Senin, 09 April 2012

SMP NEGERI 3 KANDEMAN RAPATKAN BARISAN UNTUK MAJU


SMP Negeri 3 Kandeman berkomitmen untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan yang ada. Inilah komitmen bersama yang dirangkai seluruh warga sekolah, baik oleh jajaran dewan guru, siswa, penjaga sekolah, komite sekolah dan masyarakat yang di komandoi oleh Edi Kuncoro, S.Pd selaku kepala sekolah.
Dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 11 kelas, jumlah siswa sebanyak 413 anak, dan dibimbing oleh 20 orang guru, 5 orang tenaga admistrasi, 1 orang pesuruh, 2 orang tenaga kebersihan dan 1 orang penjaga malam, serta 6 orang pengurus komite sekolah, sekolah ini menempati lahan seluas kurang lebih 1,5 hektar.
Lokasi sekolah yang kebetulan berada dekat dengan pemukiman penduduk, tepatnya di Desa Botolambat Kecamatan Kandeman, menjadikan warga sekolah khususnya siswa banyak berinteraksi dengan warga masyarakat. Apalagi sampai saat ini belum ada pagar pembatas atau pagar pengaman antara lingkungan sekolah dengan lingkungan penduduk. Hal ini sedikit banyak menyebabkan problem dalam hal ketertiban siswa, serta hal-hal yang berhubungan dengan interaksi tersebut. Kebersihan dan keindahan lingkungan juga kurang terjamin. Apalagi kondisi tanah lingkungan sekolah adalah tanah merah yang sangat lengket jika dalam kondisi basah.
Diakui kepala sekolah, bahwa secara umum kondisi fisik sekolah termasuk dalam keadaan baik, meskipun memang perlu adanya perbaikan pada beberapa bagian. Lebih-lebih bagian ruang yang berhubungan langsung dengan siswa, misal ruang kelas dan wc siswa.
“Pernah saya lakukan dialog dengan beberapa siswa, bahkan saya ajukan pertanyaan pada mereka “Apa yang kalian inginkan dari kondisi sekolah seperti sekarang ini? Silakan tulis pendapat kalian pada selembar kertas”. Dari jawaban siswa, hampir semua menghendaki untuk di prioritaskan pada perbaikan wc siswa, yang kenyataannya memang sangat mendesak untuk diperbaiki”, tuturnya.
Diakui pria kelahiran Batang, 5 April 1966 ini, untuk merubah sekolah yang dipimpinnya ini, dirinya menerapkan program kerja 100 hari dengan dukungan dari berbagai pihak dan stake holder yang ada. Terlebih, kondisi khusus SMP Negeri 3 Kandeman dengan berbagai macam latar belakang dan kepentingan guru, staf karyawan, pengurus komite, bahkan warga masyarakat, maka dalam berkomunikasi dan berinteraksi di antara elemen tersebut banyak terjadi hal-hal yang perlu mendapat perhatian yang serius dari kepala sekolah.
“Hal yang perlu mendapat perhatian serius, contohnya adalah yang pertama kurang harmonisnya hubungan antarwarga sekolah, warga sekolah dengan komite, bahkan warga sekolah dengan kepala sekolah, dan yang kedua adalah kurang adanya kebersamaan antarwarga sekolah”, ungkapnya.
Dijelaskan Edi, bahwa kedua keadaan tersebut jelas akan berpengaruh pada keadaan sekolah secara menyeluruh, baik yang berkaitan dengan kinerja guru, staf karyawan, maupun kepala sekolah. Kondisi semacam ini timbul karena beberapa hal, diantaranya adalah kurang adanya saling menghargai, kurang adanya komunikasi, kurangnya rasa saling percaya, dan kurangnya keterbukaan.
“Hal inilah yang menjadi target utama saya dalam 100 hari pertama sebagai kepala sekolah untuk dapat menciptakan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam benak saya hanya ada dua kata “KONDUSIF” dan “DEWASA”. Ya, hanya dalam keadaan yang kondusiflah, warga sekolah dapat menunjukkan kinerja yang baik. Hanya dalam keadaan yang kondusif dan memiliki sikap dewasa pada setiap warga sekolah maka mereka akan menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya”, paparnya.
Edi menambahkan, dalam upayanya menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang kondusif, dirinya mencoba melakukan teknik pendekatan personal yang baik. Dengan cara berbicara dari hati ke hati, dengan penuh rasa kekeluargaan dan rasa kebersamaan. Dirinya mempunyai harapan agar setiap warga sekolah mau mengungkapkan perasaan, harapan, ide, gagasan, pendapat, pikiran, masukan, saran, dan kritik yang membangun kepada dirinya untuk kemajuan sekolah.
“Sebagai langkah awal, pada hari kedua dalam melaksanakan tugas, saya mengadakan pertemuan dengan seluruh warga sekolah untuk berkoordinasi sekaligus perkenalaan personal secara lebih dalam. Pada hari berikutnya dilakukan pertemuan dengan komite sekolah dan tokoh masyarakat sekitar sekolah, dengan agenda yang sama. Alhamdulillah, dengan langkah awal saya dapat diterima dengan baik. Dengan bermodalkan pertemuan yang baik ini, pada hari-hari berikutnya dilanjutkan dengan pertemuan secara pribadi atau secara personal dengan seluruh warga sekolah dan juga dengan semua pengurus komite sekolah dengan harapan yang bersangkutan merasa diperlukan dan dihargai perannya di sekolah”, ungkapnya.
Dari pendekatan personal yang dilakukan kepala sekolah kepada setiap warga sekolah termasuk pengurus komite, secara pribadi dan kekeluargaan, diakui Edi Kuncoro dapat diperoleh beberapa masukan yang sangat berarti.
“Dengan bermodalkan masukan dari beberapa warga sekolah dan pengurus komite sekolah tersebut, akhirnya saya dapat menarik suatu kesimpulan untuk melaksanakan program sekolah dan kebijakan yang akan diambil”,imbuhnya
Langkah berikutnya yang dilakukan kepala sekolah adalah mengaktifkan kegiatan Jumat Sehat. Karena menurutnya, melalui kegiatan Jumat Sehat, semua warga sekolah, baik siswa, guru, maupun staf karyawan, secara serentak bersama-sama melakukan olahraga yang dikoordinasi oleh urusan kesiswaan dan guru penjas orkes. Dengan materi olahraga yang bervariasi, dan diakhiri dengan kudapan sederhana, kegiatan Jumat Sehat ini dapat dijadikan sarana untuk menjalin kebersamaan.
“Perasaan senang dan gembira yang dirasakan oleh bapak/ibu guru serta staf karyawan setelah olahraga bersama, tampak sekali dalam melaksanakan kegiatan berikutnya. Kegiatan-kegiatan lainnya diupayakan untuk dilakukan secara bersama, dengan maksud agar tercipta rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang erat. Disamping itu, diharapkan akan muncul tenggang rasa dan perasaan saling menghargai antar sesama”, jelasnya.

100 Hari Pertama Program Kerja
Jumat 12 Februari 2010 tepat 100 hari pertama Edi Kuncoro, S.Pd melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 3 Kandeman. Meskipun tidak lepas dari segala permasalahan yang ada, diakui Edi dalam 100 hari pertama ini dapat dikatakan berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan terciptanya suatu kondisi sekolah secara menyeluruh dengan baik.
“Suka dan duka tetap menyertai setiap langkah. Namun, duka yang tidak seberapa dapat hilang di telan rasa suka yang ada. Bagaimana tidak, dapat saya katakan bahwa secara umum di SMP Negeri 3 Kandeman sekarang ibarat sebuah keluarga, sudah tercipta kondisi yang damai dan tentram”, katanya.
Secara fisik, program kerja yang dapat terlaksana dalam 100 hari kerja juga sudah terealisasikan diantaranya adalah penanaman pohon penghijauan sebanyak 40 pohon glodhog pecut, 20 pohon mangga, 20 pohon mahoni, 20 pohon durian. Kemudian mengadakan 1 unit komputer lengkap printer untuk ruang guru sekaligus teralis besi pengaman, kemudian menambah 1 unit komputer untuk TU, rehab 4 ruang kamar mandi dan WC siswa, Pengadaan dan pemasangan saluran air, pengadaan seragam kaos olahraga dan kain batik untuk guru, staf karyawan dan pengurus komite, dan membuat tempat parkir untuk guru karyawan.
“Sedangkan program kerja nonfisik yang telah terlaksana, antara lain, koordinasi semua bagian, pembinaan berkala, konsultasi atasan, Supervisi kelas, pembenahan administrasi guru, reposisi anggaran, serta menggerakkan dan mengaktifkan kekeluargaan di sekolah”, imbuhnya.
Keberhasilan awal melaksanakan program kerja pada 100 hari pertama melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah diakui Edi Kuncoro adalah keberhasilan menciptakan kondisi yang kondusif. Hal ini didasari atas keinginan bersama untuk berbuat lebih baik demi sekolah. Kondisi yang kondusif ini diperoleh dengan melakukan beberapa tindakan atas kesimpulan yang dibuat dari hasil pendekatan secara personal.
Namun, dikeluhkan Edi, bahwa keberhasilan dalam melaksanakan program kerja pada 100 hari pertama, belum diikuti keberhasilan dalam menumbuhkan sikap dewasa pada warga sekolah.
“Apa saja yang harus dilakukan?” pertanyaan itu akan muncul dari siapa pun. “Menghargai dan menghormati pendapat serta hasil kerja guru dan staf karyawan, memberi contoh yang baik, tidak bersikap pelit, menumbuhkan rasa kekeluargaan, dan yang paling utama adalah adanya keterbukaan”. Itulah yang harus dilakukan karena pada prinsipnya bapak atau ibu guru, staf karyawan dan komite hanya menginginkan adanya keterbukaan, walaupun sebenarnya keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan yang terbatas”, paparnya.
Edi yang memimpin sekolah ini sejak 10 September 2009 ini menyimpulkan, solusi sederhana yang dapat diambil, adalah jika sikap saling “Asah, Asih, Asuh” dapat dikembangkan di mana kita berada, dan dengan situasi yang kondusif serta sikap dewasa bisa dimiliki oleh warga sekolah, maka SMP Negeri 3 Kandeman akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.
”Kami punya 1 motto, tidak ada kata mudah, tetapi tidak ada kata tidak mungkin. Artinya, sesuatu yang kita kerjakan dengan kondisi yang serba kekurangan tidak akan mungkin terwujud, namun tidak ada hal yang tidak mungkin untuk bisa meraih, bisa kita kerjakan kalau kita mau komitmen bersama, untuk mengadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin sulit. Untuk itu, kita mencoba untuk merapatkan barisan agar menjadi satuan pendidikan yang solid untuk dijadikan modal menantang dunia pendidikan yang semakin berkembang”, pungkasnya. (EK/Trie)

SMP AHMAD YANI TIDAK INGIN MATI SURI


SMP Ahmad Yani dibawah naungan Yayasan Islamic Center yang beralamat di Jl. Simbangdesa Kecamatan Tulis tidak ingin mati suri. Hal ini seperti yang dikhawatirkan pihak pengelola sekolah, dikarenakan, dari tahun ke tahun, sekolah ini semakin merosot dalam penerimaan jumlah siswanya.
Dijumpai diruangannya, Rohmahadi selaku kepala Sekolah mengatakan, semakin menipisnya jumlah siswa ini dikarenakan dalam penerimaan siswa, sekolah swasta selalu selalu menjadi pilihan kedua.
”Hal ini juga diperparah dengan penambahan kelas baru di sekolah negeri di tiap tahunnya, sehingga efeknya di sekolah swasta”, tuturnya.
Sekolah yang berdiri pada tahun 1979 ini, saat ini hanya memiliki siswa sejumlah 41 anak, dengan perincian kelas 9 sebanyak 20 anak, kelas 8 berjumlah 14 anak, dan kelas 7 hanya 7 anak.
”Padahal dulu pada tahun 1989 hingga tahun 1998 kita mengalami masa kejayaan. Waktu itu jumlah siswa mencapai 200 lebih siswa. Namun sekarang, walau kami sudah berkorban dengan membelikan seragam, namun antusias masyarakat semakin berkurang, karena memang semua kegiatan disekolah selalu berkaitan dengan finansial, sehingga kalau kita akan memberikan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler kita belum bisa”, keluhnya.
Dipaparkan pria kelahiran Batang, 20 Agustus 1964 ini, ketika dulu pemerintah belum bisa membiayai pendidikan, sekolah ini mampu bertahan, dan seteleh adanya pembiayaan dari pemerintah, sekolah ini malah terpinggirkan. Namun, dari keterpurukan yang ada ini, pihak sekolah masih tetap komitmen untuk terus turut serta mencerdaskan kehidupan anak bangsa, kendati hidup segan mati tak mau.
”Harapan kami, kalau bisa, dinas itu membatasi penerimaan siswa baru disekolah-sekolah negeri, apalagi kalau dikaitkan dengan masalah sekarang yang meggunakan KTSP, masing-masing rombel harusnya 36 anak, paling tidak dengan adanya pembatasan kuota, kami masih bisa berharap dapat murid. Selain itu, kami juga sudah berusaha mendatangi dan mencari informasi, siswa yang tidak sekolah, dengan memberi keringanan tidak mematok uang gedung, bahkan kami berikan seragam 1 stel”, keluhnya.
Rohmahadi berharap, seandainya nanti sekolah sudah tidak mampu beroperasional untuk mempertahankan status sekolah, dirinya menginginkan agar sekolah yang sudah memiliki 6 lokal kelas, 1 ruang gudang, 1 ruang komputer dan 1 ruang kantor ini untuk didirikan SMK.
”Dalam hal ini, saya sudah komunikasi dengan wakil PGRI agar gedung sekolah masih bisa dimanfaatkan. Selain itu harapan saya, walaupun SMP ngga ada, kami mohon untuk guru-guru diberdayakan, karena temen-temen guru saya menilai masih tetap komitmen, peduli dengan pendidikan”, pungkasnya. (Trie)

SMP NU 01 BAWANG TAWARKAN KONSEP BARU UNTUK WARGA NU


Berdirinya SMP NU 01 Bawang pada tahun 2008/2009 berdasar pada program dari ketua Tanfiziyah NU Surjo Wuryanto, S.Pd yang dalam perjalanannya, Wuryanto ikut kedalam pemilihan Kepala Desa tahun 2007. Dari situlah berawal visi dan misi Kades. Salah satu visi dan misinya adalah ikut mencerdaskan warga desa, minimal pendidikan SLTP, disitu juga tercantum pendirian SMP NU 1 Bawang.
Seperti disampaikan Didik Winarno, S.Pd, MM selaku Kepala Sekolah, bahwa yang menjadi dasar kedua adalah minimnya pendidikan desa Surjo untuk wilayah barat, meliputi dukuh harjowinangun, Karangsari, Kuripan dan Lempuyang, dan terhitung penduduk yang memiliki lulusan SLTP sangat minim.
“Berinjak dari itulah SMP NU berdiri. Dan gayungpun bersambut, diawal berdiri, animo masyarakat sangat luar biasa. Ini dibuktikan dengan 40 siswa yang didapat adalah 80% dari blok barat. Dan 1 lagi yang membanggakan kami adalah dari tahun awal didominasi oleh lulusan dari SD Negeri Surjo 2 dan sebagian juga dari SD Negeri Surjo 1 dan SD Negeri Surjo 3”, paparnya.
Dikisahkan Didik Winarno yang saat itu didampingi Abu Khairi selaku tim pendiri dan ketua yayasan, bahwa untuk lokasi di awal tahun berdiri, gedungnya masih bersamaan dengan madrasah diniyah, kemudian dalam perjalanannya, pagi hari digunakan untuk KBM SMP dan sorenya digunakan untuk kegiatan santri madin.
”Dan yang menjadi penyemangat kami sebagai pengelola adalah, keberadaan SMP NU sangat didukung oleh seluruh lapisan masyarakat desa Surjo, baik dari pemerintahan, organisasi NU dan lapisan masyarakat yang lain”, imbuhnya.
Dijelaskan pria kelahiran Batang, 2 Januari 1978 ini, bahwa konsep dasar sekolah yang sudah menginjak tahun ketiga ini sama dengan MTs atau SMP yang lain.
”Keunggulan atau trade mark SMP NU sudah sesuai dengan amanah para pendiri. Dalam hal ini pengurus ranting NU desa Surjo, yang pertama untuk target, kurikulum yang pertama menguatkan dibidang keagamaan, hal ini dibuktikan untuk materi keagamaan ada PAI, Bahasa Arab, ke NU an, akidah ahklak dan fiqih. Itu salah satu dalam bentuk materinya. Dan penguatan selanjutnya, untuk basis kultural ke NU an, siswa SMP NU melakukan sholat dhuhur berjamaah setiap hari dan setelah itu dilanjutkan dengan tadarus dan kultum bergiliran, ini sudah berjalan sejak awal tahun berdiri”, paparnya.
Selain itu, lanjut Didik, untuk kegiatan jumat pagi diselenggarakan sholat dhuha yang berlokasi di masjid Jami’ desa, yang dilanjutkan membaca surat-surat Munfashol, seperti surat Waki’ah, Tabarok dan Yassin.
”Itu sebagai ciri khas penguatan mutu kami, kegiatan ini lebih dikenal dengan nama kegiatan amaliyah. Dari sini bertujuan untuk meminimalkan dan mengendalikan perilaku siswa dari segi penguatan agama. Ciri khas lagi, adalah untuk melestarikan tradisi-tradisi NU. dan dari segi kurikulum, semuanya sama dengan SMP lain yang ada”, imbuhnya.
Perlu diketahui, sekolah yang saat ini memiliki 103 siswa yang terdiri dari kelas 7 berjumlah 37 anak, Kelas 8 sejumlah 28 anak dan kelas 9 38 anak ini sebelum beroperasi, telah mengantongi rekomendasi dari pimpinan cabang LP Ma’arif NU kabupaten Batang dengan No : PC.11.22/LPM/8.36/RC/IV/2008 tentang pemberian izin / rekomendasi pendirian SMP NU 1 Bawang tertanggal 1 April 2008 dan dalam perjalannya mendapat Keputusan dari Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Batang dengan no : 421.3/086/2009 tertanggal 7 Agustus 2009.
”Dan dari segi kepegawaian, saat ini kami telah memiliki 16 guru, 85% diantaranya adalah S1 sesuai jurusan dan ditambah 3 orang tenaga administrasi”, katanya.

Disinggung tentang penggunaan nama SMP dan bukan menggunakan nama Madrasah Tsanawiyah seperti sekolah lainnya yang bernaung di bawah bimbingan LP Ma’arif, Didik yang juga menjabat sebagai sekretaris desa ini menegaskan, bahwa dalam hal ini pihaknya ingin menawarkan konsep baru kepada masyarakat, khususnya warga NU.
”Gelar SMP adalah alternatif untuk warga NU. Ini menjadi salah satu penawaran baru bagi masyarakat, sehingga masyarakat ada pilihan. Dalam hal ini, kita menjembatani keinginan masyarakat”, imbuhnya.
Kendati sekolah yang baru lahir, SMP NU sudah pernah mendapat prestasi pada juara I Putri lomba Tekpram, juara I putri lomba Widgame, juara II lomba Seni Baca Puisi, juara tergiat II kegiatan Jamran thn 2008/2009, Juara I dan III Tartil Putra, juara I tilawah putri dan juara III tartil putri. Untuk itu, pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah agar kedepannya, SMP NU mampu bersaing dan turut mencerdasan anak bangsa.
”Harapan kami kepada pemerintah agar lebih memperhatikan sekolah kita sebagai sekolah yang baru. Kalau ada kesulitan, kami berharap agar bisa dibantu secara bertahap. Dan kami juga berharap kepada masyarakat di kecamatan Bawang, mudahan-mudahan bisa menerima keberadaan SMP NU 01 bawang”, pungkasnya. (Trie)

AGUNG BASUKI, S.Pd

”TUGAS GURU HANYA MENGAJAR”


Menilai dari pengalaman yang ada, bahwa tugas guru adalah hanya mendidik dan mengajar. Guru jangan diberi tugas lain yang bukan pada bidang yang dikuasainya. Beberapa tahun terakhir ini, guru ataupun kepala sekolah mendapatkan tugas tambahan yang sangat membebani pikiran mereka, hingga sedikit mengesampingkan tugas pokoknya sebagai guru karena di sibukkan dengan pengelolaan bantuan Dana Alokasi Khusus bidang pendidikan di sekolahnya masing-masing.
Agung Basuki, S.Pd yang punya pengalaman pahit dalam pengelolaan bantuan ini menilai, pemerintah perlu mengkaji ulang penyerahan bantuan yang harus dikelola oleh pihak sekolah ini. Karena bagaimanapun juga, apabila sebuah tugas yang dikelola oleh orang yang tidak menguasainya, maka akan menimbulkan sebuah efek yang negatif.
Kepala sekolah beserta dewan guru di sekolah penerima bantuan, tak sedikit yang mengeluh dengan adanya ”proyek” yang harus dikerjakan oleh pihak sekolah. Hal ini senada dengan ucapan ketua KKKS kecamatan Batang ini yang dijumpai tim liputan JPBB beberapa waktu lalu.
”Saya berharap, guru maupun kepala sekolah hanya diberi tugas untuk mengurusi kegiatan belajar mengajar untuk peningkatan mutu pendidikan, jangan di beri tugas yang bukan wewenangnya. Contoh, proyek-proyek yang bukan bidangnya, jadi kita merasa kesulitan, bahkan bisa-bisa menjerat guru dan kepala Sekolah pada hukum”, tuturnya.
Dipaparkan pria kelahiran Batang, 25 April 1964 ini, bahwa ketika pelaksanaan proyek yang dikelola oleh sekolah, banyak yang mengeluh ”pusing” kepadanya. Karena menurutnya, kegiatan disekolah saja masih banyak, kenapa guru harus di beri tugas yang tidak tahu spesifikasinya.
”Guru SD, selain jadi guru yang tugasnya khusus untuk mengajar, juga kadang-kadang menjadi penjaga sekolah, menjadi tenaga TU, alias merangkap semua. Kami berharap, agar guru fokusnya hanya pada siswa, jangan dibebani pada proyek yang bukan tupoksinya. Karena bukan bidangnya, banyak yang kepikiran yang mengakibatkkan sakit stroke dan sebagainya”, papar Pengurus PGRI cabang Batang ini.
Menyinggung pelaksanaan program kerja di SD Negeri Proyonanggan 9 UPT Disdikpora Batang yang dipimpinnya sejak 10 September 2009 ini, suami dari Sri Ila Kartikasari ini menegaskan, bahwa pihaknya tengah melaksanakan pembenahan-pembenahan di semua bidang, terutama pada bidang administrasi.
”Saat ini, sedikit demi sedikit kami tengah melakukan pembenahan seluruh administrasi sekolah, baik administrasi yang di pampang di dinding, administrasi guru maupun administrasi kepala sekolah, dengan tujuan untuk berusaha selalu memenuhi kewajiban. Dan pembenahan administrasi ini juga dalam rangka peningkatan mutu”, papar ayah dari Kholifatul Indah Kartika dan Guntur Saputra ini.
Lebih jauh dikatakan Ketua Gugus Ki Hajar Dewantoro UPT Disdikpora Batang ini, bahwa pihaknya juga tengah mempersiapkan menghadapi UASBN, dengan memberikan penambahan jam pelajaran pada sore hari kepada anak-anak.
“Pelaksanaan tes semester telah berjalan dengan baik, kami tinggal mempersiapkan untuk menghadapi UASBN. Untuk menghadapi UASBN nanti, kita sudah memberikan jam tambahan kepada anak-anak pada sore hari. Dalam hal ini, untuk memberikan tambahan pelajaran tidak hanya guru kelas 6, tapi juga melibatkan guru-guru yang lain”, paparnya.
Diakui Agung yang sedang melanjutkan studi pasca Sarjana di IKIP PGRI Semarang ini menuturkan, sekolah yang saat ini dipimpinnya mempunyai Visi : Kuat imannya, unggul dalam mutu, santun dalam perilaku dan patriot yang tangguh dengan jumlah siswa total 228 anak. Agung yang juga pecinta olahraga sepakbola ini mengakui, sekolah yang dipimpinnya sudah hampir sempurna dan representatif. Namun dirinya masih berharap adanya bantuan rehab gedung pertemuan.
“Untuk sekolah kita saat ini gedungnya sudah cukup semua. Kantin, ruang kasek, ruang guru, ruang mushola, perpustakaan, 6 lokal kelas, dan ruang pertemuan sudah ada. Namun saat ini saya masih berharap untuk bisa membenahi ruang pertemuan. Diharapkan, agar dapat bantuan untuk bisa direhab dan diperluas. Karena, selain untuk pertemuan gugus, ruangan ini juga untuk pertemuan ujian UT, ujian CPNS, pertemuan pramuka dan pertemuan-pertemuan yang lainnya karena memang letaknya strategis”, pungkas Agung yang berdomisili di Perumnas Kalisalak ini. (Trie)

Memasukkan Aspek Spiritual
dalam Konsep Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sekolah Dasar

Oleh : Widiastuti Sri Rejeki,S.Pd *


Abstrak :Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan manusia. Kerusakan alam dan tingginya zat polutan di muka bumi ini disadari atau tidak merupakan kegagalan pendidikan lingkungan yang notabene merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam.
Sistem pembelajaran IPA yang cenderung monoton dan tidak bervariasi, situasi yang cenderung membuat siswa tertekan, dan kurangnya upaya dari guru untuk memotifasi siswa menjadi alasan yang membuat pengajaran IPA kurang membekas dalam benak siswa. Sementara siswa yang pandai memiliki ketertarikan pada IPA karena pelajaran itu sulit sehingga menjadi gengsi tersendiri jika mahir dalam pelajaran tersebut. Mereka belajar IPA bukan karena memiliki kesadaran akan tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai manifestasi dari kesadaran sebagai makhluk Tuhan, melainkan karena berkeinginan menjadi ilmuan.
Sementara itu pelajaran Pendidikan Agama dapat menjadi pengajaran yang membentuk stigma yang membekas secara permanen. Jika pengajaran IPA memasukkan aspek spiritual tentu persoalan akan menjadi lain. Dan konsep ini sebaiknya ditanamkan sejak pendidikan SD, karena merupakan pendidikan dasar.


1.Pendahuluan
Lahirnya istilah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dimulai pada saat manusia memperhatikan gejala-gejala alam, mencatatnya, dan kemudian mempelajarinya. Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan seadanya, kemudian semakin luas akibat dari hasil pemikirannya (Harmoni, 1992). Dengan kemampuan daya pikirnya, kemudian manusia melakukan berbagai macam eksperimen untuk membuktikan dan mencari kebenaran dari suatu pengetahuan. Sejak itulah IPA sebagai suatu ilmu pengetahuan terus berkembang.
Carin dan Sund (1970) mengklasifikasikan hasil pembelajaran IPA berdasarkan hakekat IPA sebagai produk dan proses. Sebagai produk, hasil produk, hasil belajar IPA berupa pemahaman siswa terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum-hukum IPA. Sebagai proses, hasil belajar IPA berupa sikap, nilai, dan ketrampilan ilmiah. Ketrampilan ilmiah pada hakekatnya dapat dimaknai sebagai bekerja ilmiah, yaitu sebagai lingkup proses yang bertautan erat dengan konsep.
Tampaknya kita tidak dapat memungkiri bahwa pelajaran IPA merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena IPA adalah pengetahuan tentang fakta dan hukum-hukum yang didasarkan atas pengamatan dan disusun dalam suatu sistem yang teratur, yang dalam proses pengamatan tersebut kita akan banyak berinteraksi dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita.
Semua sepakat pemanasan global merupakan momok yang menakutkan bagi kehidupan bumi ini. Jika pemanasan bumi ini tidak dikurangi, kerusakan yang maha dasyat akan melanda bumi. Suhu udara semakin panas, air laut akan naik, banjir terjadi di mana-mana. Penyakit bertebaran, dan bencana lainnya akan menghampiri umat manusia, tanpa pandang bulu. Sangat disadari bahwa kerusakan di bumi ini akibat aktifitas manusia yang cenderung eksploitatif. Kecenderungan ini sebagai imbas kurangnya kesadaran spiritual berkait dengan pengetahuan akan lingkungan.
Sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran (Gagne, 1974). Ausubel (1968) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasi sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari system pengetahuan siswa. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru mempunyai keleluasaan untuk menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik.

2.Aspek Spiritual
Manusia diciptakan oleh Tuhannya sebagai makhluk yang sempurna dan terbaik dibandingkan dengan makhluk yang lain. Untuk memahami kesempurnaan manusia, maka ada tiga potensi (unsur) dasar manusia yang harus dipelajari, yaitu: Fisik, Jiwa dan Ruh.
Potensi pertama adalah Fisik, yaitu semua yang biasa kita indera, misal manusia, rumah, mobil. Ini harus dipelajari dengan rasio manusia sehinggga melahirkan kecerdasan intelektual (IQ). Potensi fikir yang melahirkan IQ tetap harus dimiliki, karena inilah yang memberikan sentuhan pada kehidupan manusia dari aspek pemahaman ilmu dan teknologi.
Potensi kedua adalah Jiwa, yaitu kemampuan seorang untuk dapat merasakan apa yang ada pada sekelilingnya. Potensi jiwa jika dipupuk akan melahirkan sikap empati dan kepedulian akan sekitar. Sehingga tidak hanya memperhitungan keuntungan diri sendiri ketika mengukur suatu keberhasilan, melainkan adanya harmonisasi dengan lingkungan sekitar.
Potensi ketiga adalah Ruh, inilah potensi fitrah yang selalu melekat pada diri manusia, siapapun dia. Potensi ini yang menghubungkan manusia dengan penciptanya yang merupakan pemilik dan pengatur alam semesta ini. Merusak alam berarti menentang pemiliknya. Fakta di lapangan membuktikan, para perusak alam memiliki kesadaran spiritual yang rendah.
Sebagai pengalih seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari system pengetahuan siswa (Ausubel,1968), guru memiliki peranan strategis dan menentukan. Untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dalam proses transformasi pengetahuan, diperlukan guru yang memiliki kesiapan dan pengetahuan yang mencukupi. Karena dalam pengajaran ini dimasukkan unsur spiritual, maka gurupun harus juga memiliki kesadaran spiritual pula agar proses tranformasi tidak berlangsung secara verbal.
Dalam buku Spiritual Teaching (Abdullah Munir) dijelaskan bahwa pengajaran spiritual terkait erat dengan system pengajaran menggunakan cinta, karenanya proses sangat penting di sini, sebab cinta adalah sesuatu yang berproses, apalagi cinta pada ilmu, butuh proses berkesinambungan di dalamnya. Cinta adalah sikap batin yang akan melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakal, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Di sinilah tampak adanya hubungan timbal-balik antara kelembutan -bukan kelemahan!- hati seorang guru dengan tingginya prestasi anak. Seperti yang tersirat dalam firman Allah : “Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” (Q.S. Ali Imron [3]: 159).
Reigeluth (1983) menyatakan bahwa pada hakikatnya hanya variable metode pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru dan perancang pembelajaran. Sejalan dengan ini, Degeng (1989) menyatakan, suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi tertentu di bawah kondisi tertentu. Hal ini ini berarti bahwa untuk belajar tipe isi yang lain di bawah kondisi yang lain, diperlukan metode pembelajaran yang berbeda.
Tetapi dalam konteks pembelajaran spiritual tidak diperlukan pengubahan metode yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Aspek spiritual di sini berfungsi untuk menegaskan akan hakekat pembelajaran IPA sebagai bentuk tanggung jawab sebagai makhluk ciptaannya. Penegasan di sini sekaligus berfungsi untuk menanamkan konsep pembelajaran IPA dalam bentuk sikap yang dalam hal ini sejalan dengan kontek pengajaran KTSP. Alwasilah (2006) mengungkapkan salah satu ciri KTSP adalah tanggap terhadap iptek dan seni, berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan. Artinya guru memiliki keleluasaan untuk menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan.
Kita semua sepakat bahwa dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim dan berbagai bencana alam adalah akibat campur tangan manusia. Hal ini seperti tersirat dalam firman Allah “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum : 44)
Karena manusia yang mengeksplotasi alam adalah produk dunia pendidikan, maka secara tidak langsung intitusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral di dalamnya. Pendidikan merupakan proses tranformasi pengetahuan yang bersifat estafet antar generasi, maka belum ada kata terlambat untuk membenahi diri. Dan guru memiliki peranan yang penting di dalamnya.

3. Pengajaran IPA Di Sekolah Dasar.
Mata pelajaran IPA di sekolah dasar (SD) merupakan salah satu objek pelajaran yang harus dipelajari siswa. Karenanya, akan terjadi kecenderungan sikap dalam diri siswa terhadap mata pelajaran tersebut, baik yang positif maupun yang negatif. Yang positif cenderung akan menempuh usaha belajar dengan keras, mempunyai intensitas belajar yang tinggi, dan penuh konsentrasi terhadap pembelajaran IPA. Sebaliknya, yang negatif cenderung tidak akan menunjukkan kesungguhan dalam belajar. Oleh karena itu, salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran IPA di sekolah adalah bergantung pada sumber daya siswa yang berproses dalam pembelajaran. Artinya, penguasaan IPA tergantung dari tingkat kemampuan siswa menerimanya.
Carin dan Sund (1970) mengklasifikasikan hasil pembelajaran IPA berdasarkan hakekat IPA sebagai produk dan proses. Sebagai produk, hasil belajar IPA berupa pemahaman siswa terhadap fakta, konsep, prinsip, dan hukum-hukum IPA. Sebagai proses, hasil belajar IPA berupa sikap, nilai, dan ketrampilan ilmiah. Ketrampilan ilmiah pada hakekatnya dapat dimaknai sebagai bekerja ilmiah. Dalam arti lain, ketrampilan ilmiah juga merupakan bekerja ilmiah, yaitu sebagai lingkup proses yang bertautan erat dengan konsep. Bekerja ilmiah tidak sekedar mengumpulkan fakta, mengumpulkan teori, atau proses mental dan ketrampilan manipulatif, namun merupakan cara-cara memahami gejala alam yang terus berkembang.
Belajar IPA yang diharapkan di SD ialah agar siswa: (1) mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap IPA, teknologi, dan masyarakat; (2) mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan; (3) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari; (4) mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya IPA dalam kehidupan sehari-hari; (5) mengalihgunakan pengetahuan, ketrampilan, dan pemahaman ke bidang pengajaran lainnya; (6) ikut serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam; dan (7) menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini untuk dipelajari dan dimanfaatkan lebih lanjut (Pusat Kurikulum, 2002). Dari serangkaian tujuan ini tampak jelas bahwa dalam mempelajari IPA, siswa SD hendaknya ditekankan pada cara belajar dengan berbuat (learnig by doing) dan mengharuskan untuk dilakukan kegiatan secara terintegrasi dalam pembelajaran.
Pada poin enam dan tujuh dari tujuan pembelajaran IPA di SD tersirat jelas bahwa pembelajaran IPA berkait erat dengan kesadaran spiritual sebagai umat Tuhan untuk ikut serta memelihara alam dan menghargai berbagai macam bentuk ciptaanNya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah guru telah melaksanakan pembelajaran secara konsisten dan konsekuen? Di sisi lain buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah dasar hampir semuanya tidak pernah mengaitkan materi pembelajaran IPA dengan konsep spiritual. Sementara bagi guru yang kurang memahami tujuan kurikulum cenderung menyampaikan materi secara lugas seperti yang termuat dalam buku.

4.Alternatif Metode Pengajaran dengan Metafora dalam Pengajaran IPA
Salah satu alternatif penyajian materi yang ditawarkan dalam rangka pembelajaran dengan menggunakan konsep spiritual adalah pembelajaran dengan menggunakan metafora. Baik di awal, pertengahan, ataupun di akhir pembelajaran, dengan tujuan untuk mendongkrak minat dan motivasi siswa sebagai pembelajar. Metafora yang dimaksud adalah dengan menghadirkan cerita tentang tokoh-tokoh yang menerima penghargaan lingkungan, pengusaha sukses yang peduli lingkungan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang notabene akan mereka hadapi kelak, atau menghadirkan tokoh agama yang menguasai sain dan teknologi.
Menurut Dahar (2004), selama ini pengajaran IPA kurang memperhatikan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan nyata. Siswa SD sebaiknya diajar bagaimana menghubungkan IPA dengan kehidupan nyata yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal ini, mereka merasakan kegunaan pelajaran IPA yang selama ini mereka peroleh. Bila siswa ikut melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan masalah-masalah itu, siswa mengetahui mengapa atau untuk apa mereka mengerjakan hal itu.
Penggunaan metafora memungkinkan anak mengandaikan dirinya dengan tokoh yang dipersonakan. Hal ini membuat siswa mampu menjelajah alam kehidupan dengan dirinya sebagai subyek atau pelaku. Pengajaran dengan sistem metafora sendiri selama ini lazim digunakan dalam ceramah-ceramah keagamaan yang terbukti efektif menanamkan nilai secara stigmatis sehingga membekas permanen.
Di atas sudah dijelaskan, Reigeluth (1983) menyatakan bahwa pada hakikatnya hanya variable metode pembelajaran yang berpeluang besar untuk dapat dimanipulasi oleh setiap guru dan perancang pembelajaran. Sejalan dengan ini, Degeng (1989) menyatakan, suatu metode pembelajaran seringkali hanya cocok untuk belajar tipe isi tertentu di bawah kondisi tertentu. Hal ini ini berarti bahwa untuk belajar tipe isi yang lain di bawah kondisi yang lain, diperlukan metode pembelajaran yang berbeda. Jadi, tidaklah salah jika metafora digunakan sebagai salah satu bentuk alternatif metode pengajaran yang mempunyai tipe isi aspek spiritual, dengan asumsi metode ini efektif pada pengajaran agama yang terbukti mampu memunculkan nilai stigmatis permanen.

5. Kesimpulan dan Saran
Dengan memperhatikan uraian di atas, dipandang perlu adanya pemikiran ulang mengenai kebiasaan para pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran. Apakah selama ini melupakan betapa pentingnya pengajaran dengan memasukkan unsur spiritual di dalamnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pemerintah untuk membentuk masyarakat madani. Lagipula tidak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan unsur yang sangat penting dalam situasi global saat ini yang ditandai dengan makin merosotnya moral generasi muda.
Dalam konteks peningkatan kualitas pendidikan IPA, diharapkan ke depannya para pengajar IPA menjadikan metafora sebagai alternatif pembelajaran berkonsep spiritual. Guru sangat berperan di sini, karena gurulah yang menjadi agen penentu pada tercapainya tujuan penbelajaran.
Ke depan diharapkan ada penelitian tindakan kelas yang mengacu pada tingkat keberhasilan pembelajaran IPA dengan konsep spiritual. Karena tulisan ini masih berupa wanaca sehingga diperlukan tindak lanjut untuk mengukur keakuratannya. Penulis mengharap masukan dari berbagai pihak untuk melakukan berbagai perbaikan. Sekali lagi semuanya berpulang pada waktu.


*Widiastuti Sri Rejeki,S.Pd. adalah guru di SD Proyonanggan 03 Batang

SD NEGERI GUMAWANG 01 JUNJUNG TINGGI KEBERSAMAAN


Saat memasuki satuan pendidikan ini, terasa suasana keakraban dan keharmonisan serta kerukunan yang dibarengi dengan keteladanan. Semua warga sekolah mengakui, bahwa semua rasa di rasakan bersama-sama dan mengutamakaan keterbukaan dibidang apapun.
Kamsin, A.ma.Pd selaku kepala sekolah yang didampingi Endang Sri Indriyati, Ama.Pd selaku bendahara sekolah dan beberapa dewan guru lainnya menuturkan, bahwa manajemen keterbukaan ini sudah lama diterapkan di sekolah yang dipimpinnya ini.
”Pokoknya, manajemen keterbukaan ini kami lakukan agar tidak menimbulkan rasa su’udhon dan ini sudah menjadi aturan untuk saling terbuka dan transparan. Ada segala sesuatunya, kita mengutamakan musyawarah”, papar Kamsin.
Menyinggung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Gumawang 1, pria kelahiran Kendal, 19 Juli 1952 ini menuturkan, pihaknya mengeluhkan beberapa kendala yang ada di sekolah ini. Selain jumlah siswa yang sedikit, yakni 100 anak, pasrtisipasi dari orang tua juga minim.
“Kendala yang utama adalah kurangnya dukungan dari masyarakat untuk pengawasan pendidikan anak dirumah. Masyarakat di Desa Gumawang masih dibawah garis kemiskinan, bahkan anak-anak sepulang sekolah membantu orang tuanya untuk bekerja. Adapun usaha yang dilakukan pihak sekolah adalah memberikan pengarahan kepada wali murid dengan berbagai cara”, jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga mengeluhkan kurangnya sarana dan prasarana sekolah. Di katakan Kamsin, sekolah yang dipimpinnya sudah lama tidak mendapat bantuan.
“Saat ini sekolah kita kurang gedung perpustakaan dan mebeler minimal untuk 3 ruang serta mebeler untuk guru”, keluhnya.
Namun demikian, diakui Kamsin, dari berbagai kendala yang ada tidak menyurutkan semangat dewan guru untuk menciptkan prestasi sekolah. Bahkan, alumni sekolah ini banyak yang sudah menjadi sarjana dan sekolah ini telah mencapai beberapa prestasi, terutama dibidang keagamaan dan olah raga. (Trie)