Kamis, 01 April 2010

Salam redaksi & Editorial Edisi 8


Salam solidaritas dari Romo

Sebentar lagi masyarakat Kabupaten Batang akan memapaki usia Pemerintahan Daerah ke 43 tahun atau 43 tahun berdirinya kembali Kabupaten Batang, meski kita juga harus melewati masa yang paling penting untuk menunaikan hak dan kewajiban sebagai rakyat guna melaksanakan Pemilu tahun 2009, baik pemilihan legeslatif maupun pemilihan presiden.

Maka redaksi Jurnal Pendidikan Batang Berkembang ingin menggugah semangat kaum pendidik, juga dengan mengingat kembali tokoh pejuang pendidikan, yakni Ki Hajar Dewantoro yang lahir 120 tahun lalu. Jiwa, semangat dan nilai kejuangannya dalam pendidikan masih sangat relevan ketauladanannya yang diabadikan dengan hari pendidikan nasional 2 Mei 2009 yang akan datang sebagai momentum kebangkitan guru yang patriotis dan bekerja secara professional.

Meneladani semangat dan kejuangan Ki Hajar Dewantoro memegang prinsip TRI PURUSA, yakni pendidikan disekolah, keluarga dan masyarakat dengan kata saktinya Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Dengan prinsip tersebut kita hantarkan anak didik Kabupaten Batang untuk bisa lebih meningkat lagi, baik jasmani dan rohaninya dengan berlandaskan budi pekerti yang luhur, menjadikan anak-anak Batang unggul dan berkualitas.

Semoga


“Back to Basic the Massage of Good Educators Commited to The Best Education”

Go to basic education of Indonesia bagi seluruh pengelola pendidikan, guru, kepala sekolah merupakan suatu amanat yang harus diwujudkan, yakni menciptakan generasi yang cerdas, terampil, berkualitas dan berakhlak mulia.

Lebih-lebih lagi, sekarang Pemerintah sudah sadar, bahwa pembangunan pendidikan merupakan kunci penentu kesejahteraan rakyat, baik moril materiel, sehat dan kuat.kita wajib bersyukur, guru dan kaum pendidik pada umumnya oleh pemerintah telah diberikan peningkatan kesejahteraan yang lebih disbanding dengan pegawai negeri seperti pada umumnya. Maka untuk itu, guru harus bekerja secara professional, berinovatif dengan memotivasi diri secara baik. Maind set keguruannya yang sejati seperti guru yang istiqomah, guru yang tahan uji dan tekun melaksanakan amanah sebagai pendidik.

Profesi guru lahir oleh adanya revolusi bidang pendidikan, dimana para orang tua mulai menyerahkan dan atau mempercayakan sebagian wewenang pendidikan anak-anaknya kepada orang lain yang di nilainyamemiliki kemampuan. Profesi guru berkembang sebagai akibat dari pergeseran system pendidikan dirumah oleh orang tua ke arah pendidikan formal disekolah. Pada mulanya pekerjaan guru dianggap sebagai suatu pekerjaan karena jabatan, dilakukan menurut tanggungjawab yang diberikan yaitu mengajar. Pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa kualifikasi tertentu dengan kridensial yang bervariasi anatara tempat satu dengan yang lain.

Namun sejak akhir abad 19 dan awal abad 20 dimana aktivitas pendidikan dan pengajaran memunculkan suatu bidang pekerjaan yang selanjutnya disebut sebagai profesi, spesialisasi pada keahlian mengajar berkembang menjadi satu profesi tersendiri. Untuk itu, kini dilakukan usaha-usaha penyeragaman standar minimal untuk profesi guru melalui program-program peningkatan ketrampilan guru, pengembangan organisasi profesi, peningkatan gaji guru, perbaikan berbagai kondisi kerja dan sebagainya.

Profesionalisme guru sebagai pengembang sumber daya manusia tidak dapat dihindari. Dalam proses transformasi sosial menuju masyarakat global dimana profesi guru bertanggungjawab mempersiapkan sumberdaya manusia untuk hidup dan berkarya didalam perubahan sosial yang terjadi menuntut perubahan fungsi dan perannya. Terkait dengan arus otonomi daerah dan gelombang keterbukaan yang terjadi dalam masyarakat saat ini, ada tiga peran dan fungsi guru Indonesia, yaitu sebagai agen pembaharu, pengembang sikap toleransi dan pengertian, serta sebagai seorang pendidik yang professional.

Selamat mengabdi dan berjuang untuk guru dan pengelola pendidikan guna mengejar ketertinggalan kita dengan Negara lain.

Drs. Sabar Mulyono : “persiapan ujian nasional diawali dari pendataan peserta yang valid”


Dijumpai usai serah terima jabatan Eselen III dan IV dilingkungan Disdik Pora Kabupaten Batang tanggal 13 Februari 2009 lalu, Drs. Sabar Mulyono selaku Kepala Bidang Pendidikan SMP/Dikmen menuturkan, saat ini pihaknya tengah fokus dibeberapa program prioritas Disdik Pora Kabupaten Batang, khususnya bidang Pendidikan SMP/Dikmen. Adapun Program prioritas yang menjadi program kerja diantaranya persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN).

“Dalam rangka kunjungan kerja yang didampingi oleh komisi B, kami telah mengadakan pemantapan kepada sekolah-sekolah di 15 kecamatan, guna mempersiapkan sekolah menghadapi ujian nasional, dan kunci pokok menghadapi persiapan ujian nasional diawali dari pendataan peserta yang valid.”, tuturnya.

Lebih jauh dipaparkan pria kelahiran Kendal, 10 Mei 1963 ini, bahwa kegiatan-kegiatan yang harus diterapkan disekolah diantaranya Pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan efisien, dan seandainya kurang, perlu adanya jam tambahan pelajaran, pagi hari diintensifkan, dan pada sore hari untuk membahas soal.

“Selain itu, untuk menghadapi ujian nasional ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, diantaranya persiapan mental. Persiapan mental dapat dilakukan melalui do’a sendiri-sendiri maupun do’a bersama atau istighosah. Dan diharapkan, Kepala sekolah harus bisa memotivasi siswa dan orang tuanya, karena selama ini menurut penelitian, anak tidak lulus berawal dari rasa kecemasan”, jelasnya.

Dipaparkan mantan Kasi SLTP ini, bahwa keberhasilan menghadapi UN ditentukan oleh banyak faktor. Selain persiapan mental, juga diperlukan adanya persiapan materi, baik yang dilaksanakan disekolah dalam proses kbm dalam hal ini hubungan antara guru dengan siswa / kualitas pembelajaran, maupun dengan belajar dirumah. Niat, cara belajar dan waktu belajar, semuanya mempengaruhi. Dan waktu paling baik untuk belajar dirumah dilakukan sebelum dan sesudah sholat subuh, dan untuk menghafal rumus-rumus sebaiknya dilakukan sebelum tidur.

“Kemudian tempat belajar, tempat belajar jangan ditempat tidur, belajar dilakukan ditempat yang terang. Dan juga diminta dukungan dari orangtua, mohon untuk adanya dukungan, agar siswa bisa belajar. Diharapkan orang tua atau keluarga bisa menciptakan suasana belajar yang tenang dan menyenangkan, tidak adanya gangguan pada konsentrasi siswa saat belajar dirumah. Insya Allah, apabila semuanya dilakukan bisa berhasil”, imbuhnya.

Masih terkait dengan persiapan menghadapi Ujian Nasional, pihaknya juga tengah mempersiapkan untuk mengirimkan tenaga guru, guna mengikuti pelatihan dan pendalaman materi soal di Kota Pekalongan. “Kami punya rencana, akan mengirimkan guru melalui MGMP, terutama guru SMP, SMA dan SMK ke kota Pekalongan untuk mengikuti pelatihan dan pendalaman materi soal, karena kota Pekalongan sudah bekerja sama dengan Puspendik Depdiknas (Pusat Penelitian Pendidikan)”, katanya.

Dipaparkan Kabid Pendidikan SMP/Dikmen ini, selain program jangka pendek yang telah dipaparkannya, juga masih ada beberapa program lainnya, diantaranya, program jangka menengah yakni percepatan wajar dikdas dan program jangka panjang untuk mendukung provinsi jateng sebagai provinsi vocasi atau provinsi yang jumlah SMK nya 70 % dan SMA nya 30%.

“Dalam hal ini, selain meningkatkan sekolah-sekolah menengah kaitannya dengan wajardikdas 9 tahun, kami juga ingin menumbuhkembangkan sekolah-sekolah SMK di Kabupaten Batang. Dan diharapkan, tahun 2009-2010 muncul sekolah rintisan berstandar internasional, rencananya SMP Negeri 3 Batang yang masih dalam tahap persiapan, dan yang masih diusulkan SMA Negeri 1 Batang dan SMK Negeri 1 Batang”, jelasnya.

Pihaknya berharap, kaitanya dengan persiapan ujian nasional yang telah mencapai prestasi SMP peringkat 26, SMA Ipa peringkat 17, SMA Ips peringkat 12 dan SMK Peringkat 27, diharapkan untuk semua pihak memberikan motivasi, terutama orang tua, dan guru-guru memberikan pembelajaran dengan didasari rasa ikhlas agar memberikan manfaat kepada anak didik. “Sehingga diharapkan, Kabupaten Batang bisa meningkatkan peringkat dalam perolehan nilai ujian nasional”, pungkasnya. (Trie)

SMP Negeri 1 Batang

Dulu dan Sekarang

SMP Negeri 1 Batang berdiri tahun 1965, terletak di di tepi jalur Pantura pulau Jawa, tepatnya di jalan Jendral Sudirman Batang yang merupakan jalur utama Jakarta - Semarang. Jalan ini dulu dikenal dengan sebutan jalan Daendels, karena menurut catatan sejarah jalan ini dibuat pada masa pendudukan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal HW.Daendels. Bangunan sekolah ini juga merupakan peninggalan Belanda, dan sampai sekarang masih tampak asli arsitekturnya, hanya di beberapa bagian sudah direnovasi.

SMP Negeri 1 Batang yang terletak di Jl. Jenderal Sudirman No. 15 Batang didirikan pada tahun 1958 yang perintis pendirinya oleh Darmo Pranoto. Mula pertama gedung SMP Negeri 1 Batang ini lokasinya menempati gedung bekas SGBN Kabupaten Batang, karena berdirinya SMP Negeri 1 Batang ini merupakan transfer dari SGBN Kabupaten Batang yang berada dikompleks pendopo Kabupaten Batang.

Maka pada tanggal 15 Mei 1960 menerima surat kenegrian dari menteri P&K yang pada waktu itu diwakili oleh Nahar dengan nomor SK :187/SK/B/II. Kepala sekolah yang ditunjuk saat itu Prapto Prawiro Pranoto. Berkisar tahun 1965, SMP Negeri 1 Batang pindah kegedung bekas HIS (gedung yang hingga kini masih dipergunakan), yakni Jl. Jenderal Sudirman No. 15 Batang dengan penambahan lokal-lokal baru, hingga sekarang ini SMP Negeri 1 Batang memiliki 16 lokal untuk ruang kelas, ditambah Ruang Kepala Sekolah, Kantor Tata Usaha, Ruang Guru, Ruang Kelas, Laboratorium IPA, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Musholla, Ruang Kesenian/Musik, Perpustakaan, Ruang BP/BK, Ruang UKS, Ruang OSIS & Pramuka, Ruang Penjaga Sekolah, Tempat Parkir Guru, Tempat Parkir Siswa, Kamar Kecil Guru dan Kamar Kecil Siswa.

SMP Negeri 1 Batang sejak keberadaannya telah mengalami beberapa kali pergantian kepala sekolah yang bertanggung jawab tetang persekolahannya, baik dalam tanggung jawab ke dalam (Intra) maupun tanggungjawab ke luar (ekstra). Adapun nama-nama kepala sekolah yang telah memimpin SMP Negeri 1 Batang antara lain Prapto Prawiro Pranoto, Darmo Pranoto, Soewondo, Sri Subroto, Kudonowarso, Yunan Thoha, Sumarno, Suharto, Siti Suprapti, Sarino Mangun Pranoto, Sugito, S.Pd, Sunjoto, S.Pd, Dra. Endang Pujiarti, MM dan kepala sekolah yang hingga kini masih menjabat yakni Setyo Dwi Susyanto, S.Pd.

visi

# UNGGUL DALAM MUTU

# DISIPLIN DALAM TINDAKAN

# SANTUN DALAM PERILAKU

AYULIANTI WAHIDAH SURYANINGSIH SEMENTARA VAKUM DIDUNIA MODELLING


Berangkat dari sekedar menyalurkan hobby dan mengembangkan bakat, Ayulianti Wahidah Suryaningsih atau akrab disapa Ayu ini, ternyata mampu menyabet beberapa prestasi. Beberapa prestasi yang pernah diraih diantaranya sebagai model terbaik Elite Model Indonesia Se Jawa Tengah dan Jawa Barat tahun 2001, Juara Photogenic pada pemilihan Top Model Busana Muslim dan Batik tahun 2002, Juara II Pose Model pemilihan Putra-Putri Batik di Hotel Jayadipa tahun 2001, Juara I Photogenic Top Model Casual Trend 2003, Model Terbaik Pemilihan Bintang Idola Busana Muslim tahun 2006, Model Terbaik Pemilihan Putra-Putri Model Kacamata tahun 2007 dan Semi Finalis Wajah Model Remaja On Air tahun 2008 di Jakarta.

Namun, menurut penuturan dara manis kelahiran Batang, 13 Juli 1991 ini, beberapa prestasi yang telah terukir sementara akan petikemaskan dulu. Mengingat, siswi kelas 3 IPA 1 SMA Negeri 2 Batang ini tengah mempersiapkan diri guna menghadapi ujian nasional. “Untuk sementara, dunia modeling saya tinggalkan dulu, karena saat ini saya masih konsentrasi mempersiapkan diri menghadapi ujian”, tuturnya lirih sembari belajar ketika ditemui dikediamannya di Jl. Ki Mangun Sarkoro Dracik Kampus Batang.

Putri pertama dari 3 bersaudara pasangan Bambang Sutedjo Tri Yunanto, Bsc dan Lestariningsih ini memulai kiprahnya dibidang modeling sejak tahun 2001 dan ternyata, hobbinya yang suka berpose saat dijepret sang ayah mengantarkan dirinya menjadi model terbaik tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Elite Modelling. “Pada awalnya suka bergaya dan berpose saat di foto, dan saat awal mengikuti bidang ini, bisa langsung menyabet juara yang diselenggarakan oleh Elite Model”, jelas sang ayah.

Diakui sang Ayah yang juga selaku Kasi Kesiswaan Bidang TKSD Disdik Pora Kabupaten Batang, Cucu ke-6 dari Romo Yunan Thoha dan kakak dari Isnaning Aprilianti NA, dan Salma Putri ini selalu mendapat support dari keluarga dan hingga sekarang, dunia modeling masih tetap ditekuninya. “Walaupun aktif dibidang modeling, tapi jangan sampai meninggalkan kiprahnya disekolah, kenyataannya saat ini masih vakum, untuk fokus pada ujian”, imbuh mas Bambang.

Ketika ditanya tentang cita-citanya, alumni SMP Negeri 3 Batang yang mempunyai hobby menyanyi dan berkesibukan belajar tiap hari ini, enggan menapaki profesi sebagai pegawai negeri. “Cita-cita saya ingin menjadi pegawai swasta khususnya dibidang Perbankan”, jawab gadis yang mempunyai motto Hidup Sederhana tapi bermakna ini sembari pamit untuk berangkat les. (Trie)

Joko Santoso Budiharjo, S.Pd “Bekerja Keras Hukumnya Wajib”

Semenjak berkiprah di Kabupaten Batang akhir tahun 1978, Joko Santoso Budiharjo, S.Pd Kelahiran Sragen 15 Juni 1959 yang lebih akrab dengan nama panggilan Budi Joss ini berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Batang. Hal ini diwujudkannya dengan memulai kiprah untuk mencerdaskan generasi penerus Kabupaten Batang dengan mengajar di SD Negeri Sodong 01 pada tahun 1978, kemudian pada tahun 1982 di SD Negeri Wonotunggal I yang selanjutnya pada tahun 2003 diangkat menjadi kepala sekolah SD Negeri Silurah 01, dan pada tahun 2007 memimpin SD Negeri Gringgingsari serta tahun 2008 selaku kepala sekolah di SD Negeri Penangkan yang mengantarkan dirinya pada akhir tahun 2008 lalu diangkat menjadi Pengawas TK/SD UPT Disdik Pora Kecamatan Kandeman.

Dengan motto “Kerja Keras Hukumnya Wajib”, warga RT.02 RW. 02 Desa Brayo Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang ini juga berkiprah selaku Direktur marketing CV. DKG (Dwi Kaharjaning Gesang), Petani, dan juga turut mendukung istri tercinta dalam kegiatan Rias Pengantin. “Semuanya perlu kita coba, karena belum pasti semuanya mendapatkan hasil, semuanya Lilahita’allah”, katanya singkat.

Dituturkan suami dari Siti Sundari yang pernah meraih Juara II Guru Berprestasi di Kabupaten Batang tahun 2006 ini, bahwa dirinya ingin sekali mengubah sistem pendidikan dari fungsi pengawas ke sekolah-sekolah. “Pengawas itu mempunyai tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh dengan melaksanakan penilaian dan pembinaan dari segi teknis pendidikan dan administrasi pada satuan pendidikan, dan pengawas harus membantu sekolah sekolah yang akan diakreditasi, karena peran seorang pengawas sangat dibutuhkan, yakni kaitannya dalam peningkatkan mutu pendidikan, memberikan wawasan kepada guru-guru melalui penambahan ilmu dan ini hendaknya dilakukan secara periodik”, katanya.

Selain itu, dipaparkan ayah dari Surya Budi Ranjaya dan Nadia Rahmadani ini, bahwa tugas pokok pengawas adalah menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya.

“Tugas menilai dan membina bukanlah tugas yang ringan, yang sekedar datang berkunjung ke sekolah untuk berbincang-bincang sejenak dan setelah itu pulang tanpa ada tidak lanjutnya. Tugas menilai dan membina membutuhkan kemampuan dalam hal kecermatan melihat kondisi sekolah, ketajaman analisis dan sintesis, ketepatan memberikan treatment yang diperlukan, serta komunikasi yang baik antara pengawas sekolah dengan setiap individu di sekolah. Arti pembinaan sendiri adalah memberikan arahan, bimbingan, contoh dan saran dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, untuk itu diperlukan keteladanan dari pihak pengawas sekolah dalam melaksanakan tugasnya”, imbuhnya.

Hal kedua yang terpenting menurutnya adalah kemampuan yang memadai. Peran pengawas itu vital atau sangat penting. Pengawas sekolah lah yang menjadi ujung tombak penjamin mutu pendidikan. Sekalipun para guru telah dilatih mengenai kurikulum baru, atau pun berbagai inovasi dalam pembelajaran, di lapangan mereka akan mengalami kesulitan dan tantangan. Disinilah pentingnya peran pengawas.

“Pengawaslah yang diharapkan dapat memberikan masukan, saran dan bahkan meningkatkan motivasi dan semangat para guru agar tidak patah arang dalam mencoba menerapkan gagasan, pengetahuan dan keterampilan mereka di kelas”, jelasnya.

Ditambahkan Budi Joss, bahwa kemampuan yang dibutuhkan seorang pengawas, haruslah utuh. Kepala sekolah masih memerlukan bimbingan dalam melaksanakan manajemen yang transparan dan akuntabel, dalam menerapkan kepemimpinan partisipatif. Para guru sangat memerlukan bantuan teknis dalam mengelola pembelajaran di kelasnya. Kemampuan lain yang juga penting adalah kemampuan dalam melaksanakan teknis supervisi.

“Manakala kemampuan di atas tidak dimiliki pengawas, jangan terkejut bila yang kita temukan adalah pengawas yang "tidak dihargai" oleh para guru dan kepala sekolah. Mungkin ada pengawas yang bangga karena para guru dan kepala sekolah takut dengannya. Sungguh sayang. Karena rasa takut guru terhadap pengawas, sungguh berbeda dengan rasa hormat. Sungguh ironis karena seharusnya pengawas menjadi figur yang dicintai dan selalu diharapkan kehadirannya oleh para guru”, pungkasnya. (Trie)


Drs. Purwoto - Kepala UPT Disdik Pora Bandar : “Keberhasilan UASBN Merupakan Prestasi Komulatif”

Hasil UASBN tahun 2007/2008 di wilayah UPT Disdik Pora Kecamatan Bandar yang sudah bagus, diharapkan untuk tahun ini agar bisa meningkat, minimal harus selalu bagus. Demikian yang disampaikan kepala UPT Disdik Pora Bandar, Drs. Purwoto kepada tim liputan JPBB diruangannya beberapa waktu lalu.

Dipaparkan pria kelahiran 28 Maret 1958 ini, bahwa hasil UASBN yang tertinggi di wilayah Bandar untuk tahun lalu adalah 27,00 untuk 3 mata pelajaran, dengan asumsi rata-rata 9. “Untuk mata pelajaran IPA nilai tertinggi 9,25, mata pelajaran Matematika dengan nilai 10 dan mata pelajaran Bahasa Indonesia nilai tertinggi 9,2”, paparnya.

Guna menghadapi UASBN pada tahun ajaran 2008/2009 ini, pihaknya tengah melaksanakan beberapa persiapan, yang diantaranya sedang menggalakkan untuk memberikan les tambahan kepada siswa, mengadakan latihan-latihan soal maupun try out, pemberian dorongan/motivasi kepada guru dan kepala sekolah serta memberikan trik-trik cara pembelajaran yang maksimal.

“Selain dari rapat, kita juga memotivasi lewat kunjungan- kunjungan UPTD. Dalam konteks ini, kami memotivasi satuan pendidikan bahwa yang menuju ujian bukan hanya prestasi khusus guru kelas 6, tapi merupakan prestasi komulatif guru kelas 1 hingga kelas 6. Jadi, guru kelas 1 dan 2 adalah sebagai tonggak untuk pemahaman membaca dan menulis kalimat soal”, paparnya.

Adapun trik yang disampaikan pihaknya adalah metode lafal lambat, yang merupakan penggabungan dari metode SAS (Strukture Analisis Synthetic) dan Eja (Pengejaan).

“Pada awal kami berkunjung kegugus, kami berikan pemahaman trik-trik dengan metode baru yakni metode lafal lambat, atau metode alternatif gabungan dari metode SAS (Strukture Analisis Synthetic) dan Eja (Pengejaan)”, jelasnya.

Menurutnya, apabila metode lafal lambat ini dilaksanakan maka akan membuahkan hasil. Dan metode ini telah disosialisasikan melalui KKG untuk kelas 1 dan 2.

“Upaya kami tidak hanya berhenti di kelas 6 saja, namun untuk membuahkan hasil yang maksimal, perlu adanya program jangka panjang, yakni menggunakan metode tersebut. Harapan kami, UASBN untuk tahun ajaran ini bisa meningkat, baik dari segi kualitas dan kuantitasnya”, pungkasnya. (Trie)

Hj. Kamilah, S.Pd, M.Pd – Kepala UPT Disdik Pora Warungasem : “Pendidikan dan Kedisiplinan Harap Ditingkatkan”


Sejak menjabat sebagai Kepala UPT Disdik Pora Warungasem, Hj. Kamilah, S.Pd, M.Pd berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan diwilayah yang sudah dipimpinnya sejak tanggal 30 Desember 2008 lalu.

Dikatakan wanita kelahiran Tegal 5 Oktober 1956 ini, guna mendongkrak peningkatan mutu di Kecamatan Warungasem, pihaknya menginginkan jajaran pendidik diwilayahnya, hendaknya sudah berkualifikasi akademik S1.

“Ini menjadi program kami untuk meningkatkan mutu pendidikan di warungasem dengan mendorong jajaran pendidik atau guru-guru kami minimal harus berkualifikasi S1, dan kami ingin meningkatkan mutu kepala sekolah agar jujur, transparan, serta berdisiplin waktu”, katanya.

Menurut mantan Pengawas TKSD Kecamatan Tulis yang kini membawahi 24 SD Negeri, 9 MI, 11 TK dan 9 RA diwilayah Warungasem ini, hal tersebut sudah disosialisasikan melalui konsolidasi dan koordinasi dengan kepala sekolah, dan jajaran lainnya.

“Selain dalam rangka pengenalan, kami juga melakukan pembinaan-pembinaan, baik melalui kegiatan-kegiatan KKG, dengan tujuan peningkatan mutu dan menciptakan kondusifitas pendidikan di Warungasem”, imbuhnya.

Menyikapi persiapan pelaksanaan UASBN, warga Jl. Gajahmada Gg. Sriti No. 108 Batang ini berharap agar hasil dari UASBN diwilayah yang dipimpinnya ini agar lebih baik dari tahun kemarin.

“Dengan adanya UASBN, kita sudah melakukan banyak persiapan, salah satu diantaranya adalah menambah jam belajar. Kami berharap agar Pendidikan dan Kedisiplinan untuk ditingkatkan, guna pencapaian mutu pendidikan di kecamatan Warungasem yang maksimal”, pungkasnya. (Trie)