Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

SD NEGERI GUMAWANG 01 JUNJUNG TINGGI KEBERSAMAAN


Saat memasuki satuan pendidikan ini, terasa suasana keakraban dan keharmonisan serta kerukunan yang dibarengi dengan keteladanan. Semua warga sekolah mengakui, bahwa semua rasa di rasakan bersama-sama dan mengutamakaan keterbukaan dibidang apapun.
Kamsin, A.ma.Pd selaku kepala sekolah yang didampingi Endang Sri Indriyati, Ama.Pd selaku bendahara sekolah dan beberapa dewan guru lainnya menuturkan, bahwa manajemen keterbukaan ini sudah lama diterapkan di sekolah yang dipimpinnya ini.
”Pokoknya, manajemen keterbukaan ini kami lakukan agar tidak menimbulkan rasa su’udhon dan ini sudah menjadi aturan untuk saling terbuka dan transparan. Ada segala sesuatunya, kita mengutamakan musyawarah”, papar Kamsin.
Menyinggung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Gumawang 1, pria kelahiran Kendal, 19 Juli 1952 ini menuturkan, pihaknya mengeluhkan beberapa kendala yang ada di sekolah ini. Selain jumlah siswa yang sedikit, yakni 100 anak, pasrtisipasi dari orang tua juga minim.
“Kendala yang utama adalah kurangnya dukungan dari masyarakat untuk pengawasan pendidikan anak dirumah. Masyarakat di Desa Gumawang masih dibawah garis kemiskinan, bahkan anak-anak sepulang sekolah membantu orang tuanya untuk bekerja. Adapun usaha yang dilakukan pihak sekolah adalah memberikan pengarahan kepada wali murid dengan berbagai cara”, jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga mengeluhkan kurangnya sarana dan prasarana sekolah. Di katakan Kamsin, sekolah yang dipimpinnya sudah lama tidak mendapat bantuan.
“Saat ini sekolah kita kurang gedung perpustakaan dan mebeler minimal untuk 3 ruang serta mebeler untuk guru”, keluhnya.
Namun demikian, diakui Kamsin, dari berbagai kendala yang ada tidak menyurutkan semangat dewan guru untuk menciptkan prestasi sekolah. Bahkan, alumni sekolah ini banyak yang sudah menjadi sarjana dan sekolah ini telah mencapai beberapa prestasi, terutama dibidang keagamaan dan olah raga. (Trie)

Minggu, 24 April 2011

KEGIATAN KKG PROGRAM BERMUTU GUGUS YOS SUDARSO BATANG


Kegiatan KKG Program Bermutu yang diselenggarakan oleh Gugus Yos Sudarso UPT Disdikpora Batang ini diikuti oleh 56 guru kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 yang terdiri dari 9 sekolah, yakni 1 SD inti (SD Negeri Karangasem 04) dan 8 SD imbas lainnya.

Dijumpai disela-sela kegiatan, Casodo. SPd.SD selaku Ketua KKG Gugus Yos Sudarso yang didapingi oleh Sunardi, S.Pd selaku ketua Gugus mengatakan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas kerja yang mengacu pada 4 kompetensi guru.

”4 kompetensi tersebut adalah Pedagogik, profesionalisme, sosial dan pengembangan diri yang kami kupas dalam 19 kali pertemuan, 3 kali in servis dan 16 kali onservis”, jelasnya.

Dipaparkan Casodo yang juga sebagai Guru SD Negeri Karangsem 10 ini, bahwa kegiatan Tahap I adalah inservis. Kegiatan inservis ini dilaksanakan selama 3 hari yang dilaksanakan pada tanggal 5-7 Agustus lalu yang di buka oleh Pengawas TK/SD dabin 2 UPT Disdikpora Batang untuk mengawali kegiatan onservis yang 16 kali pertemuan.

”Kegiatan inservis diisi dengan materi pendahuluan dan materi pengenalan penggunaan teknologi TIK, yang kedua KTSP, ketiga pengenalan bahan belajar mandiri, model-model pembelajaran, metode pembelajaran dan studi kasus, lesson studi dan learning jurnal dan ditambah bank soal serta kisi-kisi”, paparnya.

Casodo juga menjelaskan, kegiatan inservis dilanjutkan dengan kegiatan onservis yang dilaksanakan sebanyak 16 kali pertemuan setiap hari sabtu.

”Kegiatan On servis mengupas tentang generik-generik yang muaranya pada PTK. Disamping itu ada kegiatan ICT selama 2 kali pertemuan. Dikandung maksud agar guru itu bisa mengoperasikan menulis dengan mengunakan komputer dan penjelajahan internet”, imbuhnya.

Kegiatan KKG Program Bermutu ini di isi oleh Narasumber dari kabupaten atau yang lebih dikenal dengan istilah DCT atau guru pemandu dari tingkat kabupaten.

“Kegiatan ini dibiayai dari dana Program DBL program bermutu dengan besaran nominal tahap pertama 27 juta. Yang pelaksanaannya sesuai aturan yang memberi pinjaman”,pungkas pria Batang, 21 September 1969 ini. (Trie)

Sabtu, 12 Maret 2011

SD NEGERI KURIPAN 02 MASIH BUTUH PEMBENAHAN


Sekolah yang pada tahun 2009 mendapat alokasi bantuan 2 lokal kelas dan 1 unit sanitasi ini kedepannya akan melakukan pembenahan. Paling tidak, inilah komitmen yang dilontarkan Ahmad Solihin, S.Pd.i, selaku kepala sekolah yang memimpin SD Negeri Kuripan 02 Subah sejak per 10 september 2009 lalu ini.

Dijumpai pada saat mengawasi jalannya pembangunan sekolah pada akhir tahun lalu, pria kelahiran Batang, 29 Mei 1962 ini menegaskan, bahwa program unggulan yang akan dijalankannya adalah untuk memajukan SD Negeri Kuripan 02 Subah.

“Yang jelas, saat ini kita masih berkonsentrasi pada bangunan. Tahun ini kita mendapat bantuan dari DAK sebanyak 2 lokal dan 1 sanitisai yang kita alokasikan untuk membangun 3 ruang kelas, sanitasi dan pengembangannya 1 lokal serta mebeler 25 set”, katanya.

Dijelaskan Ahmad Soikhin yang didampingi dewan guru, pihaknya juga tengah menyusun dan melaksanakan beberapa program unggulan yang diantaranya meningkatkan mutu pendidikan, meningkatkan SDM, menata lingkungan dan mengaktifkan ekstrakurikuler.

“Guna mendukung program unggulan yang telah kami susun, hendaknya didukung pula dengan unsur pendukungnya, yang diantaranya perpustakaan, dan mebeler. Dan pada tahun ini sekolah kita mendapat bantuan mebeler 25 set, sedangkan kebutuhannya masih 4 kelas lagi. beserta almari buku kelas dan meja guru juga diperlukan”, imbuh beberapa dewan guru.

Dengan terlengkapinya kebutuhan sekolah, mantan guru Agama SD Negeri Karangtengah 01 menegaskan, pihaknya akan berusaha mewujudkan sekolah yang unggul dan berpestasi.

“Harapan kami agar kekurangan itu bisa teratasi, terutama kelengkapan seperti mebeler, prioroitas kedua kelengkapan lantai dan perpustakaan. Mungkin kalau ketiganya itu bisa terasasi, bisa akan ada kemajuan”, tegasnya. (Trie)

SMP NEGERI 8 BATANG RAYAKAN ULTAH YANG KE 11


5 Januari 2010 yang lalu, SMP Negeri 8 Batang merayakan hari jadinya yang ke 11. Dalam rangka memperingatinya, panitia yang di ketuai oleh Hj. Kholifatul Aliyah, S.Pd ini menyelenggarakan berbagai kegiatan, diantaranya sepeda sehat untuk semua warga sekolah dengan disertai adanya doorprise, kemudian dilanjutkan dengan lomba memasak nasi goreng bagi bapak-bapak guru dan TU, dan untuk ibu-ibu guru dan TU mengikuti lomba bulu tangkis, serta kegiatan untuk para siswa diantaranya lomba melukis, kaligrafi, dan karaoke yang kemudian ditutup dengan pentas band siswa dan alumni.
Seperti disampaikan Suranto, S.Pd selaku kepala sekolah yang di dampingi Bisri, S.Ag selaku Wakil Kepala Sekolah mengatakan, bahwa selain merayakan dengan penuh keceriaan, SMP Negeri 8 Batang juga menggelar kegiatan bhakti sosial sebagai bentuk peduli dengan sesama. “Kegiatan bhakti sosial kami adakan 1 hari kemudian dengan menyerahkan sembako yang di donasi oleh guru-guru dan karyawan, serta alat-alat tulis dari para siswa untuk diberikan kepada anak-anak panti asuhan di Karangasem dan Kauman”, jelasnya.
Lebih jauh dikatakan Suranto, kendati kegiatan yang bertemakan “Dengan semangat HUT SMP Negeri 8 ke 11, kita tingkatkan kinerja dan pengabdian serta terwujudnya insan yang berakhlak mulia berilmu dan berprestasi tinggi” ini tidak terencana, tapi menurutnya kegiatan berjalan dengan sukses.
“Kegiatan berlangsung meriah. Dan yang paling utama adalah, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan kegiatan sekolah kepada masyarakat, sesuai dengan temanya itu, bahwa sekolah kita banyak kegiatan yang bermanfaat bagi siswa, dan untuk menciptakan animo kepada masyarakat agar sekolah disini”, imbuhnya.
Kedepannya, lanjut mantan kepala sekolah SMP Negeri 2 Reban itu, Program tahun depan untuk merayakan hari jadinya, SMP Negeri 8 akan ada sunatan masal yang diikuti dengan kegiatan sekolah lainnya.
“Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan masyarakat bisa mengetahui kegiatan sekolah dan masyarakat bisa berinteraksi dengan kita. Tujuan kita adalah memperkenalkan kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat bisa mendukung kegiatan itu. Secara internal, kita juga sedang meningkatkan rasa kekeluargaan sesama warga sekolah”, imbuhnya.
Menyinggung program kerja yang akan diterapkan pada manajemen SMP Negeri 8, Suranto mengatakan, bahwa pihaknya akan meningkatkan di semua aspek. “Program yang baru akan kami laksanakan secara menyeluruh, kita akan meningkatkan semua aspek, baik akademis maupun non akademis. Untuk bidang kerohanian juga akan kita tingkatkan, apalagi menjelang ujian nasional kita merasa prihatin, untuk bisa mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasi yang sudah ada, untuk itu kita sering koordinasi dengan teman-teman”, pungkasnya. (Trie)

Rabu, 19 Mei 2010

Hj. Indah Mulyani, SH, MSi ;

“Dengan Kenaikan BOS, Diharapkan Mutu Pendidikan Meningkat”

Salah satu solusi dari Pemerintah melalui Depdiknas untuk menanggulangi anak usia sekolah yang masih belum mendapatkan kesempatan bersekolah yakni dengan adanya program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Komitmen ini kembali diwujudkan, dengan mengalokasikan peningkatan bantuan tersebut ditahun 2009 ini.

Seperti penuturan Hj. Indah Mulyani, SH, MSi selaku Manajer BOS Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang, bahwa untuk tahun anggaran 2009 ini, ada kenaikan sebesar 50 %. “Untuk SD dan SMP ada kenaikan, SD yang tadinya setahun mendapat alokasi 254.000/siswa/tahun, sekarang menjadi 397.000/siswa/tahun, sehingga ada kenaikan sebesar 11.917/bulan dan untuk SMP, dari 354.000/siswa/tahun menjadi 570.000/siswa/tahun, sehingga asumsi kenaikannya berjumlah 18.000/siswa/bulan atau 50% dari alokasi per siswa pada tahun sebelumnya.”, tuturnya.

Diharapkan Wanita kelahiran Semarang 27 Mei 1956 ini, bahwa dengan adanya kenaikan Bantuan Opersional Sekolah, diharapkan mutu pendidikan di Kabupaten Batang bisa meningkat.

“Dengan adanya peningkatan ini kami berharap, kedepan Mutu pendidikan di Kabupaten Batang bisa meningkat. Dalam hal ini, pengelola satuan pendidikan bisa mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, meningkatkan prosentase angka kelulusan SD dan SMP meningkat, dan meningkatkan Nilai rata-rata UASBN dan UN serta meningkatkan pelayanan pendidikan”, harapnya.

Dipaparkan Bu Indah panggilan akrabnya, bahwa bantuan BOS yang dikelola Disdikpora Kabupaten Batang yakni untuk SD, SDLB, SMP, SMPLB dan SMP Terbuka di Kabupaten Batang, yang pencairannya bertahap setiap 3 bulan sekali, dan selebihnya dikelola oleh masing-masing satuan pendidikan.

“Penggunaan Dana BOS oleh sekolah harus berpedoman pada buku pedoman BOS tahun 2009 yang telah diterbikan oleh Depdiknas dan ketentuan yang berlaku. Dan diharapkan, pihak sekolah dalam melakukan pengadministrasian BOS untuk lebih ditertibkan”, pintanya.

Selain itu, menurutnya, Dana BOS periode Januari-Maret dan April-Juni 2009 sudah termasuk untuk pembelian buku teks pelajaran, yakni untuk SD/SDLB membeli buku IPS kelas 4, 5 dan 6 serta buku PKn untuk kelas 1 hingga kelas 6. “Sedangkan SMP, SMPLB dan SMP Terbuka untuk membeli buku IPA dan PKn kelas 7 hingga 9, masing-masing 1 buku tiap siswa. Ketentuan pembelian buku tersebut sesuai juknis dari Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah”, paparnya.

Menyinggung adanya perubahan Susunan Organisasi dan Tata Kerja dilingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Batang, Hj. Indah Mulyani, SH, MSi yang juga selaku Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang menjelaskan, bahwa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Batang nomor 3 tahun 2008 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja (SOTK) dinas Kabupaten Batang, maka untuk SOTK Dinas Pendidikan namanya lini berubah menjadi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga atau disingkat Disdikpora Kabupaten Batang.

Adapun susunan organisasi untuk SOTK Disdikpora Kabupaten Batang terdiri dari Kepala Dinas yang dijabat H. Priyodigdo, SE, MM, Sekretariat Dinas yang dijabat Hj. Indah Mulyani, SH, MSi yang membawahkan Sub Bagian Program, Keuangan dan Kepegawaian.

Selain itu, ada beberapa bidang lainnya diantaranya Bidang Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPTK) yang dikepalai Dra. Ainun Mardiyah yang membawahkan Seksi Mutasi dan Promosi, Seksi Pengembangan Profesi, Seksi Penghargaan dan Perlindungan. Kemudian untuk Bidang SMP/Dikmen yang dikepalai Drs. Sabar Mulyono yang membawahkan Seksi Kurikulum, Seksi Kesiswaan dan Seksi Sarana Prasana, serta Bidang TK SD yang dikepalai Drs. Mugiharjo yang membawahkan Seksi Kurikulum, Seksi Kesiswaan dan Seksi Sarana Prasana, dan Bidang Pemuda, Olahraga dan Pendidikan Non Formal yang dikepalai Drs. Paham Suhardi yang membawahkan Seksi Kependidikan, Keolahragaan dan Kesenian, Seksi Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesetaraan serta Seksi Pendidikan Masyarakat.

Adapun lainnya, dibentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas yang menduduki dimasing-masing kecamatan dan Kelompok Jabatan Fungsional yakni Pengawas TK/SD serta Pengawas SMP dan Pengawas SMA. (Trie)

Kamis, 01 April 2010

Drs. Sabar Mulyono : “persiapan ujian nasional diawali dari pendataan peserta yang valid”


Dijumpai usai serah terima jabatan Eselen III dan IV dilingkungan Disdik Pora Kabupaten Batang tanggal 13 Februari 2009 lalu, Drs. Sabar Mulyono selaku Kepala Bidang Pendidikan SMP/Dikmen menuturkan, saat ini pihaknya tengah fokus dibeberapa program prioritas Disdik Pora Kabupaten Batang, khususnya bidang Pendidikan SMP/Dikmen. Adapun Program prioritas yang menjadi program kerja diantaranya persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN).

“Dalam rangka kunjungan kerja yang didampingi oleh komisi B, kami telah mengadakan pemantapan kepada sekolah-sekolah di 15 kecamatan, guna mempersiapkan sekolah menghadapi ujian nasional, dan kunci pokok menghadapi persiapan ujian nasional diawali dari pendataan peserta yang valid.”, tuturnya.

Lebih jauh dipaparkan pria kelahiran Kendal, 10 Mei 1963 ini, bahwa kegiatan-kegiatan yang harus diterapkan disekolah diantaranya Pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan efisien, dan seandainya kurang, perlu adanya jam tambahan pelajaran, pagi hari diintensifkan, dan pada sore hari untuk membahas soal.

“Selain itu, untuk menghadapi ujian nasional ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, diantaranya persiapan mental. Persiapan mental dapat dilakukan melalui do’a sendiri-sendiri maupun do’a bersama atau istighosah. Dan diharapkan, Kepala sekolah harus bisa memotivasi siswa dan orang tuanya, karena selama ini menurut penelitian, anak tidak lulus berawal dari rasa kecemasan”, jelasnya.

Dipaparkan mantan Kasi SLTP ini, bahwa keberhasilan menghadapi UN ditentukan oleh banyak faktor. Selain persiapan mental, juga diperlukan adanya persiapan materi, baik yang dilaksanakan disekolah dalam proses kbm dalam hal ini hubungan antara guru dengan siswa / kualitas pembelajaran, maupun dengan belajar dirumah. Niat, cara belajar dan waktu belajar, semuanya mempengaruhi. Dan waktu paling baik untuk belajar dirumah dilakukan sebelum dan sesudah sholat subuh, dan untuk menghafal rumus-rumus sebaiknya dilakukan sebelum tidur.

“Kemudian tempat belajar, tempat belajar jangan ditempat tidur, belajar dilakukan ditempat yang terang. Dan juga diminta dukungan dari orangtua, mohon untuk adanya dukungan, agar siswa bisa belajar. Diharapkan orang tua atau keluarga bisa menciptakan suasana belajar yang tenang dan menyenangkan, tidak adanya gangguan pada konsentrasi siswa saat belajar dirumah. Insya Allah, apabila semuanya dilakukan bisa berhasil”, imbuhnya.

Masih terkait dengan persiapan menghadapi Ujian Nasional, pihaknya juga tengah mempersiapkan untuk mengirimkan tenaga guru, guna mengikuti pelatihan dan pendalaman materi soal di Kota Pekalongan. “Kami punya rencana, akan mengirimkan guru melalui MGMP, terutama guru SMP, SMA dan SMK ke kota Pekalongan untuk mengikuti pelatihan dan pendalaman materi soal, karena kota Pekalongan sudah bekerja sama dengan Puspendik Depdiknas (Pusat Penelitian Pendidikan)”, katanya.

Dipaparkan Kabid Pendidikan SMP/Dikmen ini, selain program jangka pendek yang telah dipaparkannya, juga masih ada beberapa program lainnya, diantaranya, program jangka menengah yakni percepatan wajar dikdas dan program jangka panjang untuk mendukung provinsi jateng sebagai provinsi vocasi atau provinsi yang jumlah SMK nya 70 % dan SMA nya 30%.

“Dalam hal ini, selain meningkatkan sekolah-sekolah menengah kaitannya dengan wajardikdas 9 tahun, kami juga ingin menumbuhkembangkan sekolah-sekolah SMK di Kabupaten Batang. Dan diharapkan, tahun 2009-2010 muncul sekolah rintisan berstandar internasional, rencananya SMP Negeri 3 Batang yang masih dalam tahap persiapan, dan yang masih diusulkan SMA Negeri 1 Batang dan SMK Negeri 1 Batang”, jelasnya.

Pihaknya berharap, kaitanya dengan persiapan ujian nasional yang telah mencapai prestasi SMP peringkat 26, SMA Ipa peringkat 17, SMA Ips peringkat 12 dan SMK Peringkat 27, diharapkan untuk semua pihak memberikan motivasi, terutama orang tua, dan guru-guru memberikan pembelajaran dengan didasari rasa ikhlas agar memberikan manfaat kepada anak didik. “Sehingga diharapkan, Kabupaten Batang bisa meningkatkan peringkat dalam perolehan nilai ujian nasional”, pungkasnya. (Trie)

Joko Santoso Budiharjo, S.Pd “Bekerja Keras Hukumnya Wajib”

Semenjak berkiprah di Kabupaten Batang akhir tahun 1978, Joko Santoso Budiharjo, S.Pd Kelahiran Sragen 15 Juni 1959 yang lebih akrab dengan nama panggilan Budi Joss ini berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Batang. Hal ini diwujudkannya dengan memulai kiprah untuk mencerdaskan generasi penerus Kabupaten Batang dengan mengajar di SD Negeri Sodong 01 pada tahun 1978, kemudian pada tahun 1982 di SD Negeri Wonotunggal I yang selanjutnya pada tahun 2003 diangkat menjadi kepala sekolah SD Negeri Silurah 01, dan pada tahun 2007 memimpin SD Negeri Gringgingsari serta tahun 2008 selaku kepala sekolah di SD Negeri Penangkan yang mengantarkan dirinya pada akhir tahun 2008 lalu diangkat menjadi Pengawas TK/SD UPT Disdik Pora Kecamatan Kandeman.

Dengan motto “Kerja Keras Hukumnya Wajib”, warga RT.02 RW. 02 Desa Brayo Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang ini juga berkiprah selaku Direktur marketing CV. DKG (Dwi Kaharjaning Gesang), Petani, dan juga turut mendukung istri tercinta dalam kegiatan Rias Pengantin. “Semuanya perlu kita coba, karena belum pasti semuanya mendapatkan hasil, semuanya Lilahita’allah”, katanya singkat.

Dituturkan suami dari Siti Sundari yang pernah meraih Juara II Guru Berprestasi di Kabupaten Batang tahun 2006 ini, bahwa dirinya ingin sekali mengubah sistem pendidikan dari fungsi pengawas ke sekolah-sekolah. “Pengawas itu mempunyai tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan, dan pengawas harus membantu sekolah sekolah yang akan diakreditasi, karena peran seorang pengawas sangat dibutuhkan, yakni kaitannya dalam peningkatkan mutu pendidikan, memberikan wawasan kepada guru-guru melalui penambahan ilmu dan ini hendaknya dilakukan secara periodik”, katanya.

Selain itu, dipaparkan ayah dari Surya Budi Ranjaya dan Nadia Rahmadani ini, bahwa tugas pokok pengawas adalah menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya.

“Tugas menilai dan membina bukanlah tugas yang ringan, yang sekedar datang berkunjung ke sekolah untuk berbincang-bincang sejenak dan setelah itu pulang tanpa ada tidak lanjutnya. Tugas menilai dan membina membutuhkan kemampuan dalam hal kecermatan melihat kondisi sekolah, ketajaman analisis dan sintesis, ketepatan memberikan treatment yang diperlukan, serta komunikasi yang baik antara pengawas sekolah dengan setiap individu di sekolah. Arti pembinaan sendiri adalah memberikan arahan, bimbingan, contoh dan saran dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, untuk itu diperlukan keteladanan dari pihak pengawas sekolah dalam melaksanakan tugasnya”, imbuhnya.

Hal kedua yang terpenting menurutnya adalah kemampuan yang memadai. Peran pengawas itu vital atau sangat penting. Pengawas sekolah lah yang menjadi ujung tombak penjamin mutu pendidikan. Sekalipun para guru telah dilatih mengenai kurikulum baru, atau pun berbagai inovasi dalam pembelajaran, di lapangan mereka akan mengalami kesulitan dan tantangan. Disinilah pentingnya peran pengawas.

“Pengawaslah yang diharapkan dapat memberikan masukan, saran dan bahkan meningkatkan motivasi dan semangat para guru agar tidak patah arang dalam mencoba menerapkan gagasan, pengetahuan dan keterampilan mereka di kelas”, jelasnya.

Ditambahkan Budi Joss, bahwa kemampuan yang dibutuhkan seorang pengawas, haruslah utuh. Kepala sekolah masih memerlukan bimbingan dalam melaksanakan manajemen yang transparan dan akuntabel, dalam menerapkan kepemimpinan partisipatif. Para guru sangat memerlukan bantuan teknis dalam mengelola pembelajaran di kelasnya. Kemampuan lain yang juga penting adalah kemampuan dalam melaksanakan teknis supervisi.

“Manakala kemampuan di atas tidak dimiliki pengawas, jangan terkejut bila yang kita temukan adalah pengawas yang "tidak dihargai" oleh para guru dan kepala sekolah. Mungkin ada pengawas yang bangga karena para guru dan kepala sekolah takut dengannya. Sungguh sayang. Karena rasa takut guru terhadap pengawas, sungguh berbeda dengan rasa hormat. Sungguh ironis karena seharusnya pengawas menjadi figur yang dicintai dan selalu diharapkan kehadirannya oleh para guru”, pungkasnya. (Trie)


Drs. Purwoto - Kepala UPT Disdik Pora Bandar : “Keberhasilan UASBN Merupakan Prestasi Komulatif”

Hasil UASBN tahun 2007/2008 di wilayah UPT Disdik Pora Kecamatan Bandar yang sudah bagus, diharapkan untuk tahun ini agar bisa meningkat, minimal harus selalu bagus. Demikian yang disampaikan kepala UPT Disdik Pora Bandar, Drs. Purwoto kepada tim liputan JPBB diruangannya beberapa waktu lalu.

Dipaparkan pria kelahiran 28 Maret 1958 ini, bahwa hasil UASBN yang tertinggi di wilayah Bandar untuk tahun lalu adalah 27,00 untuk 3 mata pelajaran, dengan asumsi rata-rata 9. “Untuk mata pelajaran IPA nilai tertinggi 9,25, mata pelajaran Matematika dengan nilai 10 dan mata pelajaran Bahasa Indonesia nilai tertinggi 9,2”, paparnya.

Guna menghadapi UASBN pada tahun ajaran 2008/2009 ini, pihaknya tengah melaksanakan beberapa persiapan, yang diantaranya sedang menggalakkan untuk memberikan les tambahan kepada siswa, mengadakan latihan-latihan soal maupun try out, pemberian dorongan/motivasi kepada guru dan kepala sekolah serta memberikan trik-trik cara pembelajaran yang maksimal.

“Selain dari rapat, kita juga memotivasi lewat kunjungan- kunjungan UPTD. Dalam konteks ini, kami memotivasi satuan pendidikan bahwa yang menuju ujian bukan hanya prestasi khusus guru kelas 6, tapi merupakan prestasi komulatif guru kelas 1 hingga kelas 6. Jadi, guru kelas 1 dan 2 adalah sebagai tonggak untuk pemahaman membaca dan menulis kalimat soal”, paparnya.

Adapun trik yang disampaikan pihaknya adalah metode lafal lambat, yang merupakan penggabungan dari metode SAS (Strukture Analisis Synthetic) dan Eja (Pengejaan).

“Pada awal kami berkunjung kegugus, kami berikan pemahaman trik-trik dengan metode baru yakni metode lafal lambat, atau metode alternatif gabungan dari metode SAS (Strukture Analisis Synthetic) dan Eja (Pengejaan)”, jelasnya.

Menurutnya, apabila metode lafal lambat ini dilaksanakan maka akan membuahkan hasil. Dan metode ini telah disosialisasikan melalui KKG untuk kelas 1 dan 2.

“Upaya kami tidak hanya berhenti di kelas 6 saja, namun untuk membuahkan hasil yang maksimal, perlu adanya program jangka panjang, yakni menggunakan metode tersebut. Harapan kami, UASBN untuk tahun ajaran ini bisa meningkat, baik dari segi kualitas dan kuantitasnya”, pungkasnya. (Trie)

Hj. Kamilah, S.Pd, M.Pd – Kepala UPT Disdik Pora Warungasem : “Pendidikan dan Kedisiplinan Harap Ditingkatkan”


Sejak menjabat sebagai Kepala UPT Disdik Pora Warungasem, Hj. Kamilah, S.Pd, M.Pd berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan diwilayah yang sudah dipimpinnya sejak tanggal 30 Desember 2008 lalu.

Dikatakan wanita kelahiran Tegal 5 Oktober 1956 ini, guna mendongkrak peningkatan mutu di Kecamatan Warungasem, pihaknya menginginkan jajaran pendidik diwilayahnya, hendaknya sudah berkualifikasi akademik S1.

“Ini menjadi program kami untuk meningkatkan mutu pendidikan di warungasem dengan mendorong jajaran pendidik atau guru-guru kami minimal harus berkualifikasi S1, dan kami ingin meningkatkan mutu kepala sekolah agar jujur, transparan, serta berdisiplin waktu”, katanya.

Menurut mantan Pengawas TKSD Kecamatan Tulis yang kini membawahi 24 SD Negeri, 9 MI, 11 TK dan 9 RA diwilayah Warungasem ini, hal tersebut sudah disosialisasikan melalui konsolidasi dan koordinasi dengan kepala sekolah, dan jajaran lainnya.

“Selain dalam rangka pengenalan, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan, baik melalui kegiatan-kegiatan KKG, dengan tujuan peningkatan mutu dan menciptakan kondusifitas pendidikan di Warungasem”, imbuhnya.

Menyikapi persiapan pelaksanaan UASBN, warga Jl. Gajahmada Gg. Sriti No. 108 Batang ini berharap agar hasil dari UASBN diwilayah yang dipimpinnya ini agar lebih baik dari tahun kemarin.

“Dengan adanya UASBN, kita sudah melakukan banyak persiapan, salah satu diantaranya adalah menambah jam belajar. Kami berharap agar Pendidikan dan Kedisiplinan untuk ditingkatkan, guna pencapaian mutu pendidikan di kecamatan Warungasem yang maksimal”, pungkasnya. (Trie)



Muhajir, S.Pd - kepala UPT Disdik Pora Bawang : “Kita Harus Menguasai Professional Skill”


Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Pun halnya berlaku bagi guru atau kepala sekolah yang menginginkan untuk bisa professional, mereka harus mempunyai kemampuan/skill, untuk itu diperlukan keinginan untuk mengaktualisasikan diri. Seperti penuturan Muhajir, S.Pd selaku kepala UPT Disdik Pora Bawang, bahwa pihaknya menginginkan jajaran pendidik yang ada disekolahnya memenuhi kriteria tersebut.

Dipaparkan pria kelahiran 7 September 1955 ini, bahwa ada beberapa tips atau acuan untuk guru maupun kepala sekolah untk bisa memenuhi kriteria professional.

“Yang pertama untuk kepala sekolah ada 7 profesional skills, yakni Tehnical skills yang artinya mampu intelektulnya, Akademik skill yang berarti menguasai kemampuan akademik, Thinking skills artinya kemampuan berfikir, Self awareness skills artinya mengaktualisasikan diri sendiri, Social skill artinya kemampuan sosial, Managerial skill artinya kemampuan manajemen, dan Human relation skill artinya berhubungan dengan masyarakat serta ditambah mengajar selama 6 jam”, jelasnya.

Selain itu ditambahkan Muhajir, juga ada beberapa ciri guru professional, yakni keahliannya tentang SD, artinya mengetahui sepenuhnya tentang SD sebagai tempatnya bekerja, kemudian tanggung jawab terhadap tugas, yang meliputi ; disiplin waktu dalam pelaksanaan kerja, disiplin kerja, mau dan harus melaksanakan kerja dalam lancarnya KBM, disiplin dalam absen hadir dan pulang, disiplin dalam administrasi kelas maupun tugas sekolah.

“Juga ada Kesejawatannya yang artinya mau dan mampu membantu yang yunior, kemudian meningkatkan diri sendiri sebelum membina orang lain, berfikir kreatif yang artinya selalu ingin maju tanpa harus diperintah, terampil mengambil keputusan, terampil mampu memecahkan masalah, mampu mengelola diri sesuai dengan kemampuan, mampu berkolaborasi / variasi tugas, hasil kerja dapat terukur dan mampu mengukur kinerjanya dan melakukan komunikasi efektif serta kontrol yang luwes dari berbagai pihak”, paparnya.

Menyinggung persiapan menghadapi UASBN, pihaknya telah melakukan pengarahan dan sosialisasi kepada sekolah.

“Kami sudah melakukan sosialisasi seperti yang diarahkan oleh dinas, yakni mengadakan les selain adanya kegiatan belajar mengajar. Namun kegiatan ini diadakan sesuai dengan kondisi, karena wilayah kami merupakan daerah pedalaman, dan kami tidak menyetop untuk menonton televisi, karena ini suatu kebutuhan dan terkait hak asasi. Menurut saya, anak ditekan terus tidak akan berhasil, sekali-kali perlu refreshing, disesuaikan dengan kondisi anak”, imbuhnya.

Selain itu, persiapan yang lain juga sudah dilaksanakan pihak UPT Disdik Pora Bawang, diantaranya memberikan pelatihan dan diklat pengetahuan bagi guru kelas 6 dalam kbm.

“Hal ini sudah kami sosialisasikan kepada kepala sekolah dan guru. Harapan kami, bagi guru yang telah bersertifikasi, usahakan untuk bisa meningkatkan keberhasilan anak, diharapkan agar bisa lebih baik”, pungkasnya. (Trie)

SD NEGERI KARANGTENGAH 01 SUBAH TANAMKAN SEMANGAT NASIONALISME


Dalam upaya menumbuhkembangkan jiwa dan semangat nasionalisme kepada anak didik, SD Negeri Karangtengah 01 Kecamatan Subah telah menerapkan beberapa kegiatan dengan tujuan tersebut. Dijumpai disekolah yang dipimpinya sejak 4 tahun lalu ini, Supriyanti, S.Pd menuturkan, kegiatan ini dilaksanakan mulai jam 7 pada saat awal masuk kelas.

“Awal masuk jam 7, anak-anak melakukan penghafalan dibidang keagamaan yakni Asma’ul Husna, dan dibidang nasionalisme anak-anak kami wajibkan untuk menghafalkan Pancasila, Sumpah Pemuda, Proklamasi dan khusus pembacaan UUD 1945 untuk kelas 4, 5 dan 6. Dan dibidang budi pekerti, kami juga menanamkan kepada anak didik dengan mengucapkan salam serta pelaksanaan BTQ selama 10 menit, dengan harapan agar anak-anak hafal sampai melekat”, jelasnya.

Ditambahkan wanita kelahiran 28 desember 1962 ini, selain program menumbuhkembangkan semangat nasionalisme kepada anak didik, pihaknya juga berkomitmen untuk bisa lebih maju lagi.

“Program kedepan kami ingin lebih maju lagi, baik bidang akademik maupun non akademiknya, walaupun guru kelas hanya ada 3 orang, kami tetap semangat mewujudkan Visi sekolah untuk berprestasi, beriman dan bertaqwa dan kami ingin sekolah kami ini lebih maju, setara dengan SD – SD yang ada dibawah”, papar istri dari Wahyusin yang juga selaku Kepala UPT Disdik Pora Kecamatan Batang ini.

Kendati prestasi akademik baru peringkat IV kecamatan, ibu dari Kurnia Eka Noviyanto, Winda Kartika, Kusumaningtyas ini menambahkan, beberapa prestasi lainnya telah diraih oleh sekolah dengan jumlah siswa 128 ini.

“Sekolah kami telah terakreditasi A dan telah meraih Administrasi terbaik tingkat Kabupaten Batang, Juara umum pramuka putri, Juara tergiat I Sektor Jumbara PMR, Juara II lomba kreatifitas siswa, Juara Harapan II Olimpiade IPA, Juara III Tari Putra, Juara II Tari Putri, Jambore Penggalang Juara Umum Putri, dan Tergiat I”, pungkasnya. (Trie)

Tasmali ; Kepala MI Tumbrep 01 Bandar “MADRASAH SETARA SEKOLAH DASAR”

Bagaimana tidak, kini madrasah sudah tidak dipandang sebelah mata. Dikarenakan jajaran pengurus yayasan maupun lembaga dan pengelola pendidikannya mau untuk bisa lebih maju. Terbukti dibeberapa madrasah, baik jumlah siswa maupun prestasinya bahkan bisa melebihi sekolah negeri. Salah satunya MI Tumbrep 01 Bandar yang dipercaya oleh masyarakat sekitar untuk mendidik 208 siswa.

Seperti penuturan Tasmali selaku kepala madrasah, bahwa beberapa prestasi anak didiknya sudah cukup untuk diperhitungkan, diantaranya prestasi pada popda seni tingkat kecamatan Bandar yang meraih Juara II Tolak Peluru, Juara II Catur, Juara I Lari Estaffet, dan meraih Juara II Bola Voley pada Porseni MI Kabupaten Batang tahun 2006 serta Juara II lompat jauh putri pada Porseni IV tingkat Provinsi.

“Alhamdulillah, madrasah kami kini sudah sesuai dengan keinginan masyarakat, sehingga masyarakat tidak pernah mengeluh. Ditambah untuk tahun 2008 lalu, sekolah kami dipercaya untuk mengelola bantuan DAK Bidang pendidikan kategori I untuk membangun 5 lokal kelas rehab berat, pengeramikan dan eternit, serta mebeler 3 lokal dan pembenahan wc, sehingga sekolah kami lebih representatif”, paparnya.

Menurut kepala madrasah kelahiran 29 Juli 1963 ini, bahwa pihaknya masih berharap adanya bantuan lagi, untuk 1 unit bangunnan yang di sebelah utara ditambah dengan mebelernya. “Juga diharapkan adanya bantuan buku pegangan siswa yang sesuai dengan KTSP, sehingga tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa bisa selaras”, pungkasnya. (Trie)

GURU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Oleh: Ali Budi, SH, MH, M.Sc

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.

Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.

Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.

Bagaimana peranan filsafat pendidikan bagi guru? Apa yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru?. Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:

1. Metafisika

Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.

Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:

• Manusia adalah makhluk jasmani rohani

• Manusia adalah makhluk individual sosial

• Manusia adalah makhluk yang bebas

• Manusia adalah makhluk menyejarah

2. Epistemologi

Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu kesituasi lainnya? Dan akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?

Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat/kepentingan masing-masing guru, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu Tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.

Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

3. Aksiologi

Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial. Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang benar-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?.

Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.

Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang guru mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional guru. Setiap guru baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.

Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.

Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya:

1. Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran : Komponen penting filsafat pendidikan seorang guru adalah bagaimana memandang pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokok guru? Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang spontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian guru menekankan pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya menekankan perilaku siswa.

2. Keyakinan mengenai siswa : Akan berpengaruh besar pada bagaimana guru mengajar? Seperti apa siswa yang guru yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik guru. Pandangan negatif terhadap siswa menampilkan hubungan guru-siswa pada ketakutan dan penggunaan kekerasan tidak didasarkan kepercayaan dan kemanfaatan. Guru yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui bahwa anak-anak berbeda dalam kecenderungan untuk belajar dan tumbuh.

3. Keyakinan mengenai pengetahuan : Berkaitan dengan bagaimana guru melaksanakan pengajaran. Dengan filsafat pendidikan, guru akan dapat memandang pengetahuan secara menyeluruh, tidak merupakan potongan-potongan kecil subyek atau fakta yang terpisah.

4. Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui : Guru menginginkan para siswanya belajar sebagai hasil dari usaha mereka, sekalipun masing-masing guru berbeda dalam meyakini apa yang harus diajarkan.

Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut.

Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.

Kemah Bhakti Langit Biru II Antar Saka Bhayangkara Tanam 26.100 pohon


Pada tanggal 24 - 25 Januari 2009 lalu di Lapangan desa Madugowongjati diadakan Kemah Bhakti Langit Biru II yang diikuti oleh anggota saka Bhayangkara dari Sukorejo, Rowo Sari, Boja, Tersono, Pecalungan, Gringsing dan Pangkalan SMA Negeri I Gringsing serta SMA NU Almunawir Gringsing selaku tuan rumah.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh 328 peserta ini juga turut hadir Ka.Bag. Bina Mitra Polres Batang, Waka Polres Kendal, Ka. Kwarcab Batang, Muspika Kecamatan Gringsing, Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Gringsing dan Sponsorship.

Menurut Mahbrur selaku Instruktur saka Bhayangkara Polsek Gringsing menuturkan, bahwa Kemah Bhakti Langit Biru II merupakan salah satu cara membungkus program langit biru agar lebih menarik serta dapat mempererat tali persaudaraan. Dalam perkemahan ini, berisi serangkaian kegiatan pendidikan dan pelatihan serta permainan yang terprogram dengan konsep kegiatan yang inovatif, kreatif, dan edukatif dalam rangka mengembangkan bakat, kemampuan, serta potensi anggota Saka Bhayangkara.

“Program Langit Biru merupakan program tahunan Saka Bhayangkara Polsek Gringsing yang sudah berlangsung sejak tahun 2000. Dimana telah dilaksanakan di desa-desa di wilayah Kecamatan Gringsing dan sekitarnya. Program ini berisi kegiatan bhakti sosial berupa penanaman pohon atau reboisasi. Tujuannya adalah untuk menghijaukan kembali Bumi Indonesia khususnya wilayah Gringsing dan sekitarnya. Hal ini dipandang sangat perlu mengingat mengingat wilayah kita ini, kian hari makin bertambah gersang. Sehingga dikhawatirkan suatu saat akan terjadi bencana alam akibat berkurangnya jumlah pepohonan”, katanya.

Menurut Mahbrur, aksi serupa juga sedang gencar-gencarnya dilaksanakan oleh PBB melalui United Nation Climate Change. Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya KTT perubahan iklim yang dilaksanakan di Bali beberapa waktu yang lalu. Melalui KTT tersebut, telah dihasilkan keputusan-keputusan yang harus ditaati oleh tiap negara, diantaranya untuk mengurangi emisi gas buang ke udara bebas, mengembalikan kembali fungsi hutan, dan sebagainya. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan kondisi bumi dapat pulih kembali seperti sedia kala.

“Melalui program langit biru, walaupun sedikit, diharapkan mampu membantu pelaksanaan keputusan-keputusan KTT tersebut. Dan melalui program langit biru, diharapkan masyarakat dapat terinspirasi untuk melakukan program serupa secara mandiri”, imbuhnya.

Ditambahkan Mahbrur yang juga guru MI Lebo 01 Gringsing ini, Mengenai kegiatan inti yang berupa Penanaman Pohon, diperoleh bibit dari Dishubtbun Kabupaten Batang, Asper KB KPH Plelen dan PT. KMD (Karisma Megah Darma) dengan total jumlah 26.100 bibit pohon.

“Penanaman bibit pohon diadakan di 2 tempat, yakni Desa Tedunan dan Desa Madugowongjati, kemudian untuk sisanya telah disalurkan ke beberapa Desa, yakni Desa Banaran, Desa Ketanggan, dan Desa Penundan”, paparnya.

Dalam kesempatan itu, Mahbrur juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada PT KMD Gringsing dan CV Bina Lestari yang telah membantu dalam pengadaan pohon serta pihak lain yang telah membantu terselenggaranya acara ini. (Mab/Trie)

UPT Dikdis Pora Kecamatan Reban Adakan Seminar Tematik

Guna meningkatkan mutu ketrampilan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik, UPT Dikdis Pora Kecamatan Reban mengadakan seminar tematik untuk para pendidik, baik Guru SD dan MI se Kecamatan Reban beserta Kepala Sekolah.

Hal ini seperti yang disampaikan Kepala UPT Dikdis Pora Kecamatan Reban Drs. Maksum kepada tim liputan JPBB disela-sela acara Sosialisasi PP 74 oleh PGRI Kabupaten Batang beberapa waktu lalu.

Dikatakan pria kelahiran 16 Juni 1960 ini, kegiatan seminar tematik ini dibagi menjadi 2 tahapan. Untuk tahap pertama telah diselenggarakan bulan Desember lalu. “Kami telah mengadakan seminar tematik tahap pertama untuk guru Kelas 4, 5 dan 6 yang diselenggarakan di Sojomerto bulan Desember 2008 lalu. Dan untuk tahap kedua, kami akan menyelenggarakan seminar tematik untuk guru kelas 1, 2 dan 3”, paparnya.

Seminar Tematik tahap kedua ini rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 4 Maret 2009 di Reban. “Dalam kegiatan ini, kami bekerjasama dengan Penerbit Erlangga dengan mendatangkan nara sumber dari Jawa Timur. Dengan harapan, dengan diadakannya kegiatan ini, mutu pendidikan di wilayah kecamatan Reban akan lebih baik”, pungkasnya. (Trie)

SMK NEGERI 1 BATANG SIAPKAN KOMPETENSI SISWA


SMK Negeri 1 Batang sebagai salah satu sekolah kejuruan di kabupaten Batang dalam upayanya menyiapkan calon tenaga kerja yang handal sesuai dengan bidang dan tugas yang di butuhkan di dunia ketenagakerjaan, tengah mengoptimalkan segala potensi yang dimilkinya untuk menyiapkan dan menyelenggarakan proses pembelajaran yang lebih fokus lagi untuk menyipakan calon tenaga kerja yang mempunyai kompetensi yang handal sesuai dengan perkembangan akan kebutuhan penyiapan tenaga kerja yang mempunyai sikap mental (Attitud) dan keahlian (Skill) yang memadahi.

Untuk itu, penyiapan sarana dan prasarana yang harus ada segera di lengkapi dengan di barengi penyiapan ruang belajar dan pendukung lainya, seperti rehab untuk 4 lokal ruang belajar, penyiapan ruang TUK atau tempat uji kompetensi, penyediaan SIM Perpustakaan atau Sistym Informasi Manenjemen tempat uji kompetensi yang kesemuanya itu didukung oleh program pemerintah baik dirjen pendidikan maupun dinas pendidikan kabupaten Batang, yang tentunya dengan partisipasi komite sekolah.

Di samping itu, penyediaan tenaga pendidik yang ahlipun tengah disiapkan agar proses sertifikasi kompetensi sesuai dengan standar yang tentukan, seperti telah adanya guru yang lulus sertifikasi assessor diantaranya Drs. Kardiyono (KKPI), Drs. Nurhayati (Penjualan) dan Drs. sulistio ( Akutansi ), serta tiga guru lagi sedang mengikuti proses sertifikasi Assesor akademik.

”Dengan adanya beberapa guru yang telah lulus dan sedang mengikuti sertifikasi Assesor, kami berharap kinerja dan kwalitas lulusan sekolah kami dapat mempunyai kualifikasi yang diharapkan dengan kebutuhan riil tenaga kerja. Sehingga tujuan bersama untuk menjadikan dunia pendidikan sebagai asset bangsa dapat terealisasikan“, Jelas Drs. Sugito selaku kepala sekolah SMK Negeri 1Batang di ruang kerjanya. (Nuridin)

Dra. Niken Susilastuti : “PERANGKINGAN MEMOTIVASI SISWA”


Beberapa persiapan menghadapi Ujian Nasional tengah dilakukan di SMP Negeri 1 Gringsing, diantaranya adalah pelaksanaan perangkingan dari hasil try out untuk memotivasi siswa, untuk bisa masuk keperangkingan atau kelompok teratas sebagai ajang kompetisi. Hal ini seperti yang disampaikan Dra. Niken Susilastuti selaku kepala sekolah yang didampingi Suratman, S.Pd selaku Wakil kepala sekolah dan Sugimin, S.Pd selaku Urusan Kurikulum, kepada tim liputan JPBB beberapa waktu lalu.

“Untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional, kami telah melaksanakan 2 kali Try Out UN, dan try out diprogramkan setiap bulan sekali dimulai sejak bulan Januari lalu. Dengan kondisi try out yang sama dengan UN. Kemudian, langkah hasil try Out dibuat peringkat / perangkingan, dan dari hasil rangking untuk penentuan kelompok, dengan tujuan untuk memotivasi siswa dalam rangka kompetisi”, paparnya.

Dijelaskan wanita kelahiran Surakarta, 29 Juni 1960 ini, bahwa dalam masing-masing kelompok, pemberian materi disesuaikan dengan kemampuan anak. “Konsep ini sudah diterapkan tahun kemarin, dan hasilnya 100 %. Dengan konsep ini, anak-anak semakin terpacu untuk masuk kelompok atas, sehingga kami yakin, anak-anak akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa masuk ke pengelompokan teratas. Dan setiap kali try out, kelompoknya bisa berubah-ubah, serta strategi/metode pengajaran disesuaikan dengan tingkat kelompok. Kita juga mengadakan tes psikologi untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar IQ anak”, jelasnya.

Selain itu, ditambahkan kepala sekolah yang menjabat sejak bulan Maret 2008 ini, selain adanya try out, persiapan yang lainnya juga diadakan penambahan jam pelajaran. “Kami menambah jam intranya masing-masing 1 jam untuk mata pelajaran yang di ujian nasionalkan, yakni Bahasa Indonesia, Matematika, Ipa dan Bahasa Inggris, atau yang lebih dikenal dengan program KTSP Plus. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak pulang pagi, karena dalam kenyataanya, anak-anak pulang pagi tidak fokus belajar. Dalam hal ini, proses KBM pulangnya tidak terlalu pagi. Ini berlaku untuk semua kelas, dalam rangka mengefektifkan”, paparnya.

Persiapan yang lain, pihak SMP Negeri 1 Gringsing juga menjalankan pengayakan yang dimulai sejak semester II. “Sejak semester II kami mengadakan pengayakan untuk kelas 9, untuk 4 mata pelajaran, dengan melibatkan guru kelas 7, 8 dan 9. Anak dibagi perkelas masing-masing 20 sehingga ada 10 kelompok, 1 meja 1 anak yang dilaksanakan selama 4 hari. Dalam hal ini, semuanya saling kerjasama dan menjadi tanggungjawab bersama dengan melibatkan 13 pembimbing. Dan materi pengayakan diberikan latihan soal serta pembahasan, jadi tidak ada kata pengulangan materi”, imbuhnya.

Dipaparkan bu Niken panggilan akrabnya, bahwa selain persiapan materi, persiapan rohani atau mental juga dilaksanakan oleh pihaknya. “Setiap pagi kami menyelenggarakan do’a khusus untuk lulus ujian yang dilaksanakan sebelum pelajaran dimulai dan menjelang ujian kita juga mengadakan istighosah, terlebih waktu ujian tiba, kami mengadakan istighosah dan siswa meminta do’a restu kepada orang tua serta guru, dengan harapan untuk memotivasi mereka, sehingga mereka tersugesti”, katanya.

Menyinggung persiapan sebagai calon SSN, pihaknya kini tengah melaksanakan Penanaman budaya, yakni Budaya Bersih, Budaya Senyum, Salam, Sapa dan Budaya Minat Baca bagi seluruh warga sekolah. “Penanaman Budaya ini kita canangkan dan harus kita laksanakan. Harus ada perubahan dengan adanya peningkatan prestasi. Secara performen, tampilan harus terlihat. Dalam hal ini kita harus meningkatkan disiplin dan etos kerja, karena tanpa kedisiplinan, semuanya tak bisa diraih. Ini berlaku untuk semua warga sekolah dan kami berharap adanya dukungan dari komite serta masyarakat. Harapan kami, SMP Negeri 1 Gringsing menjadi yang terbaik dan selalu berprestasi, baik dalam bidang akademik, maupun bidang non akademik, dan lingkungan sekolah yang kondusif”, pungkasnya. (Trie)