan, yaitu transformasi ilmu dan transformasi nilai. Tidak seimbang jika suatu institusi pendidikan hanya mengisi dimensi intelektualnya semata, namun mengabaikan dimensi emosional dan etika peserta didik. Untuk itu, para pendidik selain cerdas dan trampil dalam mentransfer ilmu pengetahuan sekaligus menjadi sosok “yang digugu dan di tiru”. Seorang pendidik yang tidak memiliki dimensi keteladanan akan menjadi sosok yang tidak mendapat rasa simpatik dari anak didiknya, tetapi bisa menjadi justru sebaliknya mendapat cemooh dari anak didiknya.
“Ada pepatah yang mengatakan, Kalau gurunya kencing berdiri maka muridnya kencing berlari itu adalah sebuah gambaran bahwa dari diri seorang pendidik sangat diperlukan sebuah transformasi nilai. Alangkah naifnya dan kontradiktifnya jika seorang pendidik melarang anak didiknya berkuku panjang sementara sang pendidik berkuku panjang. Alangkah antagonisnya jika orang tua menyuruh anaknya shalat, sementara orangtuanya tidak shalat. Sedangkan proses belajar-mengajar harus mencakup tiga ranah pendidikan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, konsep pendidikan di Indonesia cenderung mengarah pada ranah kognitif, sedangkan ranah afektif dan psikomotorik ditempatkan pada peran sekunder. Untuk itu pendidik secara terus-menerus harus diberi pemahaman bahwa nilai-nilai kehidupan tidak bisa begitu saja diajarkan, tetapi harus disertai keteladanan oleh pendidik itu sendiri,” katanya.

MI WAKHID HASYIM LIBATKAN SEMUA KOMPONEN


Akhir tahun 2009 lalu, MI Wakhid Hasyim mendapat bantuan DAK sebesar 91.500.000 rupiah dengan alokasi untuk rehab atap sejumlah 2 ruang dan rehab gedung 1 ruang. Dalam pelaksanaannya, manajemen madrasah melibatkan semua komponen yang ada, diantaranya peran serta guru, komite dan pengurus yayasan. Hal ini seperti yang dikatakan Hilaluddin, S.Ag didampingi Amin Pambudi, S.Pdi diruangannya beberapa waktu lalu.
“Proyek ini kami kerjakan dengan melibatan semua komponen, karena dengan kebersamaan, kita bisa merasa nyaman dalam bekerja. Guru, komite, pengurus yayasan dan masyarakat kami libatkan semua”, tuturnya.
Ditambahkan kepala madrasah, bantuan yang diterimanya dikerjakan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin, bahkan menurut penuturannya, pada tahun 1995 pihaknya juga mendapat bantuan sebesar 230 juta, namun dalam pengerjaannya menghabiskan dana sebesar 350 juta.
“Hal ini bentuk komitmen kita untuk terus meningkatkan sarana dan prasarana sekolah, yang kedepannya bisa menciptakan sekolah yang representatif dan terus dipilih oleh masyarakat”, imbuhnya.
Diakui Hilaluddin, dengan adanya bantuan ini, pihaknya bisa kembali membenahi madrasah yang telah menciptakan generasi penerus bangsa yang berakhlak dan berprestasi. “Dengan bantuan ini, Alhamdulilah, bisa membenahi sekolah kita. Karena sejak tahun 1995 kita belum pernah mendapat bantuan apapun. Harapan kami, guna melengkapi sarana dan prasarana yang masih kurang, kalau bisa pemerintah mengalokasikan kembali bantuan kepada sekolah kita”, pungkasnya. (Trie)

MII PRETEK PECALUNGAN “BERSAMA KITA BISA”

Bukan sekedar latah untuk ikut memakai motto “Bersama Kita Bisa” yang digaungkan oleh Presiden SBY, namun jajaran pengelola Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Pretek Kecamatan Pecalungan ini yakin, bahwa sekarang ini sudah tiba saatnya untuk merajut dan memupuk lagi rasa kebersamaan. Karena, hanya dengan kebersamaan, kemajuan dari berbagai aspek akan dapat berjalan dengan lancar.
Seperti yang disampaikan Setiadi, S.Pd selaku kepala Madrasah yang dijumpai diruangannya beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa dengan adanya kebersamaan dari semua elemen yang ada di sekolah, maka apa yang diinginkan sekolah pasti akan terwujud.
“Kami sangat yakin, bahwa dengan kebersamaan yang menjadi tumpuan kita dalam bekerja dan mendidik anak-anak, Insya Allah, semua harapan kita akan tercapai. Karena kebersamaan itu indah dan bermakna inklusif”, paparnya.
Alhasil, dengan pemupukan rasa kebersamaan itu, madrasah yang berdiri pada tanggal 28 Maret 1963 ini sekarang sudah menampakkan kemajuannya, baik peningkatan dibidang sarana dan prasarana sekolah, maupun prestasi anak-anak didiknya. Hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya sarana dan prasarana sekolah, seperti ruang kelas yang representative, sarana pembelajaran yang sudah terpenuhi diantaranya buku-buku penunjang kurikulum, media pembelajaran seperti KIT IPa, Bahasa, Matematika, olahraga, laptop. Drum band, rebana Modern dan orgen. Media audio visual.
Bahkan, untuk menunjang kegiatan ekstrakurikuler, madrasah ini sudah dilengkapi dengan alat-alat Drumband, rebana dan alat-alat olahraga. MII Pretek juga menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler BTQ, sari tilawah dan Qosidah serta memberikan les Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, IPA, Matematika, dan bahasa Inggris.
Motto “Bersama Kita Bisa” yang dijunjung tinggi oleh jajaran pengelola MII Pretek ternyata menjadikan satu motivasi yang luar biasa. Dan tahun ini, rencananya pihak sekolah akan melengkapi dan memenuhi sarana prasarana komputer dengan alasan untuk mengejar ketertinggalan dengan madrasah ataupun sekolah dasar yang sudah maju, agar mampu bersaing.
“Terus terang, saat ini kita masih kurang 1 lokal kelas lagi, karena ada 12 rombongan belajar dan baru ada 11 lokal kelas, 1 ruang guru dan 2 KM/WC anak, dan 1 KM/WC guru serta gudang. Target kedepan, kita juga akan membangun gedung perpustakaan dan ruang UKS serta pemenuhan komputer yang rencananya 10 unit untuk mewujudkan sekolah yang representatif”, katanya.
Selain itu, MII Pretek yang berdiri dibawah naungan yayasan Ma’arif ini juga menyelenggarakan pembelajaran PAIKEM, yakni Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Karena menurut pengelola madrasah ini, bahwa pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
“Buah dari proses pendidikan dan pembelajaran akhirnya akan bermuara pada lingkungan. Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan”, imbuhnya.
Menurut kepala sekolah dengan total siswa 368 anak ini, dalam pembuatan visi dan misi, pihaknya juga tidak sembarangan untuk mengkonsep. Pembuatan visi dan misi berdasar hadist untuk selalu meningkatkan atau bahwa hidup itu harus selalu meningkat. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Inilah konsep visi dan misi madrasah kita”, jelasnya.
Sekolah yang pernah dikunjungi dan diberikan pembinaan oleh Bupati Batang, H.M Bambang Bintoro, SE ini kedepannya optimis untuk tetap terus maju dan berkembang, serta dipercaya masyarakat dan pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu.
“Harapan kita, kebersamaan ini akan terus berlangsung dalam 1 tujuan untuk memajukan MII Pretek. Hasil akhir dari kebersamaan tersebut akan kasat mata ketika mutu pendidikan di sekolah kita menjadi lebih baik, kesejahteraan umum dirasakan bersama dan di mata masyarakat, MII Pretek semakin dihargai dan dicintai. Semoga motto Bersama Kita Bisa akan terwujud. (Trie)


Visi : Berprestasi dengan bekal Imtaq, Iptek dan Akhlakul Karimah
Misi :
meningkatkan sumberdaya dan kinerja tenaga pendidik
meningkatkan ukhuwah islamiyah dengan semua elemen masyarakat
meningkatkan belajar dan bimbingan secara intensif
meningkatkan fungsi sarana dan prasarana pendidikan
terwujudnya anak didik yang berakhlakul karimah, cerdas dan terampil



MTs NU 01 PECALUNGAN HADIR UNTUK MASYARAKAT


Jika anda melintas jalan raya Bandar Pecalungan KM. 7 tepatnya di Desa Pretek kecamatan Pecalungan Kabupaten Batang, akan anda saksikan sebuah unit bangunan gedung sekolah baru yakni MTs NU 01 Pecalungan.
Madrasah yang baru dibangun dan berdiri sejak tahun 2007 ini, awalnya berupa madrasah filial. Selama 1 tahun, MTs NU 01 Pecalungan menginduk di MTs At Taqwa Bandar atau dengan sebutan kelas jauh. Kemudian pada tahun 2008, baru mengajukan ijin pendirian yang telah mendapat rekomendasi dari Departemen Agama dan Pemerintah Daerah.
Seperti diceritakan Irham, S.Pd.i selaku kepala sekolah, bahwa sejarah berdirinya MTS NU ini juga tidak terlepas dari ide, gagasan tokoh ulama Pecalungan, khususnya desa Pretek. Pada tahun pertama, kegiatan belajar mengajar (KBM) menumpang di MII Pretek, dengan melaksanakan KBM pada jam siang. Baru pada tahun ajaran 2008/2009, KBM sudah bisa dilaksanakan pagi hari di lokasi gedung baru, yang mana gedung tersebut adalah dibuat dari swadaya masyarakat Pecalungan umumnya dan khususnya masyarakat desa Pretek.
“Bantuan yang ada sekarang mutlak dari swadaya masyarakat dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah ataupun instasi lainnya yang terkait”, katanya.
Lebih jauh dikatakan pria kelahiran Batang, 5 Desember 1981 ini, bahwa kondisi bangunan sekarang masih dalam keadaan 80%, dan ada 4 ruang kelas. Terlihat sekilas, sudah ada 3 ruang kelas yang menggunakan mebeler, namun diakui Irham, mebeler tersebut pemberian dari MI dan SD sekitar yang sudah rusak, dan kelas lainnya belum ada meja kursinya, sehingga anak belajar tanpa meja kursi atau lesehan.
“Sebagai solusi lesehan itu, sekolahan berinisiatif mengadakan dompar. Saat ini siswa kita sudah ada yang kelas 3 dengan jumlah siswa 132 anak, dengan perincian, kelas 1 45 anak, kelas 2 38 anak, kelas 3 49 anak yang terbagi menjadi 2 rombel dan di topang dengan 12 tenaga guru”, jelasnya.
Dikatakan Irham, yang juga Ketua LP Ma’arif kecamatan Pecalungan ini, bahwa pada tahun ajaran 2008/2009 dan tahun ajaran 2009/2010, pihaknya membatasi jumlah siswa. Hal ini sengaja dilakukan, karena menurutnya karena keterbatasan ruang.
“Ruang kelas hanya ada 4 lokal, sedangkan minat masyarakat untuk bersekolah ditempat kami sebenarnya banyak. Yang jelas, keinginan kami mendirikan MTs ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan setingkat SLTP di kecamatan Pecalungan yang bernuansa islami, mengingat potensi lulusan SD dan MI di kecamatan ini sangat besar, dan di kecamatan Pecalungan ini hanya baru ada 1 sekolah menengah pertama”, paparnya.
Kendati baru, MTs NU 01 Pecalungan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar juga sudah mampu menyesuaikan seperti di satuan pendidikan setingkat lainnya, yakni ada kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, olah raga dan seni islami.
“Kegiatan keluar juga ada, seperti Out Bond dan bhakti sosial. Intinya, kami tetap merintis prestasi dan pada tahun ini, sekolah kita pertama kali akan melaksanakan ujian, kendati baru menginduk di MTs At Taqwa Bandar”, imbuhnya.
Dengan tercapainya cita-cita mendirikan sekolah yang bernuansa Islami di kecamatan Pecalungan ini, pihak pengelola, baik kepala sekolah, guru, komite, dan pengurus yayasan menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan dari semua pihak, baik berupa materi maupun berupa dukungan moril. Kedepannya, pihaknya masih berharap adanya bantuan dari pihak manapun.
“Kami tidak menutup diri untuk menerima bantuan dari manapun, karena tujuan kita untuk turut mencerdaskan anak-anak bangsa. Dengan keadaan sepeti ini, diharapkan ada perhatian dari instasi atau lembaga terkait, agar keinginan kami terwujud untuk menciptakan sekolah yang representative, lengkap dengan sarana dan prasarana, serta buku-buku penunjang untuk turut meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten Batang”, harapnya. (Trie)

Bambang Pramudi

PIMPIN SEKOLAH DENGAN MANAJEMEN TAWA


Sosok Bambang Pramudi yang bersahaja namun tegas ini adalah Kepala SD Negeri Pandansari 02 UPT Disdikpora kecamatan Warungasem. Alhasil, kepala sekolah yang satu ini dipercaya oleh rekan-rekannya untuk menduduki jabatan sebagai ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau KKKS dan menjadi teladan bagi guru-guru di Kecamatan Warung Asem pada khususnya dan Kabupaten Batang pada umumnya.
Tak mengherankan, bila sosok pria yang satu ini menjadi tauladan diwilayahnya, dikarenakan, dalam memimpin satuan pendidikan dan dalam bersosial masyarakat, dirinya selalu memegang teguh ajaran agama, yakni dengan mewujudkan manajemen Tawa, sari dari Surat Al ‘Asri yang menuntunnya untuk melakukan pekerjaan yang benar, mendorong satu sama lain menuju Kebenaran, dan mendorong satu sama lain untuk kesabaran.
“Dalam memimpin sekolah, saya menerapkan manajemen TAWA, yakni Tahabun yang artinya memberikan kasih sayang kepada teman guru maupun siswa dan tidak membedakan satu sama lainnya. Kemudian Ta’awun yaitu memupuk kerjasama yang baik dalam bekerja, Ta’asawur Musawaroh yaitu selalu bermusyawarah bila memutuskan sesuatu dan Ta’afuwun yang berarti membina guru untuk saling memaafkan apabila ada kesalahan satu dengan yang lainnya, walaupun tanpa diminta yang tentunya untuk menjaga keharmonisan”, katanya.
Selanjutnya dijelaskan pria kelahiran Batang, 19 Oktober 1952 ini, bahwa siapapun yang berhasil mengikuti petunjuk Ilahi, pasti akan menemukan diri mereka pada jalan yang lurus, dan kehidupan mereka akan dipenuhi dengan kemuliaan Allah, sementara mereka yang gagal untuk mengikuti bimbingan ini akan berada di sebuah kehilangan besar.
“Poin yang lainnya adalah Watawa shaubil haqqi, yakni saling mengingatkan dalam hal kebenaran, Watawa shaubis sabhri yakni saling menasehati atas dasar kesabaran, karena pada umumnya, manusia sering mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, oleh karena itu, diperlukan juga Watawa sahubis sabhri untuk menasehati dengan kesabaran. Dan yang terakhir adalah Watawa shaubil marhamah, yaitu saling mengingatkan dan menasehati dengan dasar kasih sayang. Hal ini ditetapkan dalam Al Qur’an yang artinya untuk saling mengingatkan dengan dasar kasih sayang, yang bertujuan melakukan pengawasan, pengendalian dan koreksi untuk mencegah seseorang terjerumus dalam dalam sesuatu masalah. Tujuan lainnya adalah agar kualitas kehidupan terus meningkat”, pungkasnya. (Trie)

SD Negeri Karanggeneng 01 INGIN PERTAHANKAN PRESTASI YANG SUDAH ADA


SD Negeri Karanggeneng 01 kecamatan Kandeman yang sudah banyak meraih prestasi ini sekarang dibawah kepemimpinan kepala sekolah yang baru, yakni Suprapto, S.Pd yang sejak 10 September 2009 lalu mendapat SK untuk memimpin sekolah yang mempunyai murid sebanyak 232 siswa ini.
Dijumpai di kantor Koperasi Gemi Tulis beberapa waktu lalu, pria kelahiran Gunungkidul, 23 Oktober 1967 ini menuturkan, bahwa sekolah yang dipimpinnya ini pada tahun ajaran lalu telah mengharumkan kecamatan Kandeman dengan menduduki peringkat 4 hasil UASBN di tingkat Kabupaten Batang. “Untuk tahun ini, saya akan berusaha untuk mempertahankan peringkat tersebut”, tegasnya.
Ditambahkan pria yang juga aktif sebagai Pengurus Koperasi KPRI Gemi, pengurus LPMK kelurahan Karangasem utara, pengurus Kwaran Kandeman, dan juga selaku ketua RT ini, bahwa prestasi yang sudah ada akan di pertahankan, sedangkan prestasi yang lain, akan berusaha untuk ditingkatkan.
“Untuk itu, kami juga memperketat dengan memberikan jam tambahan pelajaran, dari jam 13.30 hingga 15.30 dan untuk sarapan pagi, anak-anak kami berikan jam tambahan dari jam 6.30 sampai jam 7. Terlebih, dengan terbangunnya 1 unit gedung perpustakaan, kita akan maksimalkan minat baca anak”, imbuhnya.
Dirinya optimis, dengan terobosan semacam ini, SD Negeri Karanggeneng tetap bisa mempertahankan prestasi yang sudah ada, diharapkan juga akan adanya peningkatan. Namun dengan semangat yang ada, Suprapto mengeluhkan masih kurangnya guru negeri disekolahnya.
“Saat ini, kami masih kekurangan 3 Guru yang negeri. Dengan terpenuhinya kekurangan itu dan ditopang dengan kinerja serta semangat semacam ini, sekolah kita bisa minimal mempertahankan prestasi yang sudah ada”, pungkasnya. (Trie)