Rabu, 17 Maret 2010

SD Negeri Ketanggan 03 SERING ADAKAN STUDI BANDING


SD Negeri Ketanggan 03 UPT Disdikpora Gringsing beberapa kali telah melakukan study banding ke beberapa sekolah di luar wilayah kabupaten Batang. Hal ini seperti penuturan Hj. Purwaningsih, S.Pd kepada tim liputan JPBB berapa waktu lalu.
Menurutnya, banyak sekali manfaat yang bisa di petik dari kegiatan ini terutama dari segi manajemen pembelajaran di sekolah.

“Kami pernah melakukan studi banding di SD Negeri Boyolali pada tanggal 23 juli 2008 lalu, yang bisa kami ambil manfaatnya adalah, setelah melakukan kegiatan tersebut, rekan-rekan ada perubahan yang luar biasa dalam peningkatan mutu pendidikan, namun hal ini juga disesuaikan dengan situasui dan kondisi yang ada”, tuturnya.

Dipaparkan wanita kelahiran Surakarta, 15 September 1958 ini, bahwa setelah mengetahui ada manfaat yang positif untuk kemajuan sekolah yang dipimpinnya ini, pihaknya menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin.

“Untuk kedepannya, kami akan melakukan studi banding ke SD Negeri Kemasan 1 Serengan, yakni sekolah yang sudah menerapkan agrobisnis sekolah, dengan tujuan untuk mengembangkan jiwa wirausaha sejak usia dini kepada anak. Dalam hal ini, rekan-rekan Guru rela mengumpulan uang sebesar 25 ribu perbulan untuk kegiatan tersebut, selain juga untuk rekreasi”, imbuhnya.

Menyinggung persiapan menghadapi UASBN, pihaknya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari mengumpulkan wali murid untuk menentukan jam belajar, kemudian menentuan SKL dan menerapkan jam masuk lebih awal, khususnya untuk kelas 6.

“Kami juga telah memberikan tambahan jam yang di mulai sejak bulan Januari yang akan diakhiri hingga bulan april, utamanya mata pelajaran yang di UASBN kan, yakni pada Siang hari dari jam 2 hingga jam 4 pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu, serta pagi hari mulai jam 7 hingga 12.30 untuk pemadatan materi”, jelasnya.

Diakui kepala sekolah yang juga berdomisili di Desa Ketanggan ini, bahwa dengan langkah-langkah seperti ini, hasil UASBN untuk tahun lalu juga bisa melebihi dari SKL yang ditetapkan.

“Alhamdulillah, untuk tahun kemarin kita juga mendapat nilai tertinggi di kecamatan Gringsing. Nilai Bahasa Indonesia mencapai 8,80, Matematika 7,75, dan IPA 8,75”, tuturnya bangga.

Perlu diketahui, SD Negeri Ketanggan 3 Gringsing juga telah mencapai beberapa prestasi, diantaranya kepramukaan yang sering mewakili kecamatan Gringsing untuk maju ke tingkat Kabupaten Batang sebanyak 2 kali. Dan juga, sekolah ini menggiatkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya Rebana, pramuka, drum band, tari, lukis dan yang sedang di rintis adalah mocopat. (Trie)


SD NEGERI SIGUCI PECALUNGAN TERAPKAN BUDAYA BERSIH


Budaya bersih, transparan dan profesional tidak terlepas dari sikap bathin kita yang paling dalam untuk melakukan segala sesuatu dengan iklas dalam suatu sistem berfikir yang dilandasi oleh kemauan untuk melakukan suatu pekerjaan dengan benar. Sikap ini tidak lain adalah sikap “taat profesi”, dan kata kunci untuk tumbuhnya taat profesi dalam diri kita adalah “Disiplin”, disiplin dalam berpikir, disiplin dalam menata konsep bekerja, disiplin dalam melaksanakan pekerjaan dan disiplin dalam mempertanggung jawabkan pekerjaan.
Hal ini seperti diungkapkan Gunawan Sudjarwo selaku kepala sekolah SD Negeri Siguci UPT Disdikpora kecamatan Pecalungan beberapa waktu lalu kepada kepada tim liputan JPBB. “Bersih itu menunjukan pribadi yang bersih, membikin lingkungan yang bersih. Karena bersih adalah batu loncatan atau dasar dari penigkatan prestasi. Baik kebersihan hati dan khususunya kebersihan lingkungan sekolah”, tuturnya.
Ditegaskan pria kelahiran Batang, 14 Februari 1957 ini, tujuan di terapkannya budaya ini di sekolahnya agar supaya dalam bekerja bisa merasa nyaman dan tentunya bisa tidur nyenyak, karena tidak ada yang disembunyikan.
“Inti realisasi bersih adalah itu. Bersih dalam artian yang luas. Kalau bisa, tidak hanya dalam institusi SD saja, namun meluas ke semua instansi pendidikan”, usulnya.
Namun, untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dalam mewujudkan sekolah yang sehat dan nyaman, pihaknya menerapkan budaya ini setiap hari, tanpa adanya memandang piket.
“Siapa yang melihat sesuatu yang kotor, harus langsung bertindak. Ini kami tekankan kepada seluruh warga sekolah. Karena, untuk menerapkan Budaya bersih ini perlu adanya pembiasaan yang dipaksakan. Selain itu, mami juga menarik dana kebersihan dari anak sebesar 200 rupiah, dengan penjabaran multi fungsi, dikelola anak sendiri dan dimanfaatkan oleh anak itu sendiri. Terutama khususunya untuk berobat dalam keadaan darurat, membantu anak yang tidak mampu”, tegasnya.
Diakui kepala sekolah yang berdomisili di RT 01/01 Desa Sempu kecamatan Limpung ini, bahwa pihaknya menerapkan budaya bersih sejak tahun lalu. “Namun baru kami proklamirkan pada tahun ini, karena melihat kondisi dan sarana prasarana yang mendukung yang sudah memenuhi kriteria untuk menerapkan budaya ini, dengan tujuan untuk membudayakan budaya tertib”, imbuhnya.
Ditambahkan Gunawan yang juga hobi olahraga bulutangkis ini, penerapan budaya bersih ini adalah membuat lingkungan pendidikan sedikit demi sedikit. Dengan dasar itu, maka beberapa prestasi dengan sendirinya akan terintis.
“Yang dimaksud prestasi itu relatif, kita berprestasi ditingkat mana dulu. Tapi kalo ditingkat kita sendiri belum berprestasi, kenapa harus muluk-muluk. Penerapan budaya bersih ini juga kami kaitkan dengan perintisan prestasi, serta untuk membangkitkan kepercayaan kepada masyarakat, kita tunjukan jati diri kita”, pungkasnya. (Trie)

MEDP BAWA PERUBAHAN UNTUK MADRASAH


Direktorat Jenderal Madrasah Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI meluncurkan program Madrasah Education Development Project (MEDP) yang kegiatannya didanai dengan bantuan Asian Development Bank (ADB) yang merupakan Loan atau pinjaman.
Madrasah Education Development Project (MEDP) merupakan program terobosan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) untuk mendorong pendidikan madrasah agar berbenah diri dengan suatu perencanaan (Madrasah Development Plan / MDP) yang matang. Dari sini diharapkan madrasah secara mandiri mampu mengelola serta memberikan layanan pendidikan yang lebih baik kepada masyarakat sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.
Program ini berbeda dengan program-program stimulan Direktorat Pendidikan Madrasah lainnya yang mendapatkan dukungan dana dari ADB maupun lembaga donor lain. Misalnya program DMAP (Development Madrasah Aliyah Project) yang hanya berfokus pada pengembangan Madrasah Aliyah (MA), out put-nya lahir MAN Model. Atau program AIBEP (Australia-Indonesia Basic Education Project) yang masih berjalan hingga tahun ini, fokusnya hanya pada pendidikan dasar (MI dan MTs).
MEDP program domainnya sangat baru. Sasarannya mencakup seluruh jenjang/satuan pendidikan, dari tingkat dasar sampai menengah. Karena sasarannya yang luas, maka saat ini hanya diperuntukkan bagi 500 madrasah (MI, MTs, dan MA), tersebar di 27 kabupaten di tiga provinsi. Yakni, Jawa Timur (Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Kediri, Malang, Jember, Jombang, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, dan Bangkalan); Jawa Tengah (Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Grobogan, Blora, Rembang, Demak, Batang, dan Pemalang), dan Sulawesi Selatan (Bantaeng, Sinjai, Bone, Maros, dan Jeneponto). Jika program ini berhasil, tidak menutup kemungkinan sasarannya akan dikembangkan secara lebih luas lagi.
Seperti dijelaskan secara singkat oleh Drs. H.M Bisri, MA, selaku Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Batang, saat dijumpai diruangannya mengatakan, bahwa program yang dikembangkan melalui Madrasah Education Development Project (MEDP) meliputi Fisik dan Non-Fisik, dan bentuk kegiatannya akan bertahap.
“Rencananya 3 tahun berturut-turut. Kalau dibantu pada tahap pertama baik, maka akan dilanjutkan pada tahap ke dua dan ketiga”, katanya.
Ditambahkan Bisri, bahwa di kabupaten Batang sendiri untuk program MEDP ini mendapat bantuan untuk 17 madrasah, yakni untuk Ibtidaiyah ada 8 madrasah, Tsanawiyah ada 7 madrasah dan Aliyah ada 2 madrasah.
“Untuk nominal bantuan yang didapat untuk masing-masing madrasah tidak sama karena disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang ada, seperti yang telah diajukan pada proposal yang sudah di ajukan pada tahun 2006 lalu”, paparnya singkat.
Sementara itu, Zaimahtul Chasanah, SH.i selaku fasilitator Program MEDP di Kabupaten Batang secara terpisah menjelaskan, bahwa pengembangan madrasah di bidang fisik meliputi penyediaan dan pembangunan sarana prasarana madrasah, yaitu pembangunan / rehab ruang kelas, pembangunan Laboratoium (Bahasa, Komputer, IPA), pembangunan ruang klinik, pembangunan perpustakaan dan toilet. Pengadaan sarana juga termasuk isi baik berupa peralatan, perlengkapan dan mebelair. Penyediaan media pembelajaran serta buku teks. Adapun pengembangan di bidang fisik diimbangi dengan penyiapan sumber daya manusia, melalui pelatihan dan pengembangan SDM.
“Bagi tenaga pengajar yang belum memiliki kualifikasi akademik sesuai yang dipersyaratkan oleh undang-undang, program MEDP juga menyediakan beasiswa untuk kuliah hingga S1 atau D4”, katanya.
Ditambahkan Imah panggilan akrabnya, bahwa MEDP adalah program untuk pengembangan madrasah. Kalau selama ini, image madrasah selalu tertinggal dari sekolah-sekolah negeri, tujuan program ini agar ada kesetaraan untuk peningkatan mutu madrasah.
“Selain untuk pembenahan sarana fisik dan peningkatan kualifikasi tenaga pendidik, juga ada bagi peserta didik di madrasah. Sasaran disediakan program remidial dan program transisi. Program remedial dimaksudkan untuk membantu peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar. Program transisi merupakan jembatan bagi peserta didik khususnya yang berasal dari keluarga tidak mampu dan peserta didik yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, misal dari MI ke MTs atau dari MTs ke MA”, jelasnya.
Dirinya menambahkan, Program MEDP akan berlangsung hingga 2012. Adanya program MEDP merupakan berkah tersendiri bagi madrasah, karena adanya program ini madrasah dapat memenuhi sarana prasarana serta meningkatkan mutu pembelajarannya.
“Targetnya, paling tidak madrasah minimal bisa berstandar nasional, untuk itu diberikan dana stimultan untuk meningkatkan sarana prasarana dan sdm nya. Bantuan ini berupa blockgrand, madrasah diharapkan bisa me manage itu. Disusun sejak tahun 2007, hingga anggaran sampai 2011 atau mundur hingga 2012. Bantuan ini cair mulai tahun 2009, pelaksanaannya harus berakhir pada bulan Mei 2010, semua pelaporan harus sudah masuk dan nantinya akan berkelanjutan pada tahun anggaran 2010 dan selanjutnya. Dibagi 3 tahun anggaran dari pusat. Kalau penilaiannya dari Independent Monitoring Evaluations dinyatakan baik, maka bantuan akan diteruskan”, tambahnya.
Pada pertemuan waktu itu, pihaknya berpesan kepada seluruh pengelola bantuan MEDP, agar mengelola bantuan dengan sebaik-baiknya.
“Kelola dana sesuai dengan dana yang diterima. Jangan hanya habis tanpa membekas apa-apa. Adapun madrasah sudah tidak menerima bantuan nantinya, agar tetap mempertahankan kualitas dan peningkatan SDM nya. Harapan kita, dengan adanya bantuan, kondisinya jangan sama seperti dulu, harus ada perubahan dan peningkatan. Karena ini dana untuk membantu madrasah untuk meningkatan kualitas dan kuantitas. Karena terkait untuk peningkatan sdm guru dan murid”, tegasnya.

Pengembangan Madrasah
Pada hakekatnya, program ini adalah salah satu bentuk perwujudan dari strategi jangka pendek pengembangan madrasah Ditjen Pendis dalam rangka memperkuat manajemen madrasah. Pelaksanaan program tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap rencana strategi pengembangan madrasah secara menyeluruh yang ditargetkan 25 tahun ke depan. Dalam rencana strategis tersebut, prioritas pengembangan madrasah mencakup beberapa aspek. Antara lain tanggung jawab perencanaan yang didesentralisasikan kepada madrasah dan disversifikasi kelembagaan madrasah dengan menggunakan standar internasional, nasional dan lokal.
Prioritas pengembangan ini telah dilakukan dengan integrasi persiapan perencanaan strategis oleh Depag dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Perencanaan ke depan dari Depag telah merefleksikan prioritas nasional dalam bidang pembangunan pendidikan.
Program MEDP ditujukan untuk mendukung upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan madrasah. Rasionalisasi menyeluruh dari desain program MEDP adalah mengombinasikan secara hati-hati antara intervensi supply side dengan sejumlah kunci tata kelola (governance) dan reformasi kelembagaan. Seleksi dari program intervensi dan reformasi kelembagaan didasarkan kepada fakta-fakta kunci yang menentukan peningkatan kualitas dan efisiensi internal.
Dimensi rasional lain yang digunakan dalam mendesain program MEDP, terfokus pada pemberian intervensi terhadap kabupaten yang memiliki tingkat kemiskinan warganya lebih kurang atau di atas 20 persen. Selain itu, tingkat populasi madrasah, khususnya swasta yang berukuran sedang lebih tinggi, ketidakberadaan program bantuan luar negeri lainnya, dan kesediaan berpartisipasi dalam pelaksanaan program.
Berdasarkan kajian kondisi kabupaten dan kriteria pemilihan madrasah serta pendapat stakeholder, maka dipilih 500 madrasah {MI (206), MTs (236), dan MA (58)}, yang berbasiskan masyarakat miskin. Proses seleksi didasarkan kepada tingkat kemiskinan siswa, besar-kecilnya madrasah, kualifikasi guru, serta kondisi geografis madrasah tersebut.
Secara garis besar, program MEDP bertujuan untuk peningkatan kualitas mutu lulusan madrasah. Hal ini dapat terukur dengan semakin banyaknya lulusan madrasah yang memasuki perguruan tinggi dan pendidikan lanjut lain, di samping meningkatnya rata-rata jumlah lulusan yang memasuki lapangan pekerjaan. Selain itu, peningkatan akreditasi madrasah dengan cara membantu madrasah untuk memenuhi standar pendidikan di jenjang pendidikan dasar (MI, MTs, dan MA) sehingga dapat menyediakan pendidikan berkualitas sebagai bagian dari kerangka pendidikan nasional. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan jenjang akreditasi madrasah tersebut melalui proses akreditasi yang diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional.
Dari program ini diharapkan dapat berdampak pada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek adalah meningkatnya kualitas, efisiensi, dan efektifitas pendidikan madrasah pada jenjang MI, MTs, dan MA. Indikator kuncinya mencakup peningkatan rata-rata kelajuan dan retensi di dalam sistem madrasah; peningkatan performan (kinerja) siswa dalam berbagai jenjang pendidikan termasuk pengurangan jurang pemisah antara sistem pendidikan madrasah dan sekolah umum; pengurangan secara signifikan perbedaan kinerja (performance) siswa antar kabupaten/kota, khususnya di madrasah sasaran program; dan meningkatkan persepsi positif dari masyarakat sehubungan dengan kualitas pendidikan madrasah.
Jangka panjang, program ini diharap kan meningkatkan daya saing lulusan MA di pendidikan tinggi dan lapangan pekerjaan. Peningkatan daya saing ini ditunjukkan dengan peningkatan ratarata jumlah lulusan MA yang memasuki perguruan tinggi dan pendidikan lanjut lainnya. Peningkatan daya saing juga dapat diukur rata-rata jumlah lulusan yang memasuki lapangan pekerjaan dengan gaji yang relatif lebih baik.

Berkah Untuk Madrasah
Kasi Mapenda Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang nampak akrab dengan jurnalis media ibukota -musanep-

Seperti dikutip dari pemberitaan media ibukota, Menteri Agama Suryadharma Ali di Jakarta pada Kamis (10/12) saat meresmikan dimulainya penggunaan dana hibah ini mengatakan, madrasah didirikan untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa, terutama dalam pembentukan karakter moral bangsa yang beriman, bertaqwa. cerdas dan terampil.
"Dengan jumlah madrasah yang mencapai 40.848 unit dan jumlah siswa sekitar enam juta anak, hal ini sesungguhnya dapat menjadi kekuatan yang luar biasa bagi pembangunan karakter moral bangsa kita." katanya.
Dia menjelaskan, jumlah madrasah di Indonesia saat ini 40.848 unit, terdiri atas 23.519 unit madrasah ibtidaiyah (MI), 12.054 unit madrasah tsanawiyah (MTs) dan 4.687 madrasah aliyah (MA). Dari jumlah tersebut, 91.5 persen di antaranya berstatus swasta.
Dari sisi bangunan fisik, hanya 59.667 unit MI atau 47 persen yang kondisinya layak. Sisanya dalam kondisi rusak ringan dan berat. Sedangkan MTs dan MA yang kondisinya masih layak sekitar 44.823 unit (67 persen) dan 19.455 unit (75 persen), sehingga layak bila MEDP disebut sebagai berkah untuk madrasah. Tak luput, beberapa tanggapan dari penerima dana ini di kabupaten Batang juga senada dengan pernyataan Menteri Agama. Berikut kutipan wawancara tim liputan dengan para pengelola dana hibah tersebut.

Drs.Moffan – Kepala MTS Wachid Hasyim Warungasem

“Bantuan ini sangat membantu sekali untuk sukses pendidikan wajib belajar 9 tahun. Kedepannya, kami akan mensetarakan dengan sekolah-sekolah yang lain disekitarnya. Sehingga menghapus kesan bahwa madrasah adalah sekolah yang terpinggirkan. Nanti kita akan membuat program unggulan di bidang TIK, yang kedua dibidang ketrampilan khususnya menjahit, karena kebanyakan, tamatan siswa disini banyak yang bekerja untuk konveksi didaerah sekitar, sehingga pihak kami berinisiatif di bidang yang satu ini”.

Tasmali, Ama Pd – Kepala MI Tumbrep Bandar
“Dengan adanya MDEDP ini, MI lebih maju dari yang dulu, dalam semua bidang, baik mutu dan sarana dan prasarananya. Kita semua komitmen, ingin maju, minimal standar nasional. Kendati jumlah nominal yang kami peroleh tidak sama, yang kami rasakan saat ini adalah merasa senang dan berbangga hati, apalagi masyarakat juga turut mendukung, MI sini yang dulunya sedikit program, saat ini lebih banyak kegiatan, dan Alhamdulillah, sudah ada Guru yang juga sudah dikuliahkan”.

Nur Hasanah, Ama.Pd – Kepala MI Keputon Blado
“Dengan adanya MEDP ini, intinya peningkatan mutu pendidikan, baik itu dari siswa dan guru serta peningkatan sarana dan prasarananya. Dengan dana MEDP ini, sarpras sudah terpenuhi, dan rencananya kami akan mewujudkan media pembelajaran. Dan Alhamdulillah, untuk program peningkatan mutu guru ada imbas untuk madrasah yang lain, karena dalam menyelenggarakan pelatihan, kami juga menghimpun rekan-rekan guru MI se kecamatan Blado, dengan bantuan ini, kami bisa menghidupkan kembali kegiatan KKG yang dulu sempat mati. Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih, kepada yang telah membimbing kami, kepada seluruh jajaran pusat hingga ke bawah dan juga rekan-rekan guru di keputon dan komite serta pengurus yang telah bekerja sama. Untuk tahun ini, semoga pencairan MEDP tidak terlambat dan semoga bisa cair kembali”.

Wachyudin – Kepala MI Candi Bandar
“Dari MEDP ini, selain untuk pengadaan dan pembenahan gedung madrasah yang kami alokasikan hingga 2011, juga kami fokuskan untuk media pembelajaran, titik tekannya dalam pengembangan guru agar bisa menggunakan multi media. Kita juga melakukan pelatihan IT yang fokusnya pada penguasaan pembelajaran melalui media IT, kalau masalah fasilitas, kita sudah lebih dulu memiliki medianya, termasuk pembelajaran melalui visualisasi LCD. Alhamdulillah, walaupun di pelosok kita sudah punya laptop 5 buah, dan dalam proyek MEDP ini kita akan mengembangkan ekstrakurikuler IT, karena kita sudah terdepan dalam bidang IT, paling tidak kita akan menularkan kepada anak didik kita. Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pemerintah dan Depag atas bantuan dan amanat yang telah diberikan kepada kami. Dan untuk untuk instansi yang lain, walaupun kita dapat bantuan MEDP, kita masih akan melakukan pengembangan yang lebih banyak, jangan sampai bantuan yang lain di nomor duakan. Kita berkomitmen akan menjadi sekolah unggulan sebagai wujud tanggungjawab mengembangkan dan mencerdaskan anak bangsa, sehingga kita perlu dukungan yang besar”.

Hj. Solekhah – Kepala MIS Darul Khikmah Sengon Subah
"Dengan adanya MEDP ini, kami sangat bersyukur sekali, karena tanpa itu, kita tidak dapat membuat kelas baru. Tadinya, kami memiliki program hanya membangun 1 lokal, namun kami kembangkan menjadi tingkat untuk cadangan tahun yang akan datang, karena sekolah kami kini semakin di percaya masyarakat, hal ini kami buktikan dengan adanya kelas jauh di dukuh Roban. Dalam kesempatan ini, kami juga turut mengucapkan terimakasih kepada Depag. Dan Setelah program MEDP ini selesai, kami tetap mengharap agar selalu tetap menerima bantuan, terutama untuk bisa melakukan pengembangan MI Roban. Kedepannya, semoga MI Sengon ini akan semakin baik, lebih maju dan berkualitas, baik dari siswanya, maupun dari tenaga guru yang ada”.

Mochammad Miftakhul Ulum, S.Pdi – Kepala MIS Sidorejo Warungasem
“Secara manusiawi, kami merasa bangga kerena mendapat kepercayaan besar untuk mengelola bantuan ini. Dan kami juga mengalami H2C atau harap-harap cemas, karena ini merupakan program baru dan membutuhkan ketrampilan serta keuletan dalam mengelola bantuan ini. Khusus untuk kegiatan pelatihan-pelatihan, madrasah kami melibatkan rekan-rekan guru MI se kecamatan Warungasem, untuk ikut dalam kegiatan tersebut, sehingga ada nilai manfaat yang lebih luas. Dengan keseriusan kami dalam mengerjakan proyek ini, diharapkan dapat menjawab tantangan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Masyarakat butuh apa?, kami siap mewujudkannya”.(Trie)

SMP NEGERI 1 BANDAR WUJUDKAN PERFORMEN SEKOLAH

Tampaknya, menyandang predikat sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN) menjadikan jajaran pengelola SMP Negeri 1 Bandar yang dipimpin Kismanto, S.Pd ini ingin mengadakan perubahan dan menampakkan performen sebagaimana mestinya. Hal ini terungkap saat tim liputan ngobrol santai dengan Kismanto, S.Pd di SMP Negeri Wonotunggal beberapa waktu lalu.
Menurut pria kelahiran Batang, 15 November 1959 ini, bahwa sekolah yang sudah SSN memang perlu adanya perubahan penampilan wajah sekolah yang lebih baik. “Ini sudah menjadi program untuk tahun 2010/2011. Yang ingin kami rubah adalah pagar keliling dan gapura. Seperti kita ketahui, pagar depan sekolah kami masih berbentuk kawat berduri”, tuturnya santai.
Dikatakan mantan kepala SMP Negeri 8 Batang ini, adapun perencanaan pembangunan pagar sekolah ini bertujuan untuk menambah kepercayaan masyarakat. Diharapkan, dari perubahan penampilan tersebut, antusias masyarakat bisa semakin meningkat dan yang kedua adalah antisipasi masalah keamanan.
“Kami akan mengerjakan kegiatan ini dalam 2 tahap, yakni pembangunan pagar depan sepanjang 300 meter untuk tahap awal dan gapura, selebihnya masih kurang sekitar 500 meter persegi yang akan kami lanjutkan pada tahap selanjutnya. Dan kami perkirakan, program tahap pertama ini akan menghabiskan anggaran sekitar 100 juta”, paparnya.
Di harapkan Kismanto, dalam upaya untuk merubah performen sekolah ini ada partisipasi dari masyarakat melalui komite, karena kedepannya, masih banyak kebutuhan sekolah untuk melakukan pembenahan-pembenahan.
“Harapan kami kepada masyarakat agar mendukung program sekolah yang sudah menyandang gelar sebagai Sekolah Standar Nasional dan juga berada di ibukota kecamatan ini agar terlihat reprefsentatif”, harapnya. (Trie)

SMP Negeri 3 Bandar Bangun Sarana Ibadah


Sekolah merupakan pusat pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka dari itu setiap sekolah sudah seharusnya menyediakan tempat ibadah. Demikian halnya dengan SMP Negeri 3 Bandar yang saat ini tengah membangun sarana ibadah.
Seperti diungkapkan Drs. Dadang Herdiana selaku kepala sekolah, bahwa pembangunan mushola berukuran 6 X 6 meter yang sedang dalam proses penyempurnaan ini bertujuan untuk sarana ibadah khususnya bagi warga sekolah.
“Dikarenakan anak didik kami selama ini sangat menjunjung tinggi ajaran Islam dan menerapkan dalam perilaku kesehariannya. Nuansa Islaminya sangat kental, bahkan setiap hari, senin hingga sabtu anak-anak perempuan banyak yang memakai jilbab, sehingga sangat ironis bila sekolah kita tidak ada sarana ibadahnya, sehingga kami berinisiatif dan bertekad untuk membangun mushola, sehingga kedepannya akan bermuara pada perwujudan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan ketaqwaan”, tegasnya
Dijelaskan pria kelahiran Bandung, 21 Juni 1957 ini, bahwa proses pembangunan sarana ibadah yang sudah berjalan 2 bulan ini sudah hampir mendekati tahap finishing.
“Diperkirakan akan menghabiskan anggaran sekitar 51 juta. Dana bersumber dari swadaya orang tua dan komite serta guru dan karyawan. Dan saat ini yang kami dapat baru nyampai 70 % dari total anggaran”, paparnya.
Selain merintis sarana ibadah, SMP Negeri 3 Bandar juga akan merintis pengembangan sekolah, yakni pengadaan 3 lokal ruang kelas baru. Menurut Dadang, sejak tahun 2008, sekolah dengan jumlah siswa 453 anak ini telah mengalami kekurangan kelas, dikarenakan rombongan belajarnya sudah 12, padahal kondisi lokal kelas baru ada 9 ruang.
“Saat ini kami masih memanfaatkan ruang Laboratorium, ruang perpustakaan dan ruang ketrampilan yang sementara ini kami pakai untuk ruang kelas. Sehingga jelas, kami masih membutuhkan ruang kelas baru minimal 3 lokal lagi. Kami yakini, ini adalah dampak dari masyarakat yang ingin bersekolah yang semakin tinggi. Semoga harapan kami untuk pemenuhan ruang kelas baru mudah-mudahan ada perhatian”, harapnya. (Trie)

SD NEGERI KARANGASEM 10 LAKUKAN PERUBAHAN DARI DALAM


Oleh :
Hj. Wiwik Sukistanti, S.Pd *)

Sejak tanggal 10 januari 2005 diberikan SK pelantikan kepala sekolah. Kami kebetulan ditempatkan di SD Negeri Karangasem 10 UPT Disdikpora Batang yang lokasinya di Jl. Yos Sudarso No. 41 Karangasem Selatan Batang. Saya mulai menjalankan tugas tersebut mulai tangal 11 februari 2005. Namun betapa terkejutnya saya setelah melihat kondisi SD Negeri Karangasem 10 yang lokasinya ditengah-tengah kota Batang, namun gedungnya sangat tidak layak untuk kegiatan pembelajaran, jelek, bobrok, kumuh dan setiap pagi ada pecahan-pecahan botol minuman keras. Dari sini saya mencoba merenungkan tindakan apa yang harus dilakukan untuk merubah performen SD Negeri Karangasem 10 yang telah saya amati dari luarnya saja.
Dalam batin saya, ingin sekali menjerit dan menangisi keadaan ini, tapi saya sadar, bahwa dengan hanya menangisi tidak akan merubah semuanya itu. Saya berfikir dan menganggap semua itu adalah tantangan dalam menjalankan tugas kedepan untuk merubah SD Negeri Karangasem 10 untuk menjadi lebih baik dan berprestasi.
Setelah saya beberapa hari menjalankan tugas di sekolah tersebut, saya mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar (KBM), administrasi, kedisiplinan guru dan kebiasaan yang ada di SD Negeri Karangasem 10. Betapa terkejutnya, ternyata SD Negeri Karangasem 10 yang berada dipertengahan kota, saat bel masuk guru masih menunggu siswa datang, bukan siswa menunggu bel. Ditambah dengan kondisi ekonomi siswa yang sangat minim dan tidak pernah mendapat perhatian dari orang tuanya, bahkan berangkat sekolah tidak pernah makan atau sarapan pagi dan dari cara berpakaian juga tidak terurus, hal ini karena orang tuanya sudah berangkat kerja sebagai buruh di industri pembuatan kerupuk. Bahkan untuk membeli buku saja tidak mampu. Kondisi ini bagi saya sangat menyedihkan.
Setelah saya mengamati KBM dikelas masing-masing, banyak siswa yang menggunakan 1 buku untuk beberapa mata pelajaran, juga ketika siswa berangkat dari rumah tidak sarapan, maka kondisi siswa lemah, sehingga guru banyak yang rela merogoh koceknya untuk membelikan sarapan.
Dan juga perlu diketahui, anak-anak menimba ilmu hanya dapat dari sekolah saja tanpa dukungan dari orang tua, sehingga guru maupun kepala sekolah mempunyai tugas dan beban yang sangat berat karena harus memandaikan siswanya, tanpa adanya dukungan dan perhatian dari pihak keluarga.
Dari hal ini, guna mengejar ketertinggalan, yang saya utamakan adalah penanaman disiplin siswa dan guru. Mulai masuk jam 07.15 saya sudah berada di kelas-kelas untuk memasukkan siswa, mengisi kelas yang gurunya belum hadir untuk memberikan pelajaran, dan setiap hari Senin saya adakan upacara untuk pebinaan siswa dan rapat guru untuk pembinaan guru. Dari sinilah, siswa dan guru mulai ada perubahan, dan setelah ada perubahan, baru meningkat di lingkungan sekolah. Mengapa kami langsung ke lingkungan sekolah ?, karena setiap hari lingkungan sekolah dijadikan lalulintas penduduk sekitar, alasannya motong jalan, padahal dibelakang sekolah ada jalan umum, namun masyarakat lebih memilih melalui jalan sekolah sebagai lalu lintas, sehingga setiap hari kendaraan, becak, orang jalan hilir mudik melalui halaman sekolah dan mengganggu KBM. Maka langkah kami adalah menegur setiap kendaraan maupun pengguna jalan yang melewati jalan sekolah dengan alasan mengganggu KBM.
Ketika KBM dan disiplin lingkungan sudah berjalan, kami mengumpulkan orangtua siswa dan komite, selain berkenalan dan bersilahturahmi, juga kami mensosialisasikan pada orang tua siswa untuk ikut berperan dalam pendidikan apabila ingin anak dan sekolahannya berhasil. Maka orangtua dan komite merespon permasalahan sekolah kita. Baru setelah semuanya berjalan dengan baik tidak ada masalah maupun kendala, maka kami mulai berbenah dengan kondisi fisik dengan mengajukan berbagai macam proposal melalui rapat kerja di Desa Karangasem dan pendekatan dengan pemerintah kelurahan serta instansi terkait. Akhirnya pada tahun 2006, sekolah kami mendapat bantuan Blockgrant untuk 2 ruang dari APBD kabupaten Batang dan pada tahun 2007 kembali mendapat Blockgrant mebeler dan di tahun 2008 mendapat bantuan MoU APBD I sebanyak 4 ruang. Dan akhirnya, SD Negeri Karangasem 10 Batang yang dulunya adalah sekolah yang kumuh, kotor, bau dan sebagai ajang minuman keras sudah berakhir dan berubah menjadi sekolah yang bersih, sehat dan tertib.
Mengapa kami mengatakan tertib, karena semua jalan yang digunakan sudah kami tutup dengan pagar besi, tanah kosong yang digunakan warga sebagai tempat pengumpulan barang bekas sudah kami bangun untuk gedung. Alhasil, di SD Negeri Karangasem 10 untuk pelaksanaan rehab gedung 4 ruang yang kami kembangkan menjadi 5 ruang dan di tambah dengan pagar bumi, plester halaman, mengalami minus anggaran hingga mencapai kurang lebih 50 juta. Memang kami akui, itu melenceng dari ketentuan, namun karena kami sudah rapat dengan komite dan orang tua siswa untuk memperbaiki kondisi sekolah yang sudah terlalu parah dan kumuh, dan kamipun meminta persetujuan dari orang tua siswa.
Akhirnya, kekurangan sampai sekarang belum tertutup sepenuhnya, tetapi setiap tahun ajaran kami meminta sumbangan dari kelas 1 dan kelas 6, Alhamdulillah mereka juga mendukung program sekolah. Sampai saat ini apabila ada program yang menyangkut dana, orang tua sudah mulai sadar dan ikut berperan. Dalam setiap setengah semester pihak sekolah mengundang orang tua siswa untuk menyampaikan program dan melaporkan kemajuan siswanya, dan mereka sangat antusias sekali.
Demikianlah suka duka sekolah kami, sehingga kami sekarang sedang merintis unggulan akademik dan non akademik, semisal program kewirausahaan telur asin pada siswa, yang modal dan bahan dari siswa yang akan kami kembangkan dan sudah kami sosialisasikan ke orang tua. Kami berharap untuk kedepannya, SD Negeri Karangasem 10 akan mendapat pengakuan dan kepercayaan dari masyarakat di sekitar sekolah, terbukti dengan meningkatnya jumlah siswanya walaupun hanya 13 %, namun peningkatan ini sangat berarti bagi kami.
Setelah kami membenahi dari dalam secara keseluruhan, kedepannya, kami juga akan melakukan pemenuhan-pemenuhan untuk saarasana dan prasarana serta merintis prestasi akademik. Dan perlu diketahui, setiap hari Jum’at kami melaksanakan senam bersama, pembinaan rohani, dan mengajarkan sopan santun serta pendalaman baca tulis Qur’an, kemudian sholat Duha bersama-sama yang kami rintis sejak semester 2 ini.
Beberapa kegiatan ekstrakurikuler juga sudah kami galakkan, seperti renang, tari serta Silat dan Alhamdulillah, untuk olahraga Silat, kami meraih urutan ke 5 di Popda tingkat kecamatan. Kami berharap, dari perubahan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh sekolah agar didukung sepenuhnya oleh semua elemen, terutama masyarakat agar mendukung program-program sekolah, sehingga kedepannya, dengan terwujudnya sekolah yang sudah bagus dan maju, masyarakat juga akan menikmati hasilnya.

*) Kepala sekolah SD Negeri Karangasem 10 Batang

SD Negeri COKRO BLADO MERINTIS PRESTASI


SD Negeri Cokro UPT Disdikpora kecamatan Blado mulai merintis prestasi, setelah beberapa tahun terakhir vakum. Bahkan tercatat, untuk pencapaian prestasi pada Popda tingkat kecamatan tahun ini ada 7 piala yang di boyong, diantaranya KIDs atletik yang meraih piala di 5 cabang, juara II catur dan juara II tennis Meja. Hal ini seperti yang disampaikan Lasmiyanto, S.Pd selaku kepala sekolah kepada tim liputan Jurnal beberapa waktu lalu.
Lebih jauh dipaparkan pria kelahiran Boyolali, 20 April 1974 ini, bahwa hal ini merupakan hasil komitmen jajaran dewan guru yang sudah ditentukan dalam program kerjanya.
“Kiat-kiat kami untuk meningkatkan prestasi adalah menjunjung tinggi tanggungjawab sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dalam hal ini, kami membagi tugas guru sesuai dengan bakat dan kemampuan guru itu sendiri, dan kami beri tanggungjawab untuk membina anak-anak sesuai dengan bakat yang mereka miliki”, jelasnya.
Dipaparkan Lasmiyanto yang memimpin sekolah ini sejak Oktober 2009 lalu ini, bahwa selain merintis prestasi, ada beberapa program yang sudah di agendakan oleh pihaknya, yang diantaranya persiapan menghadapi UASBN yang termasuk dalam program jangka pendek, serta beberapa program jangka menengah dan panjang.
“Untuk saat ini, program jangka pendek kami adalah melakukan persiapan menghadapi UASBN. Selama ini kita baru menyelesaikan RAPBS, persiapan merencanakan UAS Praktek, pembentukan panitia, dan memberikan les tambahan setelah jam pelajaran, serta melakukan konsolidasi dengan komite dan orang tua siswa”, katanya.
Selain program jangka pendek untuk mempersiapkan anak didik menghadapi UASBN, Mantan kepala sekolah SD Negeri Wates 03 UPT Disdikpora Wonotunggal ini menambahkan, pihaknya juga tengah melakukan pembenahan-pembenahan.
“Saat ini kami juga sedang membenahi administrasi-administrasi sekolah, administrasi kepala sekolah dan guru, karena sebelumnya kepala sekolah yang lama vakum karena sakit. Untuk program menengah dan panjang, kita akan merencanakan serta melakukan pembenahan dan pemenuhan sarana parasarana sekolah, karena dalam 3 tahun terakhir ini tidak ada aktifitas pembenahan sekolah”, paparnya.
Adapun program jangka panjang yang akan dilaksanakannya adalah merintis prestasi siswa, baik di bidang akademik yang dinilai paling utama, dan bisa menjuarai berbagai kejuaraan ditingkat kecamatan maupun di tingkat Kabupaten.
“Hal ini kami wujudkan guna melaksanakan visi sekolah untuk menuju pribadi yang beriman dan bertaqwa serta cerdas dan terampil. Kami berharap, ada didukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya, terutama kepada pemerintah untuk pemenuhan jumlah guru serta pembenahan sarana dan prasarana”, pungkasnya. (Trie)

SD NEGERI MANGGIS TULIS MULAI MERINTIS


Semenjak Sumarsana, S.Pd dipromosikan untuk menjabat sebagai kepala sekolah SD Negeri Manggis UPT Disdikpora Tulis per tanggal 10 September 2009 lalu, dirinya berkomitmen untuk mulai merintis prestasi. Hal ini dituturkan kepada tim liputan jurnal saat singgah di sekolah yang dipimpinnya beberapa waktu lalu.
“Pokoknya, semenjak saya disini, sekolah ini masih berstatus belum maju, karena melihat sejarahnya berdiri tahun 1968, namun sampai sekarang, sekolah ini hanya masih memiliki kelas hingga kelas 4, untuk kelas 5 dan 6 nya belum ada”, tuturnya.
Namun, dari kendala yang ada, dirinya tidak patah semangat. Bahkan menurutnya, hal ini menjadikan motivasi bagi pihaknya untuk tetap mewujudkan visi “Hari ini harus lebih baik dari hari sebelumnya”. Untuk itu, pihaknya tengah melaksanakan beberapa program kerjanya.
“Program jangka pendek kami adalah melakukan pembenahan administrasi dan memenuhi kekurangan- kekurangan yang ada, baik dari segi fisik dan non fisik, termasuk sarana prasarananya. Yang utama gedung 2 lokal, serta pemenuhan tenaga kerja yang saat ini hanya masih 2 orang dan yang lainnya masih wiyata bhakti”, tuturnya.
Ditambahkan pria kelahiran Sleman, 18 Oktober 1959 ini, bahwa pihaknya juga akan merencanakan program-program untuk memajukan sekolah yang akan dibahas dengan melibatkan masyarakat dan komite sekolah yang baru dalam waktu dekat.
“Kami akan membahas program-program untuk memajukan sekolah. Karena, untuk menyelenggarakan kegiatan sekolah harus ditopang dengan BOS, namun siswa sedikit. Sehingga kegiatan agak sulit. Kedepannya, kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan sekolah, dengan harapan untuk memancing animo masyarakat agar berminat untuk menyekolahkan putra-putrinya disini”, imbuhnya.
Dipaparkan mantan guru bidang studi matematika kelas 5 dan 6 di SD Negeri Kauman 7 Batang ini, pihaknya juga tengah merintis prestasi, dengan menggiatkan beberapa kegiatan ekstrakurikuler dan pengenalan komputer kepada anak didik.
“Kami sudah mulai merintis dan mencari bakat anak-anak di beberapa bidang. Bahkan kami telah mengadakan lapangan badminton dan anak-anak kami didik dengan catur. Sehingga, ditahun-tahun yang akan datang kita mampu berbicara, minimal ditingkat kecamatan. Siswa juga sudah mulai kami kenalkan dengan komputer, agar tidak tertinggal jauh dengan sekolah yang lain”, pungkasnya. (Trie)

INDAHNYA BERBAGI DALAM KEBERSAMAAN


Heni Okta Prastyawati *)

Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah. Pepatah tersebut mengajarkan pada kita bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Memberi merupakan wujud kerendahan hati kita dihadapan Sang Kholik. Memberi berarti melakukan inisiatif pertama tanpa mengharap imbalan, memberi tanpa pamrih, karena apa yang dilakukan telah diperhitungkan oleh Sang Kholik, sebagai bagian dari bentuk kasih dan amal terhadap sesama. Memberi bukan hanya dalam bentuk meteri, memberi senyuman, sapaan, kasih sayang, perhatian dengan sesama. Memberi senyuman dikala berpapasan dengan orang lain, memberi masukan dikala orang lain menghadapi masalah, memberi ucapan terima kasih dikala kita diberi sesuatu juga merupakan kelegaan, kepuasan bagi si pemberi. Memberi disaat orang lain membutuhkan apapun bentuknya sekecil apapun wujudnya merupakan apresiasi jiwa, pertolongan yang sarat akan makna terutama bagi si penerima yang senantiasa akan terpatri dalam jiwa.
Dalam sebuah rangkaian penelitian diambil kesimpulan bahwa orang yang selalu memberi tanpa mengharap balasan dari si penerima ternyata memiliki daya tahan mental lebih kuat, lebih mampu dalam menghadapi cobaan hidup dan terhindar dari penyakit yang diakibatkan oleh tekanan baik internal maupun eksternal. Karena tidak selamanya hidup yang kita jalani stabil ada kalanya menghadapi goncangan hidup. Harta kekayaan, jabatan tinggi, kedudukan mapan dan segala fasilitas yang bersifat duniawi yang kita miliki merupakan "baju" yang bisa dilepas kapanpun waktunya. Namun memberikan dengan tulus dengan penuh keikhlasan adalah sesuatu yang abadi.
Dalam aspek religius adalah apa yang disebut dengan amal jariyah yang akan senantiasa mengiringi kita hingga ke liang kubur. Dalam sebuah perumpamaan, ketika kita melempar batu ke dalam kolam atau danau akan terdapatlah lingkaran gelombang yang semakin besar terbentuk pada airnya. Apa yang di berikan baik itu perhatian, senyuman, pujian yang tulus, kata penghargaan, dekapan sayang, cinta kasih, ucapan selamat, bahkan materi yang dimiliki secara langsung atau tidak langsung akan memberi dampak yang berarti baik si pemberi ataupun si penerima yang kita tidak tahu kapan waktunya. Namun yang pasti pepatah "tabur tunai " akan senantiasa beriringan. Siapa menabur kebaikan, kebaikan pula yang akan ditunai. Siapa menabur kejelekan keangkaramurkaan, kesirikan, itupula yang akan ditunai.
Memberi dari kelebihan mungkin hal yang biasa yang sudah senantiasa, sepantasnya dilakukan. Namun ketika memberi dari keadaan kekurangan kita disitulah pemaknaan hidup yang lebih tinggi, mampu kita rasakan, disitulah nikmat syukur mampu kita terjemahkan. Berbagi merupakan momen yang tak akan ada hilangnya untuk kita renungkan ketika peranannya berpusat pada wujud implementasi tingkah laku maka munculah dorongan untuk berbagi dangan sesama, itulah karakteristik manusia makhluk yang paling sempurna dalam ciptaan-Nya, yang dalam dirinya oleh Sang Kholiq diberi perasaan rindu untuk senantiasa berbagi dengan sesama.
Berbagi mengindikasikan pengorbanan, kerelaan, kesediaan, keikhlasan untuk memberi. Semakin banyak memberi semakin kita tidak akan merasa kekurangan. Karena manusia sadar akan nikmat Sang Kholiq. Namun ketika paradigma globalisasi mengalami pergeseran nilai, saat ini telah menukar kerinduaan berbagi dengan topeng kamuflase, yakni kerinduan berbagi hanya untuk sebuah prestise semata, hanya karena untuk menaikkan popularitas, bahkan kadang dari sebagian orang memberi dengan maksud tertentu. Berbagi yang demikian bukan lagi karena keikhlasan.
Berbagi bukan hanya sebuah "sampul" yang akan terlihat indah memukau dari luar. Memberi adalah keikhlasan yang berasal dari dalam hati tanpa menggunakan polesan apapun. Itulah mengapa dianjurkan kepada kita sesama, ketika tangan kanan memberi jika bisa diharapkan tangan kiri tidak mengetahuinya. Diharapkan dalam kita berbagi jangankan orang lain, tangan kiri saja diharapkan tidak mengetahuinya, cukup hanya kita dan Sang Kholiq yang mengetahui dengan hati yang tulus dalam berbagi.
Berbagi yang dilandasi ketulusan hati akan berdampak pada perubahan yang dahsyat untuk kedua belah pihak. Berbicara menunjukkan bahwa kita berbagi. Sementara mendengarkan menunjukan kita peduli. Hal tersebut membuka gambaran bahwa berbagi tidak lepas dari rasa peduli. Peduli merupakan langkah awal untuk berbagi. Berbagi yang dilandasi oleh cinta kasih yang tulus akan melahirkan "keserupaan". Serupa sepasang suami istri, karena senantiasa berbagi dalam banyak hal, lama kelamaan akan ada kemiripan dalam wajahnya. Seorang anak yang diasuh oleh pembantunya juga akan ada kesamaan dalam wajahnya. Hal itu terjadi karena mereka yang saling berbagi akan memiliki kepekaan tinggi untuk saling memahami keinginan memenuhi kebutuhan dalam segala kepentingan.
Dalam sebuah aspek spiritual dikatakan semakin berkeinginan manusia dalam berbagi beban, berbagi waktu, berbagi kepedulian antar sesama dan bagi kemuliaan umat maka sifatnya akan mendekati sifat-sifat Sang Kholiq, itupula yang diharapkan. Dengan niat tulus teriring keikhlasan yang tanpa pamrih sebelum terlambat semoga kita lebih untuk mensyukuri nikmat Sang Kholiq, terbuka mata, hati dan telinga untuk tergerak berbagi dengan sesama yang membutuhkan, senantiasa rindu akan kemuliaan berlomba menuju kebaikan. Seberapapun bentuk pemberian yang kita terima disaat kita membutuhkan, akan jauh lebih bermakna dibandingkan emas permata jika kita hanya mampu untuk bisa memandangnya. Semoga kita akan menjadi bagian umat yang mampu untuk mendekati sifat-sifat Sang Kholiq.
Semoga……


*) Guru SD Negeri Tegalombo 01 Tersono

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK DENGAN METODE RUMAH QURANI UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN MULTIPLE INTELLIGENCES SISWA


Oleh : ALMUKAROMAH, S.Ag. M.Pd *)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan model pembelajaran tematik yang kondusif dalam menumbuhkembangkan multiple intelligences pada siswa Madrasah Ibtidaiyah. Pendekatan yang dilakukan adalah penelitian dan pengembangan (R&D). Temuan penelitian ini, bahwa model pembelajaran tematik dengan Metode Rumah Qurani yang menggunakan langkah bermain, bercerita dan isyarat tangan, efektif untuk menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa. Multiple intelligences ini meliputi kecerdasan spasial, linguistik, interpersonal, musikal, natural, bodi/kinestetis, intrapersonal, dan logis-matematis. Penelitian ini efektif pula untuk memperbaiki kinerja guru, sehingga dapat dikatakan model pembelajaran tematik dengan metode Rumah Quran efektif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran tematik.

A. Pendahuluan
Berdasarkan pernyataan tujuan pendidikan dalam pembukaan UUD Dasar 1945, pendidikan harus mampu mengembangkan seluruh aspek potensi manusia secara utuh dan salah satunya adalah aspek kecerdasan siswa. Kecerdasan adalah kualitas kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan. Aspek ini tidak kalah pentingnya dengan aspek-aspek yang lain yang harus ditumbuhkembangkan.
Terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, menurut Muhaimin (2001) diperlukan adanya upaya penyelenggaraan satu sistem pendidikan nasional yang secara sungguh-sungguh berusaha memfungsikan kecerdasan (intelligence) secara optimal. Optimalnya fungsi kecerdasan tersebut selama proses pembelajaran, merupakan upaya untuk mencapai kualitas pendidikan yang tinggi. Pada masa lalu individu dikatakan cerdas dan akan sukses bila memiliki IQ yang tinggi. Ternyata pendapat ”konvensional” tersebut sekarang terbantahkan dengan munculnya beragam kecerdasan. Baik yang digagas oleh Gardner dengan multiple intelligences ataupun oleh para ahli lainnya seperti Daniel Goleman dengan kecerdasan emosinya (Emotional Intelligence) serta Ian Marshal dan Danah Zohar dengan kecerdasan spiritual (Spiritual/ultimate Intelligence).
Pada pembelajaran kelas awal, proses pembelajaran dituntut untuk mampu memfungsikan kecerdasan tersebut dalam pendekatan pembelajaran tematik. Sementara, dilihat dari kondisi di lapangan, sebagian besar guru belum memahami dengan baik bagaimana pelaksanaan pembelajaran tematik dan pembelajaran bagaimana yang mampu menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa.
Dengan demikian yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah pembelajaran tematik yang bagaimana, yang dapat menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa.

1. Pembelajaran Tematik dengan Metode Rumah Qurani.
Pembelajaran Tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Rusman, 2007: 172).
Pembelajaran tematik sebagai salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok aktif menggali menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. (Rusman, 2007: 172, Tim Pengembang PGSD, 1997: 3-4).
Adapun penjabaran karakteristik dari pembelajaran tematik ini (Tim Pengembang PGSD: 1997) adalah : (1) Holistik, suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. (2) Bermakna, pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki oleh siswa, yang pada gilirannya nanti, akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang dipelajari; (3) Otentik, pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari. (4) Aktif, pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasar kepada pendekatan diskoveri inkuiri di mana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.
Dengan tema diharapkan memberikan banyak keuntungan, di antaranya (1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, (2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, (3) Pemahaman terhadap mata pelajaran lebih mendalan dan berkesan, (4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, (5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, (6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain, (7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan (Pusat Kurikulum, 2006: 5).
Pembelajaran tematik dalam penelitian ini akan diorkestrasikan dengan desain pembelajaran Rumah Qurani, di mana dalam setiap tema akan bernuansa ayat Al Quran. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian, mengaplikasikan Metode Rumah Qurani. Metode Rumah Qurani layak dipilih sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran untuk tumbuhkembang multiple intelligences SD/MI, mengingat metode ini dikembangkan dengan prinsip-prinsip yang berpihak pada multiple intelligences pebelajarnya.
Metode Rumah Qurani baru dikenal khalayak luas setelah buku dan CD mereka yang didistribusikan Mizan, mendapat perhatian masyarakat dengan mencapai best seller pada tahun 2007. Buku tersebut memperkenalkan tentang metode menyenangkan untuk anak hafal dan paham Al Quran, yang teruji dari pengalaman Lembaga Pendidikan Jamiatul Quran di Iran.
Selanjutnya, Tim kreatif dari para generasi muda praktisi pendidikan di Bandung membuat pilot project untuk mengembangkan metode tersebut agar sesuai dengan konteks keindonesiaan, Dari hasil uji coba mereka di TK Babussalam Dago Bandung selama setahun, mereka menetapkan tiga langkah yang bisa mengakomodasi pembelajaran Al Quran yang menyenangkan yaitu dengan bercerita/dongeng, bermain dan isyarat tangan. Dari hasil metode pembelajaran yang mereka kembangkan tersebut, penulis melihat bahwa metode tersebut strategis dan tepat diterapkan pada masa usia dini (0-8 tahun) termasuk untuk siswa SD/MI kelas awal (kelas 1-3). Di samping metode ini didesain dengan menyenangkan, tim Rumah Qurani juga telah menganalisa metode ini dengan Multiple intelligences.
Metode yang diusung Rumah Qurani, turut memberi warna yang berbeda dalam ragam pembelajaran yang bermuara pada tema agama Islam. Metode ini dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran yang Pendidikan Agama Islam untuk anak usia dini. Pendidikan Agama Islam untuk anak, selama ini masih banyak terjebak dengan metode tradisional berupa ceramah dan mencatat, sehingga kurang optimal. Sementara materi pelajarannya tetap dibiarkan abstrak, misalnya dalam pelajaran Al Quran. Di samping itu tema-tema yang dikembangkan Metode Rumah Qurani juga dapat diorkestrasikan dengan mata pelajaran lain dalam pembelajaran tematik. Metode Rumah Qurani mendekatkan siswa pada pemahaman yang lebih konkrit dan bermakna dengan tetap menyenangkan.
Tiga langkah pendekatan pembelajaran yang digunakan Metode Rumah Qurani adalah (Sulaiman, 2007):
1. Permainan yaitu yang dilakukan sebagai hiburan bermakna untuk siswa. Permainan ini antara lain mengajarkan konsep sebab akibat dari makna ayat yang dimaksud dan atau terkait dengan tema lain yang relevan.
2. Cerita yang merupakan kesimpulan dari permainan (melalui cerita keteladanan, makna yang diajarkan akan lebih terjelaskan kepada anak).
3. Penggunaan isyarat tangan ala “Jamiatul Quran” Iran yang telah disesuaikan dengan konteks budaya dan bahasa Indonesia. Langkah ini dapat membantu siswa memahami ayat yang abstrak menjadi lebih konkrit dengan gerakan tangan.
Ketiga langkah tersebut dapat dijadikan sebagai stimulasi multiple intelligences siswa dan dapat diorkestrasi dengan mata pelajaran lain yang terkait dengan tema. Tema pembelajaran diwarnai oleh kompetensi pada mata pelajaran Agama yang diorkestrasikan dengan kompetensi mata pelajaran lain seperti: Matematika, Bahasa Indonesia, PKN, IPS, Pendidikan Jasmani, Seni budaya, dan IPA.
Tema yang dikembangkan Rumah Qurani relevan dengan Standar Kompetensi atau Kompetensi dasar Agama Islam (akhlak) di kelas awal (I, I, III). Di antara tema ayat akhlak yang relevan menjadi materi pembelajaran antara lain: Berdamai, Membiasakan perilaku hidup bersih, adab makan dan minum, musyawarah, berbuat baik kepada orang tua, perintah memelihara shalat, menampilkan perilaku tolong-menolong, jujur, disiplin, hidup sederhana perilaku hemat, dan sebagainya.
Dengan menggunakan ketiga langkah Rumah Qurani, penelitian ini akan mengorkestrasikan materi-materi pelajaran dalam pembelajaran tematik sehingga menjadi pembelajaran yang menarik karena berupaya menstimulasi multiple intelligences dan bernuansakan nilai akhlak.

2. Multiple Intelligences
Dalam penelitian ini, pembelajaran tematik yang diujicobakan dengan skenario Metode Rumah Qurani akan dinilai dan dianalisa hasilnya melalui delapan aspek teori multiple intelligences menurut Howard Gardner yaitu pada kecerdasan linguistik (berkaitan dengan dengan bahasa), kecerdasan logis-matematis (berkaitan dengan nalar logika dan matematika), kecerdasan bodily/kinestetis (berkaitan dengan badan dan gerak tubuh), kecerdasan visual spasial (berkaitan dengan ruang dan gambar), kecerdasan interpersonal (berkaitan dengan hubungan antar pribadi, sosial), kecerdasan intrapersonal (berkaitan dengan hal-hal yang bersifat pengembangan pribadi), kecerdasan naturalistik (berkaitan dengan alam) pada siswa. Teori Multiple Intelligences bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena menawarkan model pembelajaran yang berpegang pada prinsip” semua anak memiliki kecerdasan” atau dengan kata lain tidak ada anak yang bodoh.(Hoerr: 2000; Megawangi: 2005; Lwin: 2008).

B. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development) Tahapan – tahapan yang dilakukan peneliti hanya sampai pada tahap tujuh dari sepuluh tahapan Borg dan Gall, di mana dalam Sukmadinata (2007: 184) disederhanakan dalam tiga tahap yaitu 1) studi pendahuluan, 2) pengembangan model, dan 3) uji model.
Pada tahap pengembangan model digunakan rancangan penelitian tindakan, yang secara berkelanjutan dievaluasi dan dilakukan refleksi untuk perbaikan dan modifikasi pada tindakan berikutnya. Hasil uji coba tersebut, akhirnya diperoleh suatu produk yaitu model pembelajaran tematik dengan metode Rumah Qurani.
Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa Madrasah Ibtidaiyah kelas satu di Kota Bandung. Dalam penelitian studi pendahuluan, guru dan siswa pada Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bandung yang mengajar di kelas satu dan siswa kelas satu Madrasah Ibtidaiyah dijadikan subjek penelitian dalam rangka memperoleh profil yang menggambarkan proses pembelajaran tematik yang telah dilaksanakan. Penetapan sampel dilakukan secara random yakni memilih secara acak 10 (sepuluh) kecamatan dari seluruh kecamatan di kota Bandung yang berjumlah 30 (lebih dari 30%). Dari 10 (sepuluh) Madrasah Ibtidaiyah yang dijadikan subjek penelitian studi pendahuluan dilakukan penetapan satu Madrasah Ibtidaiyah yang akan dijadikan subjek penelitian pengembangan yakni tempat dilakukannya uji coba terbatas (MI Al Inayah). Madrasah yang dijadikan sebagai tempat Uji coba luas adalah MI Nurul Huda, MI Persis 29, MI Qosrul Muttaqin.

C. Hasil Penelitian
1. Kondisi objektif pelaksanaan pembelajaran tematik pada siswa Madrasah Ibtidaiyah saat ini.
Kondisi pembelajaran tematik saat ini secara umum masih belum berjalan sesuai konsep pembelajaran tematik yang seharusnya, lebih khusus lagi terkait dengan usaha meningkatkan multiple intelligences siswa Madrasah Ibtidaiyah.
Fakta yang terlihat, pertama guru sebagai tokoh sentral belum mempunyai pemahaman yang cukup tentang pembelajaran tematik baik dalam tujuan pembelajaran, harapan siswanya, dan pandangan tentang tugas mengajar. Budaya pembelajaran konvensional masih melekat, seperti subject matter oriented (guru masih berorientasi pada pemenuhan materi), di samping itu harapan guru terhadap siswa belum mengarah pada keaktifan dan kreatifitas siswa yang akan membawa pembelajaran pada suasana menyenangkan karena sesuai dengan minat siswa. Sedangkan pandangan guru tentang tugas mengajar masih terbatas pada kewajiban yang harus dijalankan sesuai perintah sehingga guru mengajar tanpa motivasi untuk mengembangkan kreatifitas.
Kedua, perencanaan pembelajaran tematik pada umumnya belum mengarah kepada pembuatan RPP yang sesuai kaidah. Penentuan materi masih terpaku hanya pada buku sumber belajar. Guru belum banyak yang mempunyai keberanian untuk membuat indikator sendiri yang berpijak dari SK/KD untuk membangun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga menjadi lebih menyenangkan dan bermakna tidak selalu membuat rencana pembelajaran dulu sebelumnya. Dalam penentuan materi guru masih terjebak dengan mengambil dari buku teks pegangan siswa atau buku sumber belajar lainnya. Padahal pembelajaran dapat lebih bermakna dan menyenangkan jika guru bisa berani membuat indikator-indikator dari kompetensi dasar sebagai dasar dalam mengembangkan materi pembelajaran. Demikian pula dalam pengembangan tema guru madrasah masih belum berani membuat tema yang berporos pada agama.
Ketiga, Guru dalam melakukan proses pembelajaran, pada umumnya belum mengoptimalkan kreatifitas untuk membuat variasi pembelajaran agar dapat menstimulasi multiple intelligences. Metode mengajar di madrasah yang masih mendominasi adalah ceramah/ekspositori. Penggunaan media pembelajaran yang inovatif meski tidak harus mahal belum terbangun di kalangan guru kelas awal ini. Dalam proses penilaian, guru lebih memanfaatkan hasil belajar yang diperoleh melalui postes dan belum nampak penilaian proses yang dapat dijadikan alat untuk menggambarkan keragaman potensi siswa.
Keempat, aktifitas belajar siswa kurang bervariasi, dan kurang bermakna. Siswa selama proses pembelajaran kurang mendapat rangsangan untuk berkembangnya multiple intelligences, seperti kecerdasan spasial, linguistik, interpersonal, musikal, natural, bodi/kinestetis, intrapersonal maupun logis-matematis.
Kelima, dalam pemanfaatan sumber daya pendidikan Dalam pemanfaatan sumber daya pendidikan bisa disimpulkan masih minim, belum terlihat upaya pengkondisian ruang dan halaman sebagai tempat belajar sambil bermain, untuk dapat mengakomodasi keragaman kecerdasan siswa.
Dengan demikian, kondisi obyektif pembelajaran tematik kelas satu saat ini memerlukan pembenahan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. Upaya meningkatkan kualitas tersebut dapat dimulai dari aspek kinerja guru, agar lebih meningkat kualitasnya sebagai motivator dan fasilitator di kelas maupun aspek proses pembelajaran di kelas sehingga menjadi lebih menyenangkan dan bermakna karena sesuai dengan kebutuhan, dan keunikan siswa.

2. Perencanaan dan Pelaksanaan Model Pembelajaran Tematik Hasil Pengembangan
Mencermati kondisi pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah khususnya kelas satu yang masih belum optimal, maka salah satu upaya meningkatkan kualitas pembelajaran tematik tersebut adalah dilakukan pengembangan model pembelajaran tematik dengan menggunakan metode Rumah Qurani.
Tujuan dikembangkan model ini adalah sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran tematik pada Madrasah Ibtidaiyah, agar kondusif dalam menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa. Di samping itu juga dapat membangun suasana religiusitas yang terwarrnai dalam materi maupun metode yang digunakan dalam pembelajaran. Upaya yang dilakukan; pertama, pembelajaran tematik dengan mengintegrasikan materi Agama (ayat tentang akhlak yang dikembangkan Rumah Qurani, diintegrasikan dalam indikator akhlak) dalam sebuah tema, kemudian mengaitkan materi agama tersebut dengan beberapa materi yang lain. Kedua, dalam penyajiannya di kelas, menggunakan metode menyenangkan dan dapat mengakomodasi multiple intelligences siswa (sebagaimana metode yang dikembangkan di Rumah Qurani) seperti bermain, bercerita, dan menggunakan gerakan isyarat tangan (untuk membantu memahamkan siswa pada ayat/dalil Al Quran yang terkait dengan tema). Dengan model tersebut, diharapkan mampu menghantar siswa pada pemahaman yang utuh terhadap apa yang dipelajarinya.
Berdasarkan hasil pengembangan, maka hasil akhirnya adalah berupa model rancangan pembelajaran tematik yang secara sistematis dan berkelanjutan mengembangkan langkah-langkah kegiatan awal, kegiatan inti (yang terdiri dari bermain, bercerita, dan isyarat tangan), serta kegiatan penutup.
Kegiatan inti, merupakan kegiatan yang menjadi keunikan dari model pengembangan ini. Kegiatan yang dikembangkan adalah bermain, bercerita, dan isyarat tangan. Langkah bermain, merupakan aktifitas merangsang panca indra, kepekaan dan gerak badan anak. Langkah ini sebagai upaya membuat siswa lebih mengerti tema dan sub tema yang dipelajarinya melalui eksplorasi berimajinasi, berdiskusi, bernyanyi, bereksperimen, mengubah bentuk (object manipulation), tebak-tebakan, dan kegiatan lainnya yang dapat mengeksplorasi gerak tubuh anak dengan menyenangkan. Aktitas yang dikembangkan di lapangan antara lain, belajar dengan menyanyikan lagu, menempel gambar dua dimensi, lomba kecepatan lari dalam permainan lari bendera dan sebagainya. Media dan sumber belajar yang dapat dieksplorasi antara lain gambar, tape recorder, bendera kata dari kertas, LKS, lingkungan sekitar dan sebagainya. Langkah bermain ini tidak terjebak hanya pada awal kegiatan inti, tapi dapat mewarnai pada langkah cerita dan isyarat tangan. aktifitas ini dapat menstimulasi pada semua aspek kecerdasan seperti spasial, linguistik, interpersonal, musikal, naturalis, bodi/kinestetis, intrapersonal, logika matematika.
Langkah bercerita, meliputi kegiatan menyimak, membaca atau menceritakan kembali tentang cerita yang relevan dengan konteks tema yang dikembangkan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang lebih mengeksplorasi kecerdasan linguistik (berbahasa). Namun demikian, jika bercerita dapat dilakukan guru dengan kehangatan dapat menumbuh kembangkan kecerdasan interpersonal. Kegiatan ini juga dapat menumbuhkembangkan kecerdasan intrapersonal siswa yaitu menumbuhkan rasa percaya diri dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menceritakan kembali dengan bahasa sendiri. Dalam kegiatan menceritakan kembali dengan bahasa sendiri ini dapat dilakukan dengan berdiri di tempat duduknya atau dengan maju ke depan kelas. Dalam aktifitas bercerita, media dan sumber belajar dapat menggunakan gambar, sehingga lebih memperkuat visualisasi cerita untuk menumbuhkembangkan kecerdasan spasial visual siswa.
Langkah isyarat tangan, adalah gerakan isyarat tangan yang mendekati bahasa tubuh tuna rungu. Aktifitas ini adalah sebagai upaya membantu memahamkan anak dengan konsep Ayat Al Quran supaya lebih konkrit. Ayat / dalil yang diajarkan adalah yang relevan dengan tema/sub tema. Jadi dalam aktifitas ini siswa belajar konsep Al Quran dengan proses yang bermakna.
Melalui rancangan model pembelajaran hasil pengembangan ini, ternyata efektif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran tematik di kelas satu. Dengan kondisi pembelajaran yang demikian, dari hasil pengamatan dan catatan lapangan terhadap belajar siswa dapat diidentifikasi bahwa pembelajaran tematik dengan menggunakan metode Rumah Qurani dapat menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa, seperti kecerdasan spasial, linguistik, interpersonal, musikal, natural, bodi/kinestetis, intrapersonal, logis-matematis.

3. Hasil pembelajaran tematik dengan menggunakan Metode Rumah Qurani dalam menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa
Model pembelajaran tematik hasil pengembangan, dapat dijadikan salah satu model pembelajaran inovatif di madrasah kelas awal, yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran baik proses maupun hasil. Alasannya karena model ini merupakan sinergi dari berbagai temuan-temuan baru yang dapat mengorkestrasikan kesuksesan pengembangan multiple intelligences siswa.
Dengan kata lain, model pembelajaran tematik yang dirancang dengan mengintegrasikan metode Rumah Qurani, ternyata cukup kondusif dalam menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa.
Hal tersebut dapat dilihat dari skor hasil asesmen yang secara internal dibandingkan antar skor hasil asesmen selama pembelajaran tematik berlangsung. Pada umumnya hasil dari perkembangan setiap aspek multiple intelligences siswa di tiga Madrasah Ibtidaiyah dengan kualifikasi baik, sedang, kurang mengalami peningkatan yang berarti, yaitu rata-rata skor hasil asesmen selama dan setelah pembelajaran tematik, dengan menggunakan analisis rumus statistik uji t hitungnya lebih besar daripada t tabel dan rata-rata dari setiap aspek multiple intelligences.
Dengan demikian, model pembelajaran yang dikembangkan ini dapat dijadikan alternatif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran tematik di Madrasah Ibtidaiyah.

D. Rekomendasi
Model pembelajaran tematik dengan menggunakan metode Rumah Qurani hasil penelitian dan pengembangan ini, dapat dijadikan salah satu alternatif untuk mengubah kebiasaan pembelajaran konvensional. Untuk itu beberapa hal berikut perlu diperhatikan guru, Kantor Kementrian Agama Kabupaten Batang, dan peneliti selanjutnya:
• Perlu adanya kemauan guru untuk mampu merealisasikan prinsip 5 M, yaitu Menarik, Menyenangkan, Memberikan kesan mendalam, Mudah dipelajari, Mudah diterapkan. Kelima prinsip tersebut diintegrasikan dalam aktifitas bermain, bercerita dan gerakan isyarat tangan yang juga harus dikuasai oleh guru dengan baik. Model Pembelajaran tematik ini memerlukan guru yang kreatif, dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar siswa, memilih kompetensi dari berbagai bahan ajar dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih interaktif, inspiratif, menantang, dan memotivasi siswa, memberi ruang bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai bakat, minat, fisik, dan perkembangan psikologi siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa.
• Penerapan model ini diperlukan dukungan dari pihak Kementerian Agama bidang Mapenda, mengingat model pembelajaran ini relevan dengan program peningkatan mutu pembelajaran usia dini. Dukungan dari bidang Penamas juga diperlukan mengingat metode ini relevan dengan pembelajaran anak usia dini pada Taman Pendidikan Al Quran.
• Peneliti selanjutnya, dapat mengembangkan model pembelajaran tematik dengan metode Rumah Qurani ini, dengan tema dan sub tema yang lain, yang esensinya selain memfasilitasi siswa dalam menumbuhkembangkan multiple intelligences siswa, juga dapat secara berkelanjutan meningkatkan kreatifitas guru.
Semoga bermanfaat..........

(Peneliti adalah Pelaksana pada seksi Mapenda Kantor Kementerian Agama Kab. Batang Jawa Tengah)

SD Negeri Brokoh Wonotunggal Selangkah Lebih Maju

Bedjo Muljadi beserta jajarannya। Foto:तरी

SD Negeri Brokoh UPT Disdikpora kecamatan Wonotunggal, kini selangkah lebih maju. Beberapa prestasi mulai terukir dalam 4 tahun terakhir ini, baik ditingkat kecamatan, tingkat kabupaten Batang, hingga di tingkat karesidenan Pekalongan. Hal ini seperti yang disampaikan Bedjo Muljadi selaku kepala sekolah kepada tim liputan Jurnal beberapa waktu lalu.
“Untuk masalah prestasi, yang penting bisa maju. Sekolah kita, tahun kemarin dibidang Mocopat menjuarai tingkat kecamatan dan masuk ketingkat Kabupaten Batang, sedangkan untuk bidang catur bisa mencapai ke tingkat karesidenan”, tuturnya bangga.
Tak pelak, sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 130 anak ini tercatat 4 kali berturut-turut menjuarai Mocopat di tingkat kecamatan Wonotunggal dan ditingkat Kabupaten Batang 2 kali sebagai juara harapan 2.
Ditambahkan pria kelahiran Bantul, 19 September 1950 ini, bahwa saat ini pihaknya tengah memprioritaskan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, catur dan mocopat.
“Untuk catur sudah kami biasakan pada saat jam istirahat, mulai dari kelas 1 untuk mencari bibitnya. Kendalanya, yang ahli dibidang catur untuk yang membimbing atau membina belum ada, hanya tahu secara alami atau otodidak saja”, keluhnya.
Perlu di ketahui, sekolah yang menjunjung Visi “Menciptakan lingkungan sekolah menjadi pusat belajar, berlatih berfikir dan bertaqwa, selangkah lebih maju” ini wilayahnya dilingkari oleh sekolah-sekolah terdekat. Kendala yang lain, termasuk lokasinya terpencar, faktor ekonomi masyarakat juga mempengaruhi.
“Namun ada yang kami banggakan, kini kesadaran masyarakat untuk bersekolah sudah mulai ada, bahkan sudah ada yang kuliah, sehingga ini dapat memberikan dorongan. Trik kami mendorong anak-anak agar mau melanjutkan dengan cara menahan ijazah mereka agar mau melanjutkan. Akhirnya, dengan trik semacam itu, anak-anak banyak yang melanjutkan, dan akhirnya berhasil memancing masyarakat yang lain karena sudah ada putra daerah yang berhasil”, imbuh Bedjo.
Diakhiri kepala sekolah, pihaknya dalam kesempatan ini ingin menyampaikan terimakasih kepada pemerintah yang telah membantu pihak sekolah dengan terwujudnya gedung sekolah yang sudah representative. Kedepannya, pihak pengelola SD Negeri Brokoh akan merehab rumah dinas yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan perpustakaan.
“Kami berharap, keinginan kami ini bisa direalisasikan, karena mengingat bangunan rumah dinas yang sudah tidak terpakai serta kondisinya yang sudah rusak parah. Sehingga kami berinisiatif untuk membangun gedung perpustakaan yang akan bermanfaat bagi anak didik kami”, pungkasnya. (Trie)

Rumah Dinas yang rencananya akan dialokasikan untuk gedung Perpustakaan.Foto:Trie

SD Negeri Sawangan 02 Gringsing TERAPKAN JAM BELAJAR MALAM


SD Negeri Sawangan 02 UPT Disdikpora Gringsing pada tahun ini menjadi pusat penyelenggaraan UASBN dari 3 sekolah, yakni SD Negeri Sawangan 01, 03 dan 02 itu sendiri. Pasalnya, saat ini kepala SD Negeri Sawangan 01 sudah purna tugas dan kepala SD Negeri Sawangan 03 saat ini sedang sakit, sehingga untuk penyelenggaran ujian dipusatkan atau menginduk di SD Negeri Sawangan 02 Gringsing. Hal ini seperti yang disampaikan Sunarto, BA selaku kepala sekolah kepada tim liputan JPBB beberapa waktu lalu.
“Tahun ini sekolah kita menjadi induk untuk penyelenggaraan UASBN di desa ini, meliputi 3 sekolah yang terdiri dari 84 peserta. Adapun persiapan yang telah kami lakukan adalah membentuk panitia dan mengikuti program-program dari Disdikpora Kabupaten Batang”, tuturnya.
Lebih jauh dikatakan pria kelahiran Sragen, 6 Mei 1954 ini, bahwa selain mempersiapkan kepanitian ujian, pihaknya juga telah melaksanakan persiapan-persiapan untuk suksesi ujian di sekolah yang dipimpinnya.
“Untuk sekolah kita, kita telah melakukan beberapa persiapan, diantaranya memberikan jam tambahan sejak semester pertama, setiap hari mulai jam 1 sampai jam 3, karena kalau sore hari, anak-anak ngaji”, jelasnya.
Menurutnya, persiapan menghadapi ujian ini bukan hanya tanggung jawab guru kelas 6 saja, sehingga pihaknya menekankan agar adanya kerjasama semua guru demi mengantar anak didik bisa sukses menghadapi ujian.
“Yang membimbing anak-anak peserta ujian bukan hanya guru kelas 6 saja, tapi kami juga melibatkan guru-guru yang lain, terutama guru mata pelajaran yang di ujiankan agar turut membantu”, paparnya.
Dalam upaya untuk menigkatkan hasil UASBN, selain menjadi tanggungjawab guru, Sunarto juga berharap agar orang tua juga turut membantu untuk mengawasi anak-anak saat belajar di rumah.
“Kami juga mengharap agar orangtua juga turut mendukung dan menjaga serta melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui bersama, yakni mematikan televisi pada jam-jam belajar dirumah, dari pukul 7.30 hingga 8.30 malam. Ini juga berlaku untuk kelas 1 hingga kelas 6. dan kami juga menerapkan sholat malam”, imbuhnya.
Dalam penyelenggaran ujian nanti, dirinya berharap agar pelaksanaannya dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Harapan kami, semoga kita bisa menyelenggarakan ujian secara baik, tertib dan lancer. Dan semoga, lulusan kita bisa diterima di sekolah-sekolah negeri dan tidak ada anak yang tertinggal, kalaupun ada, kami pasrah, yang jelas kami sudah berusaha”, pungkasnya.
Perlu diketahui, SD Negeri Sawangan 02 Gringsing juga menyelenggarakan kegiatan Ekstrakurikuler, diantaranya dibidang olah raga yakni sepakbola, voli dan karate serta marching band. Dan untuk catatan prestasi, sekolah ini juga memiliki segudang prestasi diantaranya juara III KIDs atletik, juara II Karate PA dan juara I komite PI Popda tingkat kecamatan, serta Juara III Komite PA tingkat Kabupaten Batang pada Popda tahun ini. (Trie)

SD NEGERI SIBERUK GIATKAN SEMANGAT BARU

Sutoyo, S.Pd.SD beserta jajarannya. Foto:Trie

Bila kita menghendaki untuk maju, maka semangat akan muncul dengan sendirinya yang dibarengi dengan sugesti untuk selalu sukses. Hal inilah yang diterapkan Sutoyo, S.Pd.SD selaku kepala sekolah SD Negeri Siberuk UPT Disdikpora Tulis yang disampaikan kepada tim Liputan JPBB beberapa waktu lalu.
Menurutnya, hal ini ia terapkan di sekolah yang dipimpinnya sejak 1 oktober 2009 lalu ini karena mengingat perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan semakin meningkat, yang didukung peran serta masyarakat yang semakin aktif.
“Semangat kita yang baru karena mengimbangi pemerintah agar sesuai harapan. Pemerintah sudah memperhatikan satuan-satuan pendidikan dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah dan juga dengan adanya peningkatan peran serta masyarakat yang semakin bagus terhadap sekolah. Kita akan berusaha maksimal untuk mengimbangnya”, jelas mantan guru SD Negeri Kenconorejo 03 ini.
Ditambahkan pria kelahiran Batang, 5 Juni 1960 ini, bahwa semangat yang dibangun diwujudkan dalam penggalian dan peningkatan prestasi, diantaranya menghidupkan kembali potensi anak-anak dibidang olahraga.
“Kegiatan olahraganya dulu kurang, dengan saya punya basic olahraga dan sering menangani bidang olah raga, saya ingin sekolah kita ini bisa berprestasi dibidang olahraga. Dan saya juga merelakan lapangan tennis meja pribadi saya untuk dibawa ke sini agar anak-anak bisa latihan. Selain dibidang olahraga, kami juga mencoba menggali potensi dibidang seni rebana dan untuk peningkatan akademik, kami telah mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler”, paparnya.
Bahkan, SD Negeri Siberuk kini mulai menerapkan jam masuk lebih awal, yakni pukul 7 lebih 5 menit sudah diadakan kegiatan didalam kelas. Adapun kegiatan yang diselenggarakan diantaranya kebersihan, penanaman ilmu kebangsaan dan keagamaan yang dilakukan diluar kelas hingga pukul 7.30 dan selanjutnya disambung dengan proses KBM.
“Tujuannya adalah menambah efektifitas jam belajar. Karena, disamping untuk meningkatkan bidang akademik, sekolah kami juga ingin meningkatkan rasa kebangsaan, budi pekerti, bidang sosial dan bidang keagamaan kepada siswa”, imbuhnya.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan dengan adanya masuk lebih awal diantaranya meningkatkan rasa kebangsaan kepada siswa yang di jadwalkan pada minggu pertama menyanyikan lagu-lagu nasional atau perjuangan, mingu kedua membaca puisi, minggu ketiga pembacaan teks-teks sejarah, dan minggu ke empat memekikan semangat perjuangan, seperti kata “Merdeka” yang dilaksanakan setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis.
“Setiap minggu kita selalu ada kegiatan namun berbeda-beda. Untuk Senin menyelenggarakan upacara bendera, Jumat olahraga bersama dan hari Sabtu pengembangan diri serta kebersihan. Dan untuk bidang keagamaan kita selenggarakan setelah kegiatan kebangsaan, yakni setiap hari Selasa hingga kamis”, pungkasnya. (Trie)

Wachyusin, S.Pd, MM - ketua PGRI Batang “Ingin Mewujudkan Guru Yang Profesional, Sejahtera, Bermatabat Dan Terlindungi”

Terpilihnya Wachyusin, S.Pd, MM sebagai ketua PGRI kabupaten Batang pada konferensi XX PGRI pada tanggal 28 Desember 2009 lalu membawa harapan yang besar bagi para anggota khususnya dan seluruh guru yang ada di kabupaten Batang pada umumnya. Paling tidak, dengan adanya kepengurusan yang baru, membawa semangat baru pula untuk memperjuangkan hak-hak “kaum Oemar Bakrie” seperti yang telah diperjuangkan oleh pengurus-pengurus sebelumnya.
Bak gayung bersambut, ketua PGRI kabupaten Batang terpilih, Wachyusin, S.Pd, MM ketika dijumpai beberapa waktu lalu menjawab, pihaknya saat ini juga sedang melakukan koordinasi dengan jajaran pengurus untuk tetap memperjuangkan hak para anggotanya yang dirangkum dalam program kerjanya untuk 5 tahun mendatang..
“Yang pasti, kita tetap berlandaskan pada tema nasional, yakni ingin mewujudkan organisasi PGRI yang kuat dan bermatabat. Dan untuk tema dan perjuangan PGRI kabupaten Batang, kita ingin mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, bermatabat dan terlindungi”, katanya.
Dijelaskan pria kelahiran 7 September 1960 ini, bahwa tema nasional hanya bermuatan penguatan internal, tapi kalau tema kabupaten, ada gerakan atau imbas keluar, yakni ke anggota. Tapi menurutnya, perjuangan ini juga harus diimbangi dengan kinerja yang baik dari anggota.
“Kita ingin agar guru-guru kita memenuhi itu. PGRI akan berusaha, meskipun usaha PGRI hanya mendorong, baik kepada jajaran dinas, maupun secara moral PGRI mempunyai kewajiban kepada anggotanya untuk profesional. Dan untuk menciptakan guru yang profesional, pemerintah diharapkan bisa mewujudkan dan memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti diklat dan pelatihan yang diadakan oleh pemerintah, baik seminar dan sebagainya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi guru”, paparnya.
Diakui Wachyusin yang juga kepala UPT Disdikpora kecamatan Batang ini, bahwa pihaknya juga berjanji akan mengimbangi apa yang akan diberikan oleh pemerintah kepada guru, diantaranya melakukan upaya-upaya koordinasi dan pembinaan kepada para anggota.
“Kita bakan melakuan upaya-upaya penyadaran kepada anggota, melalui birokrasi PGRI, baik ditingkat cabang maupun ranting. Tidak hanya gurunya yang digarap, tapi bahwa untuk bisa profesional ada tiga unsur untuk penguatan, yakni Guru itu sendiri, kepala sekolah dan pengawas. Baru keprofesionalan guru bisa diwujudkan”, imbuhnya.
Mantan Wakil Ketua PGRI periode XIX ini menegaskan, bahwa Guru harus tetap dipantau, kepala sekolah dan pengawas yang mempunyai tugas supervisi. Kalau hanya ditunggu, pihaknya tidak yakin guru profesional akan muncul.
“Kamipun akan melangkah, secara moral pengurus juga mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan guru profesional. PGRI tetap mengawal implementasi UU guru dan dosen. Teman-teman guru yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi harus professional. Dan ketika guru belum profesional, maka itu tanggung jawab PGRI, kita akan melakukan upaya, baik melalui sosialisasi dan pembinaan”, katanya.
Menyinggung program kerja yang akan dilaksanakan jajaran pengurus periode XX, warga Desa Karangtengah kecamatan Subah ini mengatakan, akan memulai dari pembenahan organisasi terlebih dahulu, yang dilanjutkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
“Kita akan berangkat dari pembenahan organisasi. Mulai dari pendataan anggota, pendataan keuangan dan pembenahan administrasi. Ini menjadi dasar untuk membenahi organisasi. Dan pada awal kepengurusan ini, yang pertama kita akan melakukan silaturahmi dan koordinasi, yang sudah kita awali bersilahturahmi dengan dewan penasehat, yakni dengan Bupati dan Kepala Dinas. Alhamdulilah diterima langsung oleh beliau, dan Bupati berharap, selain perjuangan PGRI untuk organisasi dan anggota, PGRI juga diharapkan memberikan kontribusi untuk pembangunan di kabupaten Batang, menjadi mitra pemerintah dan ikut membangun masyarakat”, tuturnya.
Selain koordinasi dan silahturahmi kepada dewan penasehat PGRI, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait yang ada.
“Silahturahmi dan koordinasi kami lanjutkan dengan DPRD, Depag, dan Polres. Apapun lembaganya, pasti suatu saat akan bersentuhan dengan guru, dengan komunikasi yang baik, semuanya bisa kita bicarakan. Untuk itu kami mantapkan koordinasi dengan pihak yang terkait, agar dijadikan mitra”, imbuhnya.
Dalam waktu dekat, PGRI kabupaten Batang yang beranggotakan + 4000 orang yang telah terdaftar ini mempunyai program untuk melaksanakan konferensi cabang, yang menurut penuturan Wachyusin, akan ditargetkan selama 3 bulan kedepan.
“Program kami berikutnya, kami akan berupaya mentargetkan 3 bulan setelah konferensi kabupaten, masing masing kecamatan membentuk konferensi cabang, yang akan ditindak lanjuti ranting. Rencananya akhir maret, kita akan berjalan marathon. Dan perlu diketahui, bahwa kemarin Cabang yang ada, baru 12, untuk kepengurusan cabang kedepan sudah disepakati akan membentuk 15 cabang sesuai jumlah kecamatan yang ada. Sedangkan untuk kecamatan baru hanya pembentukan pengurus dan penyusunan program, kalau untuk cabang yang lama ada laporan pertanggungjawaban, penyusunan proganm kerja dan re organisasi”, paparnya.
Termasuk untuk mewujudkan kesejahteraan atau hak-hak para anggota yang belum diperoleh seperti Guru Agama, guru-guru TK, termasuk pengawas dan penilik, pihaknya akan melakukan konsolidasi dan penataan oraganisasi, diantaranya konferensi cabang yang dilakukan marathon.
“Konferensi cabang yang dilakukan secara marathon dan melakukan validasi data anggota juga dalam rangka itu, agar kita dalam berorganisasi bisa mapan. Sehingga kita bisa tau, mana hak-hak yang belum diterimanya. Dan menurut kami, pekerjaan yang terbesar adalah pendataan anggota. Saat ini yang baru terdaftar sekitar 4000, bukan pekerjaan yang musdah untuk mendata. Dan kedepannya, akan ada pendataan secara online. Data keanggotaan ini akan online secara nasional. Bisa di update oleh pengurus Kabupaten. Nanti akan dibuat kartu semcam KTP, sejalan dengan program pendataan yang kita lakukan”, jelasnya.
Kedepannya, lanjut pria yang murah senyum ini, Penilik yang notebene fungsional dan mengalami purna tugas saat usia 56 tahun, juga akan diperjuangkan untuk purna pada usia 60 tahun sama dengan guru. Termasuk guru-guru tenaga honorer.
“Kami juga akan memperjuangkan nasib guru-guru tenaga hororer, karena sekarang kan pemerintah sangat getol mengintruksikan agar perusahaan-perusahaan memberikan upah yang layak untuk karyawannya. Tapi bagaimana dengan guru yang mempunyai tanggung jawab dari pagi hingga siang. Selama ini belum atau tidak ada aturan yang memperjuangakan guru wiyata bhakti. Rencananya PGRI akan memperjuagkannya juga, dan justru rekomedasinya UMR plus. Terus terang, PP 48 yang menghambat pengangkatan guru Honorer, selama ini belum ada penghargaan kepada mereka yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan”, jelasnya.
Dirinya berharap, dengan hadirnya kepengurusan yang baru ini, seluruh anggota dapat mendukung apa yang menjadi program kerja pengurus, termasuk untuk menjadikan anggota sebagai guru professional. Diharapkan pula, agar para guru mampu mempertejemahkan UU guru dan Dosen, sehingga Guru yang sejahtera, bermartabat dan terlindungi bisa diwujudkan.
“Apalah artinya kami bila anggota dan jajaran terkait tidak memberikan dukungan. Untuk itu kami harpkan adanya bentuk dukungan yang nyata, sehingga kedepannya kuantitas maupun kualitas kegiatan kerja PGRI dapat ditingkatkan. Sebab PGRI dituntut menghasilkan pengurus organisasi kependidikan yang berkewajiban menjadikan organisasi tumbuh dan berkembang menjadi kuat dan bermartabat”, pintanya.
Dalam kesempatan ini, Wachyusin beserta jajaran pengurus PGRI kabupaten Batang menyampaikan salam hormat dan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan kepada pihaknya. “Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dari teman-teman anggota PGRI yang telah memberikan amanat kepada kami, para pengurus baru. Selain kami berterimakasih, kami juga ada harapan, mohon dukungan dan doa restu dan kerjasama dari seluruh komponen untuk diwujudkan dalam kami melaksanakan amanat tersebut”, pungkasnya. (Trie)

Serah Terima Jabatan dari ketua lama (Drs. H. Mugiharjo) kepada Ketua Baru (Wachyusin,S.Pd,MM)
Jajaran Pengurus PGRI Kabupaten Batang Periode XX bersama Bupati Batang H.M Bambang Bintoro, SE dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga H. Priyodigdo, SE, MM.